“Apa lo nggak bisa ngetuk dulu masuk ke ruangan orang lain?” tanya Nararya yang melihat Aksa menerobos masuk ke dalam ruangannya dengan muka menahan jengkel. “Diam lo! Ini kantor juga punya gue!” bentak Aksa seraya berjalan mendekati kakaknya yang masih duduk di balik meja kerjanya. Dalam hati Nararya menebak pasti adiknya ini semakin naik pitam karena undangan pernikahannya dengan Sabrina telah disebar. Kemarin Aksa hanya diam karena beranggapan rencana pernikahan Nararya dan Sabrina hanyalah candaan belaka. Kini, setelah menyadari bahwa hal tersebut ternyata cukup serius, laki-laki itu mulai tersulut emosi. “Lo sengaja ngelakuin ini kan?” Tiba-tiba saja Aksa meraih kerah kemeja Nararya. “Apa yang lo rencanakan dengan memanfaatkan Sabrina yang polos?” Berbeda dengan Aksa yang tampak b

