Pagi itu di ruang makan, suasana terasa hening. Arman melihat ke arah istrinya, Nindya tampak duduk dengan tenang sambil sarapan. “Aku gak mengenal kamu lagi…” Suara Arman terdengar pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Nindya melihat ke arah Arman. Tatapannya tenang, tapi dalam. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Arman beberapa detik, seolah menilai sesuatu. “Pertanyaannya,” jawabnya akhirnya, suaranya datar, “kamu memang pernah benar-benar mengenalku?” Kalimat itu membuat Arman terdiam; ia tidak punya jawaban. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Arman berdiri di ambang pintu ruang kerja, memperhatikan Nindya yang kembali sibuk dengan laptopnya. Cahaya layar memantul di wajahnya, menampilkan ekspresi yang fokus, dingin, dan penuh perhitungan. Berbeda,

