43. Panik

729 Words

Revan melangkah dengan sesekali melengkungkan senyumnya. Ia memikirkan Cia. Bagaimana riangnya wajah Cia saat ia memakai kalung pemberian darinya. Revan ingin sekali melihatnya. Tunggu, kenapa Revan memikirkan Cia? Tidak. Ia tidak mungkin menyukai Cia. Hatinya sudah berlabuh ke Amanda. Tapi, mungkinkah kapal bisa saja berlabuh ke pelabuhan lain? "Pagi-pagi udah senyum aja, neh," celutuk Bima yang membuat Revan tersadar dari lamunannya. Ternyata, ia sudah sampai di dalam kelasnya. "Kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nich," sahut Rangga dengan bahasa alay. "Pengen juga dech," ucap Alfa juga ikut-ikutan berbahasa alay. Sedangkan Daffa, ia tidak memperdulikan sahabat-sahabatnya tengah menggoda Revan. Ia hanya memainkan ponselnya sesekali melengkungkan senyumnya. Alfa, Bima, Ran

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD