09. Ayah dan Suci?

775 Words
Saat pulang sekolah, ia langsung menuju ke makam ibunya. Ia ingin bercerita hari ini. Tentang semua kejadian yang terjadi padanya. Tidak hanya hal baik, hal buruk pun juga. Sudah menjadi rutinitas Cia setelah kepergian ibunya. Ia selalu datang, bahkan bunga tabur di makam ibunya itu pun belum layu. Cia ingin sekali mengeluarkan semua yang ingin ia katakan. Namun, sampai saat ini, ia belum mempunyai seseorang yang dapat ia percaya untuk masalah ini. Ia hanya bisa bercerita dengan makam ibunya. Walau ia tahu, itu terlihat sangat bodoh untuk dilakukan. Hati Cia terasa sesak saat memori beberapa waktu lalu kembali melintas diotaknya. Memori di mana ia mengetahui satu fakta. Bahwa sebenarnya, kakak tirinya mempunyai hubungan dengan kakak senior yang di sukainya. Cia memarkirkan mobilnya di depan pemakaman. Tidak lupa ia menymbar sekantong bunga tabur yang ia racik sendiri. Dengan bunga yang disukai ibunya. Ia yakin, jika ia melakukan ini, ibunya akan merasa bahagia di sana. "Assalamualaikum, Bunda." Cia berjongkok di depan makam itu dan mengusap nisannya. Lalu, membuka sekantong bunga itu dan menaburnya hingga makam terlihat sangat berwarna. Ia tersenyum menatap kagum makam cantik itu dengan hasil karya tangannya. "Makam Bunda udah cantik," puji Cia antusias. Cia kembali berjongkok. Mengelus nisan ibunya. "Bunda tau sesuatu, nggak?" tanya Cia seakan ibunya berada di hadapannya secara nyata. "Cia lagi suka sama cowok, Bunda," lanjutnya. "Dia ganteng banget. Cia suka." Terdengar nada yang gadis itu ucapkan begitu riang. Lalu, raut wajah Cia berubah. Ia menunduk. Seraya berkata, "Tapi, belum Cia memulai itu semua, sesuatu yang kemungkinan besar buat Cia mundur, udah Cia ketahui, Bunda." "Cia nggak akan nyerah. Cia belum tahu kebenaran yang sebenarnya," ucap Cia penuh semangat. Cia memeluk nisan Bundanya dan tersenyum, "Doain Cia ya, Bunda. Semoga aja, apa yang Cia pikirkan sekarang, sama sekali nggak benar." Lalu, Cia melepaskan pelukannya dari nisan ibunya dan berdiri, "Cia pulang dulu ya. Maaf Cia nggak bisa lama-lama, takut Tante Maya marah. Assalamualaikum." Cia langsung pergi dari sana dan berjalan menuju mobilnya untuk segera pulang ke rumah. Namun, langkahnya terhenti saat ia tidak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar dikehidupan-nya. "Ayah?" gumam Cia. "Itu beneran Ayah?" tanya Cia memastikan. Tak ingin berlama-lama menebak sendiri yang tidak mungkin ada ujungnya, Cia memutuskan untuk mengikuti ke mana Ayahnya pergi. Cia melihat Ayahnya mengetuk pintu rumah yang ada di sekitaran makam. Namun Cia mengernyit dahi saat terlintas diotaknya tentang rumah yang saat ini pintu rumahnya tengah diketuk oleh ayahnya. "Kok Cia kaya pernah liat rumah ini, ya?" ranya Cia pada diri sendiri. Saat ini Cia sedang bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sekitaran rumah itu. Arah pandang Cia tertuju ke ayah-nya yang menenteng sekantong plastik besar yang ia tebak isinya adalah berbagai macam sembako. "Ngapain ayah ke sini?" tanyanya. Lalu, sekitar beberapa detik kemudian, yang sangat Cia tunggu-tunggu akhirnya yang punya rumah keluar, dan betapa terkejutnya dirinya saat sudah ingat dan tahu siapa pemilik dari rumah itu. "Suci?" ucap Cia benar-benar tidak percaya. Ada apa ini sebenarnya? Apakah ini hanya kebetulan semata? Tentang ia mengenali Suci dan ayahnya pun juga? Tapi, jika Suci mengenali ayah-nya, sangat tidak mungkin, bukan dia tidak mengenali dirinya juga? "Ada apa ini?" ucap Cia pada dirinya sendiri. Ia kembali mem-fokuskan pandangannya ke depan. Melihat interaksi kedua orang itu di sana. Terlihat, sangat akrab. Jujur, ada apa sebenarnya? Sayangnya, Cia tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Ia hanya mendengar kata 'terimakasih' yang diucapkan dari bibir ayahnya. Hanya itu. Terlebih, apa maksudnya? Terimakasih untuk hal apa? Cia menyembunyikan tubuhnya saat ayahnya berbalik. Ia mengintip lagi dan melihat ayahnya melangkah menuju area luar pemakaman. Ia mengernyit. Apa yang sebenarnya belum ia ketahui? Cia menoleh ke arah rumah itu dan melihat Suci sudah tidak ada di sana. Ia menghela napas dan tidak lagi menyembunyikan dirinya. "Cia penasaran, apa Cia tanya langsung sama Suci, ya?" gumamnya sendiri. Namun, tindakan seperti itu sepertinya tidak akan bagus. Mungkin saja, jika ia menanyakan langsung, bisa saja Suci membohonginya, bukan? Tidak, ia tidak mau dibodohi. "Apa mungkin, ayah ber-terimakasih sama Suci karena udah bersihin makam Bunda, ya?" tanyanya. Karena pikirnya, ini adalah area pemakaman ibunya. Sudah jelas, Suci itu adalah seorang pembersih makam. Mungkin saja, bukan, jika ayahnya ber-terimakasih atas hal itu? Cia menganggukan kepalanya. Berusaha agar opininya terdengar sebagai fakta. Walau sebenarnya, ia masih penasaran dan curiga, ada hubungan apa Suci dan ayah-nya. "Iya, mungkin itu alasan Ayah datang ke sini dan ngasih makanan buat Suci. Iya, pasti itu," ucapnya meyakinkan dirinya sendiri. Lalu melangkah saja dan mengusir pikiran yang bisa saja membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Tidak, Cia mengatakan ini, bukan berarti ia akan diam saja. Ia akan mencari tahu lagi, ada hubungan apa Suci dan ayah-nya. Ia mengatakan itu, hanya ingin menenangkan hatinya sesaat. Sungguh, Cia sangat kepo dengan hal ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD