Insiden Tengah Malam

1389 Words
Kayla menyebrangi jalan, berjalan cepat menghampiri Dava. “Lama ya?” Dava menjawab sambil meraih tangan Kayla. “Nggak, kok. Aku baru dateng.” Hal itu jelas membuat Kayla menjadi salah tingkah, pipinya berubah memerah seperti merah jambu. “Kamu belum makan, kan? Kita cari makan yuk?” ajak Dava tanpa melepaskan genggaman tangannya. “Ke mana?” tanya Kayla. “Ke mana aja, tapi jangan di kantin, terlalu rame.” “Terserah, Aku ikut aja.“ “Oke, di luar kawasan ada kafe. Kita makan di sana, ya?” Tanpa ragu Kayla pun mengangguk setuju, lalu mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju di mana Dava memarkirkan mobilnya, beberapa orang yang mengenal, melihat ke arah mereka dengan perasaan iri. Sadar menjadi pusat perhatian, Kayla pun melepaskan tangan dari genggaman Dava, Dava menghentikan langkahnya, lalu bertanya, “Kenapa? Nggak mau aku gandeng?” “Bukan begitu, Mas. Kita jadi pusat perhatian orang, aku nggak enak,” jawabnya setengah berbohong, setengah jujur, karena yang Kayla takutkan bukan hanya para karyawan yang menggosipkan kedekatan mereka, tetapi juga karena Erlangga. Apa lagi sekarang Erlangga sudah tahu bahwa dirinya adalah karyawannya sendiri. “Kenapa nggak enak? Kita kan nggak ganggu hidup mereka,” ucap Dava. “Iya aku tau, tapi aku merasa nggak nyaman aja jadi pusat perhatian orang,” gumamnya pelan, sambil menunduk. Tidak ingin membuat Kayla merasa tidak nyaman, Dava pun mengiyakan permintaan Kayla. “Oke, kita nggak perlu pegangan tangan.” Kayla mengangkat wajahnya, tersenyum seraya mengucapkan ucapan terima kasih, “Terima kasih.” Raut wajah Kayla kembali ceria, akhirnya mereka pun berjalan menuju parkiran mobil tanpa bergandengan tangan, bahkan jalan pun berjauhan. *** “Sial, baru aja gue pengen liat cowok yang lagi sama istri kecilnya si bos. Mereka malah keburu pergi,” gerutu Joenathan sambil terengah-engah setelah berlari mengejar Kayla dengan pria yang Joe sendiri tidak kenal. Karena mereka sudah pergi, Joenathan kembali ke kantin khusus staff, dan berencana akan menghubungi Erlangga setelah makan. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk makan, Joenathan segera meninggalkan kantin, lalu menghubungi Erlangga dalam sambungan telepon sambil berjalan ke ruangannya. Beberapa kali melakukan panggilan, barulah telepon pun tersambung. “Iya, ada apa?” tanya Erlangga. “Ada kabar terbaru, Bro." Joenathan menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya. “Kabar apa?” tanya Erlangga lagi. “Gue ngeliat bini lu jalan sama cowok. Tapi, pas gue kejar pengen tau siapa cowoknya, mereka keburu nggak ada.” “Bodo amat lah gue. Gue nggak perduli." Mau berpacaran sekalipun, untuk saat ini Erlangga sama sekali tidak memperdulikannya. “Ya nggak bisa gitu dong, Bos. Gimanapun dia kan istri lu. Nama baik lu ada di tangan dia loh.” “Sekarang gue tanya. Yang lu liat itu beneran cowok atau cewek?” “Mmm….” “Lah, kenapa sekarang lu nggak bisa jawab? Cowok apa cewek?” “Kayaknya sih cowok, penampilannya juga kayak cowok,” jawab Joenathan sedikit ragu. Saat ini dia sudah ada di depan ruangannya, membuka pintu, lalu masuk ke dalam. “Jangan salah, sekarang ini banyak cewek yang berpenampilan seperti cowok, begitu juga sebaliknya. Banyak cowok berpenampilan cewek, ya kayak lu gitu.” “Loh kok gue?” tanya Joenathan dengan heran. “Lu nggak sadar, kalau lu itu cowok ke cewek-cewekan? Casing handphone lu aja warnanya pink, iya kan?” Joenathan langsung menjauhkan ponsel dari tangannya, lalu melihat casing handphone yang sedang ia pakai. “Sialan, dia bener lagi.” Karena merasa punya alasan kenapa memakai casing berwarna pink, Joenathan pun kembali meletakkan ponselnya di dekat telinga ingin menjelaskan. “Heh, gue pake ini.... “ Belum selesai bicara, Erlangga memutus sambungan telepon. Joenathan kembali menggerutu. “Kampret, udah gue kasih info, malah gue yang dibully. Tapi, apa yang si bos bilang ada benernya juga sih. Apa gue salah liat? “ Gumamnya semakin bingung. Dari pada memikirkan sesuatu hal yang tidak penting, Joenathan memilih merapikan meja hendak pulang. Sedangkan di sana, Erlangga yang baru saja menerima informasi dari sang sahabat, memilih kembali berbaring di atas kasur, memeluk foto mendiang istrinya sambil memejamkan mata sampai tertidur pulas. “Kayla adalah aku, dan aku adalah Kayla. Kalau kamu menyakiti Kayla, artinya sama dengan kamu menyakiti aku.” Kata yang Indira ucapkan dalam mimpi, membuat Erlangga terbangun dari tidurnya sambil terengah-engah, lalu ia pun duduk. “Cuma mimpi ternyata.” Merasa haus, Erlangga beringsut turun dari atas ranjang, memakai sandal yang sudah tersedia, lalu berjalan menuju pintu hendak keluar dari kamar, mengambil air minum di lantai bawah. Dengan langkahnya yang gontai Erlangga menuruni anak tangga, lalu berjalan ke arah dapur, menuju lemari es. “Apa maksud kamu berkata seperti itu di dalam mimpiku, Indira?“ Monolog Erlangga sambil menuangkan air es ke dalam gelasnya. Tidak lama Erlangga mendengar seseorang membuka pintu utama, lalu ia berhenti mengisi gelasnya. ”Siapa?“ Suara Erlangga sedikit berteriak. Tidak ada jawaban, Erlangga memilih minum lebih dulu, lalu kembali memanggilnya. ”Siapa?“ ”Saya,“ jawabnya lemas. Walaupun baru beberapa hari menikahi sahabat dari mendiang istrinya, cukup bagi Erlangga mengetahui pemilik suara itu. “Bocah ingusan,” gumamnya pelan sambil duduk di kursi makan. Kayla berjalan ke dapur juga untuk mengambil air minum di dalam lemari pendingin, lalu membawa sebuah botol berisi air dingin itu ke meja makan. Duduk di kursi depan Erlangga. “Mas Elang belum tidur?“ Tanya Kayla sambil menuangkan air ke dalam gelas. Erlangga menjawab sedikit ketus. “Udah, kebangun mau minum.“ “Oh,” respon Kayla singkat. "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu kerja di Len Industri?" Tanya Erlangga tiba-tiba. Kayla menghabiskan dulu minumnya, lalu menjawab dengan santai. "Mas Elang nggak pernah nanya." Setelah menjawab, ia meletakkan kembali gelas kosong di atas meja makan, lalu membuka keresek yang ia bawa. "Buat apa juga aku tanya?" "Lalu, buat apa juga aku kasih tau ke orang yang emang nggak mau tau?" Balas Kayla sambil berdiri, berjalan ke arah lemari hendak mengambil mangkuk berukuran besar. Erlangga melipat kedua tangannya di d**a, duduk bersandar memperhatikan istri kecilnya sedang mengambil mangkuk di atas rak dengan susah payah. "Heran sama orang kaya. Kenapa sih seneng banget kitchen set nya tinggi-tinggi? Emang pada nyampe apa?" Gerutu Kayla masih berusaha. "Ngapain kamu nyalahin kitchen set? Yang salah itu kenapa tinggi badan kamu semampai?" Kayla menoleh, dengan dahi mengerut ia bertanya, "Apa itu semampai?" "Semeter tak sampai," jawab Erlangga puas, sambil tersenyum. "Enak aja. Bisanya ngebully orang," ketus Kayla, lalu ia mencari cara lain agar bisa mengambil mangkuk di atas dengan mengambil kursi, hingga akhirnya ia pun berhasil mendapatkannya, sedangkan Erlangga hanya diam tanpa melakukan apa-apa ketika istri kecilnya kesulitan. "Awas ya kalau mau. Sampai Mas Elang memohon pun, nggak bakal aku kasih." Menggerutu seraya menuangkan soto lamongan yang dibeli saat perjalanan pulang, ke dalam mangku tadi. "Siapa juga yang mau," jawab Erlangga acuh. Namun, Aroma yang dihasilkan dari soto tersebut, membuat cacing di dalam perut Erlangga berteriak hingga suara keroncongan pun terdengar sampai luar, hal itu membuat Erlangga malu, sedangkan Kayla melihat ke arahnya, lalu tertawa. "Yah, laper ya?" ledek Kayla seraya menyendokkan soto tersebut ke dalam mulutnya. Erlangga menyangkal dengan menggelengkan kepalanya. "Nggak." "Boong?" "Nggak, ngapain bohong?" Kekeh Erlangga berbohong, pada kenyataannya dia memang belum makan, karena ketiduran. "Ya udah kalau nggak laper. Aku habisin," ujar Kayla masih menikmati sotonya. Erlangga yang kelaparan hanya bisa melihat, sambil menelan ludah. "Sial, mana keliatannya enak banget lagi," batin Erlangga. Sekuat tenaga ia tahan, tetapi cacing di dalam perut terus berteriak, dan teriakan itu cukup mengganggu pendengaran Kayla, sehingga ia pun menyodorkan satu sendok soto ke depan suaminya. "Mau?" tawar Kayla. "Nggak," kekeh. Dia memalingkan wajahnya ke samping. Rasa gengsinya terlalu besar dari rasa laparnya. "Ya udah kalau nggak mau. Aku habisin aja sendiri." Tidak tahan dengan aromanya yang menggoda, Erlangga menahan tangan Kayla yang hendak memasukkan satu sendok soto ke dalam mulutnya. "Buat aku aja!" Karena tangan Kayla dipegang oleh tangan kekar Erlangga, mau tidak mau Kayla pun menyuapi suaminya. "Dih, katanya nggak mau." "Aku belum makan malam ini," jawab Erlangga sambil berdiri, berpindah duduk di samping Kayla. "Hhmm... makanya jangan suka ngeledek." gerutu Kayla. "Udah sana ambil nasi. Biar kenyang!" Saat Kayla akan bangun mengambil nasi, tiba-tiba saja mangkuk berisi soto itu tidak sengaja tumpah di atas pangkuan Erlangga, lebih tepatnya di atas senjata tajam miliknya. Spontan Erlangga pun berteriak. "Kayla!" "Maaf, Mas. Maaf! Tidak menemukan kain lap, spontan juga ia mengusap bagian yang basah itu dengan tangannya. "Kayla berhenti! Kamu menyentuh aset milikku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD