“Lho, Mbak Sab belum pulang ya.” Sabrina mengangkat kepala dari kertas laporan keuangan yang ia letakkan di atas meja. Di sana ia melihat Bu Yani, wanita paruh baya yang bertugas menjaga rumah sekaligus merangkap menjadi kantor yang Sabrina dan Tera beri nama Grinlif ini. “Eh, Ibu. Iya, Bu. Saya lagi nunggu jemputan,” kata Sabrina. “Oh, nungguin Mas Aksa ya, Mbak,” ujar wanita itu. “Iya, Bu,” jawab Sabrina tersenyum. “Mas yang tadi pagi itu kembarannya Mas Aksa ya, Mbak?” tanya wanita itu lagi. Ia melangkah masuk ke ruangan dan memeriksa tempat sampah yang ada di dekat meja Tera. Wanita itu kemudian mengambil sampah kertas di dalamnya, lalu memasukkannya ke dalam kantong yang ia bawa. “Oh, bukan, Bu. Itu kakaknya Aksa,” jawab Sabrina. “Ah, kakaknya ya. Wajahnya mirip banget lho, Mb

