Langkah Bening terhenti melihat sosok Abian dihadapannya. Tanpa babibu lagi Bening segera berhamburan ke pelukan abangnya, menumpahkan tangisnya pada laki-laki itu. Tidak ada yang lebih mengetahui perasaannya kini selain Abian. “Sudah, tidak perlu nangis lagi. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan ikhlas dengan semua yang terjadi, sekarang tugas kamu hanya bahagia dan melupakan hal-hal yang membuat kamu bersedih.” Amanah Bian menghapus air mata adiknya. Sayangnya air mata itu tetap turun tanpa diminta. “Dek, tolong berhenti jangan buat aku semakin terpancing emosi dan akan menghabiskan Bayu untuk mu. Atau memang itu yang kamu mau?” Bening menggeleng pelan, hatinya akan lebih sakit, mengetahui Bayu terluka. Dan ia memang sebodoh itu, berpisah adalah pilihannya tapi juga menyakiti hatinya

