Walau hati ini menangis pilu, tapi sayangku tetap akan abadi sampai akhir masa kamu tetap kunanti, hanya kamu yang aku sayangi. Sesungguhnya bukan maksud di hati untuk meninggalkan dirimu sayang. OH SAYANG, Aku melangkah pergi karena janji, bukan keinginanku untuk menjauhimu tapi aku mencari dirimu.
Hanya satu untuk dirimu, aku percaya padamu, Kasih aku akan menunggumu. Demi cintamu aku rela menanti meski sekian lama kita takkan bersua. Usah risaukan aku yang menanti, sungguh berat hatiku meninggalkan dirimu sayang. Air mata berlinang ini akan kembali kepada dirimu, setia ku takkan kuduakan, hanyalah dirimu kasih satu yang ku sayang yang takkan tergantikan. Semoga kamu dan aku satu hati sampai mati dan setia ini tak terganti hingga aku menangis pilu dan tetap abadi sampai akhir masa kau ku nanti. Hehehee... AKU BERNYANYI DALAM HATIKU.
Aku bingung harus kemana membawa hidup ini karena untuk pertama kalinya aku menyukai seseorang yang terus menolak keberadaanku! aku benci semua ini karena dia selalu mengumpat ketika aku bilang cinta. Feli tidak menyukaiku... dia berbeda dengan semua perempuan yang sangat antusias merelakan segalanya bagiku. Aku merasa ini seperti karma yang sedang terjadi padaku. Aku ingin sekali menemuimu Feli, tapi aku sangat frustasi dengan kenyataan, bahwa hanya aku yang menyukaimu. Dikantor, dirumah.. aku merasa seperti kehilangan sebagian diriku. Oh, Feli... Membayangkan tubuhnya saja sudah membuatku tegang.
Aku merasa dengan tinggi yang lumayan idealnya, kulit putih bersih, rambut hitam panjang dan lurus, terakhir bola mata yang sendu, belum lagi ukuran dadanya. Arggh... sangat cocok di tampilkan dalam satu tubuh bersamaku saat ini dengan gejolak yang sangat luar biasa dari dalam tubuhku.
Tiba-tiba aku terbayang satu pose bersama Feli, yang tidak dapat di lupakan. Argggh... aku harus nemui dia. Hingga aku berpikir untuk melampiaskannya tanpa wanita, di dalam kamar mandi. Tapi usahaku itu dalam melampiaskan tetap saja tidak bisa, malah keperkasaanku menjadi kebas dan perih seperti kulit yang terkikis.
Di sinilah aku, di depan apartemen Feli ini aku berusaha untuk masuk dan memberikan kejutan kepada Feli yang sedang berada di dalam apartemen. Berulang kali password kunci rumah
ini ku coba tetap saja selalu gagal. Hingga akhirnya aku memanggil Feli agar membukakan pintunya. “Fel... Feli! kamu ganti pasword ya! aku tahu kamu di dalam!” panggilanku belum di sahut juga.
Tapi tidak lama kemudian suara yang kunantikan segera menyahut. “Ya” aku mendengar suara sahutan dari Feli.
‘Kreyt...’ suara pintu terbuka. Ada kepala yang muncul dari balik pintu yang menunjukkan seorang wanita yang kunantikan, seiring kepala bawahku menegang seketika, dan otomatis terlihat bener-bener parah. Aku melihat rawut wajah cueknya, tapi aku tidak peduli. Seiring berjalannya waktu aku akan membuat dia menyukaiku. Aku langsung mengeratkan pelukakanku, karena ini situasi darurat. Dan aku takut Feli lagi-lagi mengerjaiku jadi aku berusaha langsung menghampirinya dan mengeratkan pelukanku. Dengan gejolak yang sangat tinggi aku langsung mengangkat pakaian yang di kenakannya. Hanya daster yang di pakai saat itu dan aku berpikir sangat mudah untuk membukanya. Aku menarik daster bagian bawahnya agar lebih mudah. Feli tak dapat menolak keinginanku karena aku telah menguasainya. “Argh!!” akhirnya Feli mengerang karena hentakan kerasku tanpa ada pemanasan dalam bercinta. “Sakit...” teriak Feli, yang membuat napsuku tambah menggebu. Tanpa banyak gerakan lain, aku lepaskan dasternya dan aku lemparkan
ke lantai. Gesekan antara milik kami dengan celana dalam yang sedikitku buka pada bagian bawahnya dengan memiringkannya, benar-benar aku telah menemukan sensasi dan membuatku hilang kendali. “Sakit… b******k!! kamu Angga!” ucap Feli yang meringis kesakitan.
“Eeerghhh...” erangku. Aku kumpulkan rambut panjang Feli dan aku buat sebagai pegangan posisi tegak lurus membelakanginya hingga tubuh Feli semakin condong dan menandakan dia menuju puncak. Walaupun feli memasang wajah yang tidak menghiraukan, aku yang tinggi pengalaman sangat paham. Aku merasa kami telah berada puncaknya, masih dengan posisi yang sama. Aku gapai dua benda sintal yang begitu padat dan berisi.
Aku turunkan sedikit bra yang terpasang hanya untuk menggapai bagian yang menonjol di bagian d**a itu dan terlihat ujung coklatnya yang sudah menegang. Aku remat dan aku putar kecil ujungnya membuat Feli terus merutuk. “b******k banget kamu Angga.” Dalam hitungan satu, dua, tiga. “Argh...” aku telah sampai ke puncaknya, sangat terasa nikmat. Tapi keperkasaanku belum menunjukkan kekalahan karena masih ingin melakukannya lagi, aku kembali memandang intens Feli dan mulai melumat bibirnya, sebab awal tadi belum dilakukan pemasan. Feli memanggil namaku dengan sedikit teriakan. Tapi ada yang mengganjal di dalam hatiku dan selalu bertanya sendiri.
**