Sudah dua hari setelah pernikahannya dengan Huda, kini Samiera telah berpindah tempat tinggal. Di sebuah rumah mewah yang terletak tidak jauh dari kediaman keluarga Adnan, dengan tujuan agar lebih mudah jika terjadi sesuatu dengan pasangan baru itu. Huda belum juga bersikap baik pada Samiera, walaupun sudah kesekian kali ia menyentuh tubuh istrinya. Hatinya masih saja diliputi perasaan marah dan kecewa akan masa lalu Samiera.
Menyadari perasaan Huda membuat Samiera tidak ingin berharap lebih dengan hubungan pernikahan mereka. Karena ia hanya ingin berubah menjadi lebih baik lagi dan terhindar dari hal buruk yang pernah ia lakukan di masa lalu. Setidaknya sekarang ia memiliki lelaki yang benar untuknya, bukan lagi seseorang yang ia cintai namun tidak dapat ia gapai.
Memikirkan bagaimana perasaanya pada Rishyad, lelaki itu memang belum sepenuhnya hilang dari hati dan pikirannya. Terlebih lagi setelah semua hal yang mereka lalui setahun terakhir dan segala perlakuan manis pria itu padanya. Semuanya sangat memabukkan bagi Samiera yang belum pernah menjalin kasih dengan siapapun. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Rishyad yang membuatnya jatuh cinta dan melanggar norma yang ada. Menjadi perempuan simpanan dari seorang pria beristri, walaupun sebenarnya ia bukanlah seorang w*************a.
Samiera telah kembali bekerja di kantor dan pagi ini ia berangkat bersama dengan Huda. Karena katanya Huda tidak ingin ada berita tentang pernikahan dadakan mereka yang sebenarnya sangat tidak beralasan. Sekali lagi Samiera hanya menuruti keinginan suaminya tanpa ada keinginan untuk membantah. Karena dari sifatnya Huda sangat tidak suka jika dibantah dan Samiera paham benar itu.
“Kau sudah berpaling padaku, Jalang?” tanya Huda yang fokus mengendarai mobilnya tanpa berpaling pada Samiera.
“Apa, Mas?” Samiera mengabaikan sebutan yang biasa Huda ucapkan padanya, setidaknya ia sudha mencoba untuk bertahan dengan semua perlakuan suaminya.
Setidaknya ia pernah mencoba untuk bertahan dalam pernikahan mereka, hanya saja semua kembali pada keduanya. Ingin membatalkan atau tetap melanjutkan pernikahannya seperti keinginan Ammar Adnan.
“Jangan terus menatapku, aku bukan om Rishyad,” decihnya melirik Samiera sekilas.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Mas,” sanggah Samiera yang tidak suka jika Huda selalu membawa-bawa nama Rishyad.
Bagaimana ia bisa melupakan pria itu dengan mudah jika Huda selalu saja menyebutkan namanya. Tapi percuma saja menyanggah perkataan Huda yang memang pada dasarnya keras kepala, setidaknya itulah yang ia tahu dari keluarga Adnan. Sepanjang perjalan menuju kantor keduanya saling diam tidak bicara, bahkan suara musik atau radio pun tidak ada dalam mobil mewah Huda. Hanya deru suara mesin yang mengiringi suasana canggung di antara keduanya, terlebih lagi Huda yang terus merutuki dirinya sendiri dalam hati. Karena ia kehilangan kontrol diri dan begitu menikmati tubuh istrinya.
Sekali lagi ia teringat akan wajah Samiera ketika menikmati cumbuannya dan seketika itu juga wajah Rishyad muncul dalam otaknya. Telinganya seakan mendengar Samiera memanggil nama omnya dengan sangat lembut dan mesra. Mata Huda sudah memerah dan panas karena menahan emosi yang tiba-tiba saja menyeruak kedalam relung hati dan pikirannya. Memikirkan itu semua membuatnya hilang akal, hingga dengan cepat ia membanting kendali setir dan menepikannya dipinggir jalan.
Hal ini membuat Samiera beringsut mundur karena ia tahu suaminya ini sedang dalam mood yang tidak baik. Jelas sekali terlihat dari sorot matanya yang berkabut dan tajam, rahangnya mengeras sempurna seperti menahan ledakan emosi. Sungguh kali ini Samiera lebih takut dari sebelumnya, karena lelaki itu hanya diam menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga satu kalimat yang berhasil membuat air mata Samiera luruh seketika.
“Apa kau selalu membayangkan om Rishyad jika aku menyentuhmu?”
“Tidak pernah, Mas,” jawabnya pasti dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Huda semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka membuat Samiera semakin beringsut mundur. Ia masih ingat saat malam pengantin lelaki ini mencengkram wajahnya dengan keras sampai ia merasa kesakitan. Samiera tidak ingin hal itu terulang lagi saat ia sedang dalam perjalanan menuju kantor.
Rupanya dugaannya salah karena saat ini suaminya sedang menghapus airmatanya dengan ibu jari.
“Berhentilah menangis, kamu membuatku muak,” bisiknya di telinga Samiera yang baru saja merasakan kelembutan Huda namun secepat itu juga dihempaskan.
Setelah itu Huda kembali memacu mobilnya di jalanan Ibu Kota yang padat saat pagi seperti ini, mengabaikan Samiera yang masih terisak. Sungguh ia kesal setiap kali melihat wanita itu merasa amat sangat terluka dengan pernikahan ini. Huda bahkan berpikir bahwa memang tidak ada tempat lagi di hati Samiera untuknya.
***
Sudah lebih sebulan pernikahannya dengan Samiera dan Huda masih memperlakukan wanita yang jadi istrinya itu dengan sesuka hatinya. Tidak ada kata-kata manis yang keluar dari mulut Huda selain saat ia meminta haknya sebagai seorang suami. Entah mengapa rasa cinta dan bencinya pada Samiera selalu hadir secara bersamaan. Membuatnya bingung untuk menyikapi semua ini, walaupun memang ia merasakan jika wanita itu begitu lembut padanya.
Seperti pagi ini Huda yang telah selesai membersihkan diri mendapati pakaian kerjanya yang telah disiapkan Samiera di tepi ranjang. Hal yang selalu ia temukan setiap pagi karena Samiera selalu mempersiapkan keperluannya. Sedikit senyum tercipta di wajah tampannya, namun seketika itu juga hilang saat mendengar ponsel istrinya berdering. Menampilkan nama seseorang yang selalu menjadi alasan kemarahannya pada Samiera.
“Hallo, Ra,” sapa suara di seberang sana.
“Kenapa Om tidak berhenti mengganggu?” tanya Huda dengan rahang mengetat ketika mendengar suara di seberang sana.
“Mana, Ara?” suara Rishyad terdengar penuh penekanan.
“Ara? Di sini tidak ada yang bernama Ara, Om. Yang ada hanya Samiera, Nyonya Huda Adnan,” jawab Huda yang menyumpah serapah dalam hatinya.
Jika saja ia tidak ingat bahwa pria yang menghubungi istrinya ini adalah adik kandung sang ibu, mungkin saja saat ini ia sudah memaki Rishyad. Bahkan lebih buruknya ia akan menyerang Rishyad karena selalu mengganggu kehidupannya dan Samiera. Bukannya ia tidak tahu jika Rishyad selalu berusaha untuk menemui dan menghubungi istrinya. Bahkan pernah sekali ia melihat dan mendengar Samiera menangis saat Rishyad menghubungi, mengatakan bahwa tidak ingin diganggu dan membuat Huda marah. Hatinya terenyuh tiap kali mendengar ketakutan Samiera padanya.
“Huda! Jangan memperumit keadaan!” teriak Rishyad dari seberang sana.
“Memperumit? Huda yang memperumit? Bukannya Om yang selalu memperumit hidup sendiri dengan terus memikirkan wanita yang telah jadi istri keponakan Om,” ucap Huda sarkastik mengabaikan etika dan sopan santunnya pada Rishyad.
“Mana sopan santunmu, Huda? Bagaimanapun juga aku ini Om mu,” Rishyad menggeram saat mendapati keponakannya kini berani menantangnya.
“Ya sudah, Om. Huda tutup,” ia mematikan sambungan telepon dan melemparkan ponsel Samiera ke ranjang dengan emosi.
Masih pagi dan ia harus dibuat emosi oleh kegilaan Rishyad pada wanita yang kini telah jadi istrinya. Sungguh rasanya saat ini ia ingin menghajar omnya yang begitu kurang ajar merusak masa depan istrinya. Membuatnya membenci Samiera setengah mati, walau disaat yang bersamaan ia juga mencintainya.
Baru selesai Huda berpakaian, ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamar. Ia bisa mendengar panggilan beberapa pekerja di rumahnya yang terdengar panik. Sebenarnya apa yang terjadi, batin Huda yang sudah berjalan ke arah pintu kamar. Namun jantungnya mencelot keluar saat melihat tubuh Samiera yang tidak sadarkan diri berada dalam gendongan supir pribadinya. Segera ia ambil alih tubuh Samiera karena ia tidak pernah rela jika ada yang menyentuh miliknya, apalagi itu seorang istri baginya.
“Ada apa ini?” tanya Huda dengan berkacak pinggang di depan para pekerja setelah meletakkan tubuh Samiera di atas ranjang.
“Tadi Nyonya tiba-tiba mengeluh pusing dan mual, Tuan,” ucap Asih pembantu rumah tangga mereka.
“Lalu?” tanya Huda dengan wajah datar namun tatapan mata tajam menusuk.
“Saya ke ruang keluarga untuk ambil minyak kayu putih, tapi begitu kembali ke dapur Nyonya sudah pingsan, Tuan,” Asih menjelaskan apa yang terjadi pada Samiera.
“Baiklah, kalian semua bisa pergi. Dan kau Asih, apa istri saya sudah sarapan tadi?” tanya Huda menghentikan langkah Asih yang akan berjalan keluar bersama pekerja yang lain.
“Belum, Tuan. Karena biasanya Nyonya hanya mau sarapan bersama dengan Tuan saja,” ucap Asih yang kembali berjalan meninggalkan kamar Tuan dan Nyonyanya setelah mendapat anggukan halus dari Huda.
“Kamu kenapa? Apa sebeegitu tersiksanya menikah denganku, Samiera?” lirihnya sembari melepaskan jilbab yang menutupi kepala istrinya.
Huda berjalan ke arah nakas dan mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter keluarganya yang kebetulan memang sahabatnya. Matanya tidak lepas pandang dari wajah memucat Samiera yang terlihat sangat tidak baik-baik saja. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan makian yang keluar dari mulutnya semalam.
Karena kesal setelah melihat Samiera yang nampak bicara di pesta yang mereka hadiri, Huda segera menarik Samiera untuk pulang. Selama perjalanan ia mendiamkan istrinya yang terus saja menatapnya dengan tatapan terluka. Sekali lagi Huda membenci Samiera yang selalu menampilkan wajah itu padanya. Jadilah ia meluapkan semua emosi dan kekesalannya pada Samiera ketika telah berada di kamar. Mulutnya terus saja mengungkit masa lalu Samiera dengan Rishyad yang justru membuatnya semakin terluka, marah dan kecewa pada wanita itu. Tapi hatinya tidak pernah bisa berbohong kalau ia sangat membenci masa lalu Samiera dan bahkan masih sangat sulit untuk menerimanya.
Tidak lama dokter yang dihubungi Huda datang, lelaki tampan dalam balutan sneli menghampiri lelaki yang tengah sibuk di dapur. Pemandangan yang sangat langka, melihat Huda Adnan yang telah rapi dalam balutan kemeja berwarna navy dilapisi sebuah celemek berwarna coklat. Senyumnya mengembang melihat lelaki yang biasanya dingin itu bersikap hangat seperti sekarang ini.
Apalagi setelah mendapatkan telepon dari Huda yang mengatakan bahwa istrinya jatuh pingsan.
“Wah wah wah... Seorang Huda Adnan sedang memasak apa untuk istri tercinta?” kekehnya membuat Huda tersentak kaget setelah mematikan kompor.
“s**t! Ngagetin gue aja lo, Yu,” ucapnya yang berjalan ke arah kitchen counter untuk mengambil mangkuk yang telah disiapkannnya dari tadi.
“Ya, gue juga kaget liat lo masak begini,” ucap dokter yang bernama Bayu, sahabat Huda sejak SMP sampai SMA.
“Samiera sakit dan belum sarapan, jadi gue masakin bubur buat dia sebelum berangkat ke kantor,” Huda memasukkan bubur yang masih panas kedalam mangkuk.
“Romantis banget, lo,” kekehnya lagi dengan mengedikkan bahu.
“Ya sudah gue temenin ke kamar buat periksa dia, masih pingsan sih tadi waktu gue tinggal turun,” Huda berjalan menuju kamar tidurnya yang di lantai atas, diikuti oleh Bayu. Namun ia meminta Bayu untuk menunggu sebentar di luar karena saat ini Samiera sedang tidak meggunakan jilbabnya. Ia tidak ingin jika ada yang melihat rambut istrinya selain dirinya sendiri.
“Lama bener, lo,” kata Bayu saat pintu kamar terbuka menampilkan wajah pucat yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
Bayu terpaku di depan ranjang melihat wajah Samiera yang sepertinya tidak asing baginya dan mungkin memang ini bukan kali pertama melihat istri sahabatnya. Ia tidak datang ke pernikahan Huda karena ada dinas luar, jadilah ia belum melihat wanita seperti apa yang dinikahi Huda. Hanya saja wajah ini begitu tidak asing baginya, tapi apakah wanita ini pernah menjadi salah satu pasiennya.
“Cepetan periksa, nggak pake natap istri gue segitunya,” keluh Huda yang menyadari tatapan Bayu pada wajah manis Samiera.
Bayu tidak ingin berdebat dengan sahabatnya yang keras kepala ini, sehingga ia memilih untuk segera memeriksa keadaan Samiera. Ia mengambil stetoskop dari dalam tasnya bersamaan dengan alat ukur tensi. Memang tensi Samiera sangan rendah dan juga denyut jantungnya tidak stabil, tapi ada satu hal yang membuatnya tersenyum miris ke arah wajah pucat itu. Wajah yang menunjukkan betapa terlukanya ia saat ini.
“Selamat ya, Bro. Bentar lagi lo akan jadi ayah,” Bayu menyalami tangan Huda yang diam mematung tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Maksud lo dia hamil?” tanya Huda memastikan.
“Ya, istri lo hamil itu kabar baiknya.”
“Maksudnya ada kabar buruknya juga?” tanya Huda terlihat semakin cemas.
“Kabar buruknya kondisi dia tidak baik saat ini dan jangan membuatnya banyak pikiran karena itu akan berpengaruh pada kandungannya. Janin di dalam sana mungkin baru berusia beberapa minggu, aku tidak tahu pasti karena bukan dokter kandungan,” Bayu memberikan saran pada sahabatnya itu agar tidak membuat Samiera merasa tertekan.
Huda mengangguk dan tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang perkataan sahabatnya ini, karena ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menghampiri Samiera setelah mengantarkan Bayu keluar rumah.
Dikecupnya lembut puncak kepala Samiera yang masih belum sadarkan diri.
“Terima kasih karena kamu telah membuatnya ada,” ucap Huda sebelum berlalu meninggalkan kamar tidurnya.
Hari ini ia ada rapat penting jadi tidak bisa menemani Samiera di rumah, tadi ia juga telah menghubungi Dania sekretaris istrinya. Mengatakan bahwa Samiera tidak bisa datang ke kantor hari ini karena sakit dan perlu istirahat. Huda berjalan keluar rumah dengan membawa tas laptop di tangannya, namun langkahnya terhenti saat melihat Asih yang sedang berbincang dengan Asep, tukang kebun mereka.
“Sih, nanti kalau Nyonya sudah bangun tolong kasih bubur yang ada di meja makan tadi ya. Jangan bilang kalau saya yang masak, bilang saja kamu yang masak,” perintah Huda yang hanya diangguki oleh Asih.
Huda memasuki mobilnya dan segera memacunya keluar gerbang rumah. Setelahnya Asih dan Asep kembali berbincang, kali ini membahas tentang sikap Tuan di rumah ini. Yang menurut mereka sebenarnya cinta dan perhatian pada Nyonya mereka hanya saja terlalu gengsi. Bahkan mereka sering kali mendengar sepasang suami istri itu bertengkar, tapi selalu saja setiap pagi Huda menyiapkan teh jasmine kesukaan Samiera. Dan selalu menyusuh Asih mengatakan bahwa dialah yang membuatnya, bukan Huda.