Arman merasakan Nindya seperti orang asing. Bukan karena wajahnya berubah, wajah itu tetap sama. Pucat, sederhana, tanpa riasan mencolok. Namun ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Sorot mata itu. Dingin. Tegak. Tidak lagi menghindar.
“Kamu dengar apa yang kukatakan?” suara Arman mengeras. “Minta maaf pada ibuku.”
Nindya berdiri lurus. Tidak membungkuk. Tidak menunduk seperti biasanya.
“Aku dengar,” jawabnya tenang. “Dan jawabanku tetap sama. Tidak.”
Ibu mertua itu mendengus keras. “Kurang ajar! Sejak kapan kamu berani membantah suamimu?”
Nindya mengalihkan pandangan ke perempuan itu. “Sejak aku sadar diam tidak pernah menyelamatkanku.”
Kalimat itu membuat Arman tersentak.
“Apa maksudmu?” tanyanya tajam. “Kamu menyalahkan kami sekarang?”
Nindya tersenyum kecil bukan senyum hangat, melainkan senyum pahit penuh kesadaran. “Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya berhenti menyalahkan diriku sendiri.”
Suasana di ruang makan menjadi mencekam.
Arman mengepalkan tangannya. “Jangan bicara berputar-putar. Kamu tahu posisimu di rumah ini.”
Nindya melangkah mendekat satu langkah. Tidak agresif, tapi cukup dekat untuk menantang.
“Aku istrimu,” katanya. “Bukan pembantu, bukan beban, bukan properti.”
Ucapan itu seperti menyiram bensin ke api.
Arman tertawa sinis. “Istri?” Ia menggeleng pelan. “Apa yang sudah kamu lakukan sebagai istri? Tidak bisa memberi keturunan, tidak bisa menyenangkan suami…..”
“Cukup.”
Suara Nindya memotong tajam.
Arman terdiam sejenak, terkejut oleh nada itu.
“Kamu boleh merendahkanku,” lanjut Nindya pelan namun jelas, “tapi jangan berpikir aku akan terus menerima semua hinaanmu.”
Ibu mertua itu melangkah maju. “Arman, lihat sendiri! Dia sudah gila!”
Nindya menoleh. “Aku tidak gila. Aku hanya berhenti menjadi orang yang penakut.”
Arman menghembuskan napas kasar. “Kalau begitu,” katanya dingin, “kamu harus siap dengan konsekuensinya.”
“Konsekuensi apa?” tanya Nindya.
Arman menatapnya lurus. “Perceraian.”
Kata itu melayang di udara. Namun tidak seperti yang Arman harapkan, Nindya tidak terkejut, tdak memohon, dan bahkan tidak menangis.
Ia hanya mengangguk kecil. “Akhirnya,” katanya.
Alis Arman berkerut. “Akhirnya?”
“Ya,” jawab Nindya. “Akhirnya kamu mengatakannya tanpa bersembunyi di balik fitnah.”
Wajah Arman mengeras. “Jangan asal bicara.”
“Kalau begitu,” lanjut Nindya, “jangan menuduhku selingkuh hanya untuk membenarkan keputusanmu.”
Suara sendok yang jatuh ke lantai memecah keheningan. Ibu mertua itu menatap Nindya dengan wajah pucat.
“Jadi kamu mengaku?” sergahnya.
Nindya menggeleng. “Tidak. Aku menolak tuduhan itu.”
Arman menyeringai. “Kamu kira siapa yang akan percaya padamu?”
Nindya menatapnya lama. Terlalu lama. “Aku,” jawabnya akhirnya.
Arman tertawa kecil. “Kamu benar-benar berubah. Tapi jangan lupa satu hal.”
Ia melangkah mendekat, menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Nindya.
“Di rumah ini, aku yang menentukan segalanya.”
Nindya tidak mundur. Tidak berkedip.
“Dulu mungkin,” katanya. “Sekarang tidak lagi.”
Kalimat itu membuat Arman kehilangan senyumnya.
“Kamu pikir kamu siapa?” bisiknya marah.
Nindya menjawab pelan, namun penuh tekanan, “Perempuan yang tidak akan lagi membiarkan hidupnya ditentukan oleh pria yang tidak mencintainya.”
Ibu mertua itu terbatuk keras. “Arman! Jangan dengarkan omongannya! Dia hanya mencari perhatian!”
Namun Arman justru semakin gelisah. Ada sesuatu dalam cara Nindya berbicara, terstruktur, tajam, seperti orang yang tahu persis apa yang ia katakan.
Bukan gaya Nindya yang ia kenal.
“Kamu bicara seperti orang lain,” kata Arman akhirnya. “Seperti bukan dirimu.”
Nindya tersenyum tipis. “Mungkin karena selama ini kamu tidak pernah benar-benar mengenalku.”
Ia berbalik, berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menunggu reaksi siapa pun. Langkahnya mantap.
Di dalam dadanya, Nadia merasakan detak jantung yang stabil. Tidak ada ketakutan. Tidak ada penyesalan.
“Dia mulai bingung,” batinnya tenang. “Dan pria yang bingung… mudah membuat kesalahan.”
Di belakangnya, Arman berdiri kaku, perasaan asing merayap naik ke dadanya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa kehilangan kendali atas istrinya sendiri. Dan itu membuatnya marah. Sangat marah.
Siang itu, Arman duduk di salah satu restoran eksklusif di pusat perbelanjaan terbesar di kota, dari lantai atas ia bisa melihat keramaian mall dengan orang-orang yang berlalu lalang santai, sangat kontras dengan pikirannya yang kusut; setelan jasnya tampak rapi dengan jam mahal melingkar di pergelangan tangan, membuat hidupnya terlihat sempurna di mata banyak orang, namun sejak pagi satu wajah terus mengusik pikirannya dan tidak mau pergi.
“Maaf, aku telat.”
Arman menoleh. Seorang pria dengan kemeja putih bersih berdiri di hadapannya. Wajahnya tenang, pembawaannya khas seseorang yang terbiasa menghadapi hidup dan mati.
“Tidak apa,” jawab Arman singkat.
Dr. Bima Santosa duduk di seberangnya. Seorang dokter spesialis jantung yang reputasinya sudah dikenal luas dan satu dari sedikit orang yang mengenal Arman sejak masa kuliah.
Mereka memesan makan siang. Baru setelah pelayan pergi, Arman langsung membuka pembicaraan.
“Bim, aku rasa ada yang aneh dengan Nindya.”
Bima mengangkat alis. “Aneh bagaimana?”
“Dia berubah,” kata Arman cepat. “Bukan sekadar sikap. Cara bicara, tatapan matanya. Seperti…bukan istriku.”
Bima menyandarkan punggung, menatap sahabatnya dengan tenang. “Orang bisa berubah, Man. Apalagi setelah ditekan lama.”
“Ini beda,” bantah Arman. “Dia berani melawan ibuku. Menolak minta maaf padanya. Itu tidak pernah terjadi.”
Bima terdiam sejenak. “Apa yang terjadi sebelum perubahan itu?”
Arman menghela napas. “Dia pingsan semalam. Mendadak.”
“Pingsan?” Bima langsung waspada. “Apa penyebabnya?”
“Stres,” jawab Arman singkat. Terlalu singkat.
Bima menatapnya tajam. “Stres karena apa?”
Arman mengalihkan pandangan ke luar jendela kaca. “Aku ingin menceraikannya.”
Bima tidak langsung merespons. Ia hanya mengaduk minumannya pelan.
“Sebagai dokter,” katanya akhirnya, “aku sering melihat pasien yang tampak baik-baik saja, padahal jantungnya sudah hampir berhenti.”
Arman menoleh. “Apa maksudmu?”
“Tekanan ekstrem bisa mengubah seseorang,” lanjut Bima. “Kadang bukan membuatnya hancur tapi membuatnya bangkit dengan cara yang tidak terduga.”
Arman mengepalkan rahangnya. “Dia bicara seolah tidak takut kehilangan apa pun.”
“Itu tanda berbahaya,” jawab Bima jujur.
“Berbahaya?” Arman mengerutkan kening.
“Bagi orang yang selama ini merasa berkuasa,” ujar Bima. “Perempuan yang tidak takut biasanya sudah sampai di batas.”
Arman terdiam.
“Menurutmu,” katanya pelan, “dia bisa pura-pura?”
Bima menatap sahabatnya lama. “Atau mungkin kamu baru melihat dirinya yang sebenarnya.” Pertanyaan itu menusuk.
Pelayan datang membawa hidangan, namun Arman tidak menyentuhnya. Selera makannya lenyap.
Jika Nindya benar-benar berubah…jika ia tidak lagi bisa ditekan…maka semua rencana yang selama ini ia siapkan akan runtuh satu per satu. Dan Arman tidak suka kalau kehilangan kendali atas diri istrinya.
Sementara itu, di tempat lain, Nindya menutup buku catatan kecilnya dengan tenang.
Ia tidak tahu Arman sedang membicarakannya, namun ia bisa merasakannya. Rasa gelisah itu… biasanya datang dari orang yang mulai takut kehilangan kuasa