Gemerlap lampu yang menyala di sepanjang kota terlihat indah dari atas langit. Mata Ryan yang sudah terbiasa menatap keindahan tersebut, menjadikannya objek ratapan semata. Pikirannya berkelana tentang Cahaya, apakah misi itu terlaksana, apakah gadisnya itu terluka. Terluka psikis yang dia mau. Dia yang seharusnya merasakan seluruh tubuh itu bukan orang lain. Ryan tak sabar menunggu pesawat ini mendarat dengan segera untuk mendengar laporan dari orang suruhannya itu. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman mati, seorang pramugari datang dan duduk di sampingnya, menyapanya, "Sendiri saja Kapt, kekasihnya mana?" tanya wanita ini sembari melemparkan senyum manis yang tiada tara. Rambutnya yang disanggul tinggi membuat lehernya yang jenjang lurus tegak sebagai penopang keanggunan. Belahan rokny

