Sumpah

1182 Words
Malam turun perlahan, menelan sisa cahaya sore di taman kota. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan bayangan panjang di aspal yang masih lembap. Udara dingin menyentuh kulit Nindya, namun dadanya justru terasa lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sedang dikejar siapa pun. Nindya duduk di bangku taman yang sepi. Pepohonan tinggi berdiri seperti saksi bisu. Ia memperhatikan buku catatan kecil yang ada di tangannya dan menatap sampul lusuhnya beberapa detik. “Aneh,” gumamnya pelan. “Benda sekecil ini terasa lebih jujur daripada seluruh rumah itu.” Ia membuka halaman kosong, ujung pena sempat bergetar sebelum akhirnya menyentuh kertas. Ingatan lama kembali muncul, bukan milik Nadia, melainkan milik Nindya. Meja makan yang dingin. Kursi kosong di hadapannya. Tatapan ibu mertua yang selalu penuh penilaian. Kata-kata yang tidak pernah berteriak, tapi perlahan mengikis harga diri. Dulu, Nindya percaya diam adalah cara bertahan. “Aku salah,” bisiknya kini. “Diam hanya membuat mereka semakin berani.” Ia menulis satu kalimat dengan huruf tegas. ‘Aku tidak akan mati sebagai korban.’ Kalimat itu terasa seperti pengakuan sekaligus keputusan. Nindya menarik napas panjang, seolah baru saja melepas beban yang selama ini menekan dadanya. Tidak jauh dari taman, suara kendaraan melintas. Ia melirik ponselnya, lalu berdiri dan berjalan ke tepi jalan untuk menunggu taksi. Lampu kota terasa terlalu terang, namun hatinya tetap waspada. “Semoga cepat dapat,” gumamnya, melirik jam. Beberapa menit berlalu. Taksi tidak kunjung datang. Saat itulah sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. Kaca jendela terbuka perlahan. “Nindya?” Ia menoleh refleks. Seorang pria dengan kemeja rapi dan wajah tenang menatapnya dari balik kemudi. “Dokter Bima?” tanyanya ragu. Bima tersenyum kecil. “Aku tidak salah orang, berarti.” Nindya terdiam sejenak. Ia tidak menyangka akan bertemu sahabat Arman di saat seperti ini. “Kamu sendirian?” tanya Bima, nada suaranya datar namun sopan. “Iya,” jawab Nindya jujur. “Sedang menunggu taksi.” Bima melirik jalan yang sepi. “Sudah lama?” “Lumayan,” sahut Nindya. “Sepertinya malam ini mereka malas lewat.” Bima membuka pintu mobil. “Kalau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu. Sekedar sampai rumah.” Nindya ragu sesaat. Namun entah mengapa, tidak ada rasa terancam. Tidak ada tekanan seperti saat bersama Arman. “Baik,” katanya akhirnya. “Terima kasih.” Di dalam mobil, suasana hening beberapa detik. Mesin menyala halus, dan mobil mulai melaju menjauh dari taman. Lampu kota memantul di kaca depan. “Kamu kelihatan lelah,” ujar Bima setelah beberapa saat. Nindya tersenyum tipis. “Mungkin memang begitu.” “Bukan lelah fisik,” lanjut Bima. “Lebih seperti orang yang baru selesai berperang.” Kalimat itu membuat Nindya menoleh. “Dokter selalu sedetail itu?” tanyanya. Bima tertawa pelan. “Kebiasaan. Pasien sering berbohong soal rasa sakit. Aku belajar membaca yang tidak mereka ucapkan.” Nindya menatap jalan. “Kalau begitu, aku pasien yang buruk.” “Atau pasien yang terlalu lama menahan diri,” balas Bima tenang. Kata-kata itu tidak menghakimi. Tidak memaksa. Hanya observasi. Dan anehnya, itu membuat d**a Nindya terasa lebih ringan. Mobil terus melaju. Lampu merah menghentikan mereka sejenak. “Kamu tahu,” kata Bima pelan, “Arman bilang kamu berubah.” Nindya mengangkat alis. “Apa berubah itu buruk?” “Tidak selalu,” jawab Bima. “Kadang perubahan adalah tanda seseorang akhirnya hidup.” Nindya tersenyum kecil. “Kedengarannya seperti diagnosis.” “Bisa jadi,” sahut Bima. “Atau sekadar pengakuan.” Beberapa detik hening kembali tercipta. Namun kali ini, tidak terasa canggung. “Aku tidak akan bertanya hal-hal yang tidak ingin kamu jawab,” lanjut Bima. “Tapi kalau kamu butuh seseorang untuk bicara, kamu tidak harus sendirian.” Nindya terdiam. Ia tidak menjawab, tapi kata-kata itu tersimpan rapi di benaknya. Mobil itu melambat saat memasuki kawasan perumahan elite. Gerbang tinggi terbuka otomatis, membiarkan kendaraan Bima melaju ke kompleks yang sunyi dan rapi. Lampu taman menyala lembut, menyorot rumah megah di ujung jalan. Nindya menatap keluar jendela, wajahnya tenang. “Kita sudah sampai” tanya Bima, memecah keheningan. “Iya,” jawab Nindya singkat. Bima tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk, seolah memahami bahwa kata sementara menyimpan lebih banyak hal daripada yang perlu diucapkan. Mobil berhenti tepat di depan rumah besar bercat krem itu, bangunan yang selama ini menjadi simbol tekanan dan kekuasaan yang membungkam. “Terima kasih sudah mengantarku,” kata Nindya sambil membuka pintu. “Jaga dirimu,” balas Bima dengan senyum tipis. Nindya mengangguk. Sebelum menutup pintu, ia menoleh kembali. “Dokter…terima kasih. Bukan cuma karena tumpangan.” Bima menatapnya sesaat, lalu tersenyum hangat. “Aku senang bisa membantu.” Saat mobil itu berbalik arah, Nindya berdiri beberapa detik di depan rumah. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung merasa tercekik oleh bangunan itu. Ada sisa rasa hangat di dadanya, singkat, namun nyata. Ia tersenyum kecil. Senyum yang jujur. Senyum itu tidak luput dari pengamatan seseorang di lantai atas. Arman berdiri di balik jendela kamarnya, tirai sedikit terbuka. Awalnya ia hanya ingin memastikan Nindya pulang. Namun langkahnya terhenti. Mobil asing. Seorang pria. Nindya turun. Lalu senyum itu. Bukan senyum datar yang biasa ia lihat. Bukan wajah lelah yang selalu ia anggap wajar. Senyum Nindya tampak ringan dan hidup. Rahang Arman mengeras. “Siapa dia?” gumamnya. Butuh beberapa detik sampai ia mengenali wajah pria itu. “Bima…” Ada rasa asing menggelitik dadanya. Bukan marah. Bukan curiga penuh. Melainkan sesuatu yang tidak ia sukai. Perasaan cemburu. Perasaan itu datang cepat, lalu segera ditepis. “Tidak masuk akal,” katanya pada diri sendiri. “Dia hanya mengantar.” Namun tatapannya tetap mengikuti Nindya hingga perempuan itu masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Senyum itu masih tertinggal di benaknya. Dan untuk pertama kalinya, Arman menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak…Nindya tidak pernah tersenyum seperti itu padanya. Arman tetap berdiri di tempatnya bahkan setelah pintu depan tertutup. Rumah itu kembali sunyi, namun kesunyian kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang lepas dari genggamannya, sesuatu yang selama ini ia anggap tidak mungkin hilang. “Apa Nindya sudah tidak mencintaiku lagi?” ujar Arman tanpa sadar. Ia berbalik dari jendela dengan langkah pelan. Bayangan senyum Nindya terus terpantul di kepalanya, mengusik dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Senyum itu bukan untuknya. Dan kesadaran itu menusuk lebih dalam dari yang ingin ia akui. “Sejak kapan dia berubah?” gumamnya. Di lantai bawah, Nindya bersandar sebentar di balik pintu. Ia menghela napas panjang, bukan karena lelah, melainkan karena tubuhnya akhirnya belajar tenang. Percakapan singkat dengan Bima, perjalanan singkat itu, semuanya mengingatkannya bahwa dunia di luar rumah ini masih ada. Bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian. Ia melangkah masuk ke dalam, melewati ruang tamu tanpa menoleh ke tangga. Tidak ada lagi dorongan untuk menjelaskan diri. Tidak ada kebutuhan untuk meminta pengertian. Di dalam dadanya, Nadia tersenyum tipis. “Biarkan dia bertanya-tanya,” batinnya. “Orang yang kehilangan kendali akan membuka banyak celah.” Malam itu, dua orang berada di bawah atap yang sama, terjaga oleh pikiran masing-masing. Yang satu mulai takut kehilangan. Yang lain akhirnya berhenti takut. Dan di antara mereka, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD