Dengan segala syarat yang diberikan oleh Raka untuk bertemu dengan Ibunya, akhirnya Nara menghela napas panjang dan mengangguk pelan. Tidak ada pilihan lain. Rindu itu terlalu besar untuk ia abaikan. “Aku setuju,” ucap Nara lirih, namun tegas. Raka menatapnya lama, seolah memastikan keputusan itu benar-benar datang dari hati Nara, bukan karena terpaksa. “Baik,” jawab Raka akhirnya. “Ingat semua syaratku. Tidak menginap, selalu bersama pengawal, dan kabari aku setiap saat.” Nara mengangguk lagi. “Aku ingat. Aku janji.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Nara segera mengambil tas kecilnya. Langkahnya sedikit tergesa, seakan takut jika Raka berubah pikiran. Raka mengikuti dari belakang, wajahnya datar namun sorot matanya penuh kekhawatiran. Di depan rumah, mobil sudah menunggu. Tiga orang

