Pria Asing dengan Bahasa yang Sama

1111 Words
Restaurant mulai semakin sepi ketika malam bergerak melewati tengah malam. Lampu gantung berwarna hangat memantul di gelas kosong dan meja kayu yang perlahan ditinggalkan pengunjung lain. Musik acoustic berubah lebih pelan, lebih mellow, seolah memberi tanda bahwa malam seharusnya segera selesai. Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin pulang. Tania dan Daniel sudah pergi hampir tiga puluh menit lalu, sengaja meninggalkan Kayla dan Jack berdua. Sekarang mereka masih duduk saling berhadapan sambil berbagi kentang goreng terakhir di atas meja. Jack terlihat jauh lebih rileks dibanding awal datang tadi. Bahunya tidak lagi setegang sebelumnya, meski jemarinya masih mengetuk meja tanpa sadar. Kayla memperhatikannya diam-diam. ADHD... Kayla mampu menebaknya karena dia juga memiliki ADHD. Dia mengenali pola itu terlalu baik. Gelisah kecil yang tidak bisa dijelaskan, kepala yang seolah tidak pernah benar-benar tenang. Dan anehnya, itu membuat Kayla merasa nyaman. Karena otaknya juga sama berisiknya. “You know what’s weird?” kata Jack sambil memainkan gelasnya. “What?” “I usually hate first dates.” Kayla tertawa kecil. “This is a date?” Jack menyeringai tipis. “You tell me.” Kayla menggeleng sambil tersenyum. “Aku biasanya juga cepat bosan sama orang.” “But?” “But somehow aku masih di sini.” Jack tertawa kecil mendengar itu, lalu kembali menatap Kayla sedikit terlalu lama. Seolah dia juga bingung kenapa semuanya terasa begitu mudah malam ini. Di sekitar mereka, pelayan mulai membereskan meja. Jam sudah lewat tengah malam, tapi percakapan mereka justru terasa semakin hidup. Jack melirik ponselnya lalu menghela napas kecil. “I don’t really wanna go home yet.” Kayla menaikkan alis. “Oh?” “We could move somewhere else.” Nada suaranya tidak terdengar seperti rayuan murahan. Lebih seperti seseorang yang genuinely menikmati kebersamaan mereka dan belum ingin malam itu selesai. Kayla memperhatikannya beberapa detik. Dan di balik tattoo, tubuh besar, dan suara berat itu, dia bisa melihat sesuatu yang lain: Jack terlihat lelah. Bukan lelah fisik. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan isi kepalanya sendiri, dan bahkan terlalu banyak minum sebelum datang menemui kayla. “You wanna go back to your villa?” tanya Kayla pelan. Jack terlihat sedikit terkejut. “You can tell?” “You look overstimulated.” Jack langsung tertawa sambil mengusap wajahnya kasar. “Jesus Christ. Stop reading my brain.” Kayla ikut tertawa kecil. “I can literally see it happening.” Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kayla menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh: Dia nyaman. Terlalu nyaman. Padahal biasanya dia selalu menjaga jarak dengan laki-laki baru. Setelah semua kegagalan dalam hidupnya, Kayla terbiasa membangun tembok besar di sekeliling dirinya. Karena mempercayai orang terlalu cepat pernah menghancurkan hidupnya. Tunangan yang dulu dia cintai membuat bisnisnya jatuh berantakan. Mentalnya hancur. Dan yang paling menyakitkan—dia harus berpisah dari kedua putranya sementara waktu karena keadaan finansialnya saat itu. Sejak itu Kayla selalu berusaha terlihat kuat. Mandiri. Tidak membutuhkan siapa-siapa. Tapi malam ini, bersama pria asing bernama Jack, tembok itu terasa sedikit retak. Lalu Jack kembali bicara. “You could come have a drink there… if you want.” Nada suaranya hati-hati. Memberi pilihan tanpa memaksa. Kayla diam sejenak. Normalnya dia tidak akan ikut ke villa pria asing. Normalnya dia jauh lebih hati-hati. Tapi Jack tidak terasa seperti orang asing. Dan justru itu bagian paling berbahaya. “Relax,” kata Jack cepat sambil tertawa kecil. “I’m not trying to murder you.” Kayla langsung tertawa keras. “Good. Because that would honestly ruin your birthday.” Jack sampai menundukkan kepala sambil tertawa. Dan semakin Kayla melihatnya, semakin dia sadar Jack sebenarnya sangat menyenangkan saat merasa nyaman. Tidak jaim. Tidak terlalu berusaha terlihat keren. Hanya… manusia. “Aku ikut,” kata Kayla akhirnya. Jack menatapnya sebentar. “Yeah?” “Yeah. But if you turn weird, I’m leaving.” Jack tersenyum kecil. “Fair.” Mereka berjalan keluar restaurant menuju jalan utama Seminyak. Udara malam Bali terasa hangat, bercampur aroma laut dan sisa hujan sore tadi. Jalanan masih hidup meski tidak seramai sebelumnya. Musik dari beach club terdengar samar di kejauhan sementara motor terus berlalu-lalang. Jack memesan taksi online, dimana Kayla berdiri di sampingnya. Dan entah kenapa, suasana kecil itu terasa domestik. Lucu. Seperti dua orang yang sudah saling kenal lama. “You always this friendly with strangers?” tanya Jack. Kayla mengangkat bahu kecil. “Depends.” “On?” “Whether they feel dangerous or safe.” Jack tertawa kecil. “And what do I feel like?” Kayla memandangnya beberapa detik sebelum menjawab. “Honestly?” “Yeah.” “You feel like both.” Jack langsung diam sesaat sebelum tersenyum tipis. “That sounds unhealthy.” “It probably is.” Taksi online yang mereka pesan sudah tiba. Mereka masuk ke dalam mobil, lalu suasana kembali berubah menjadi terlalu nyaman. Tidak ada awkward silence. Tidak ada usaha berlebihan untuk terlihat menarik. Hanya dua orang asing yang berbicara seperti sedang melanjutkan percakapan lama yang sempat tertunda bertahun-tahun. Lampu-lampu Bali bergerak melewati jendela mobil sementara mereka terus berbicara tentang hal-hal random. Tentang tattoo Jack dan cerita bodoh di balik beberapa desainnya. Tentang ADHD meds yang kadang membantu, kadang malah membuat pikirannya semakin kacau. Lebih santai. Lebih dekat. “Kamu tau gak,” kata Kayla sambil tertawa kecil, “Aku biasanya capek banget kalau harus ngobrol lama sama orang baru.” “Sama,” jawab Jack pelan. “Usually I fake being social for like… twenty minutes.” “Terus habis itu?” “I disappear.” Kayla tertawa kecil. “Jadi ini achievement ya?” “A big one.” Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Kayla menoleh menatap Jack. Dan untuk pertama kalinya dia benar-benar memperhatikan mata pria itu. Lelah. Tapi hangat. Seolah ada banyak hal yang belum dia ceritakan. “You look sad sometimes,” kata Kayla tiba-tiba. Jack terlihat sedikit terkejut. “Do I?” Kayla mengangguk kecil. “Like someone trying really hard not to think.” Beberapa detik Jack tidak menjawab. Lalu dia tertawa pelan. “Itu sepertinya hal yang benar apa yang kamu katakan.” Hening kecil muncul di antara mereka. Bukan hening yang canggung. Lebih seperti dua orang yang diam-diam saling memahami. Dan semakin lama percakapan itu berjalan, semakin Kayla merasa pria di sampingnya memahami hal-hal yang bahkan sulit dia jelaskan ke orang lain. Bukan karena mereka mirip. Tapi karena Jack mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Tanpa mencoba memperbaiki semuanya. Tanpa menghakimi. Dan itu terasa jauh lebih intim dibanding flirt biasa. Mobil terus bergerak membelah jalanan malam Bali sementara Kayla mulai merasakan sesuatu yang belum ingin dia akui: Dia terlalu nyaman bersama pria ini. Terlalu cepat. Terlalu mudah. Dan biasanya, hal-hal seperti itu tidak pernah berakhir sederhana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD