Cahaya terang perlahan menelusup masuk ke balik pelupuk mata Sabrina. Paru-parunya kemudian memerintahkan otak agar segera membuat Sabrina menghirup oksigen sebanyak mungkin, dan kali ini ia berhasil.
Sabrina akhirnya bisa kembali bernapas, tidak lagi terasa sesak seperti sebelumnya.
Setelah pernapasannya kembali normal, perlahan ia pun mulai mencoba membuka mata.
Akan tetapi, tepat saat Sabrina membuka mata, ia pun langsung tersedak dan merasakan sedikit pusing akibat cahaya terang yang masuk ke matanya. Sabrina dengan cepat menutup kembali matanya. Selain itu, ada pula rasa hangat dari sinar matahari yang terasa menyentuh kulitnya.
Setelah kembali memejamkan mata selama beberapa saat, Sabrina merasa matanya sudah bisa kembali diajak melihat cahaya.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?”
Ketika Sabrina membuka mata, ia melihat Aksa melangkah perlahan mendekatinya. Laki-laki itu beranjak dari kolam renang, dengan celana pendek dan bertelanjang d**a. Sosoknya kian mendekat… mendekat… dan akhirnya berdiri persis di hadapan Sabrina.
“A-Aksa?” tanya Sabrina tak yakin dengan apa yang ia lihat saat ini. Kenapa ada laki-laki itu di sini? Di mana mereka saat ini?
Laki-laki itu tersenyum, lalu duduk di dekat Sabrina. “Iya, ini aku. Memangnya siapa lagi?” tanyanya tampak geli sambil menatap Sabrina.
Sabrina perlahan duduk, lalu memandang sekitar. Ada halaman rumput di sekitar mereka, dengan beberapa kursi malas dan kolam renang di sisi lainnya. Ia mengenali tempat ini. Ini adalah halaman belakang rumah keluarga Aksa.
Sabrina kembali menatap ke arah kekasihnya. Laki-laki itu tersenyum kecil masih sambil menatapnya.
“Kamu kenapa? Tadi pasti ketiduran ya? Masih pagi lho ini.” Aksa mengulurkan tangan, lalu menyelipkan helaian rambut ke balik telinga Sabrina.
Perlahan, Sabrina pun bangkit dari posisi berbaringnya.
“Sabrina, kamu sudah bangun? Ayo sini kita berenang.” Sebuah suara yang sangat Sabrina kenal memanggilnya dari dalam kolam renang.
Sabrina melirik ke arah kolam, lalu menemukan Lola yang kini tengah mengenakan pelampung dan sedang melambai padanya.
“Ayo, katanya mau belajar berenang,” kata Aksa, membuat tatapan Sabrina kembali teralihkan dari saudari tirinya itu.
Sabrina menatap Aksa, kemudian terdiam. Ia ingat sekarang. Momen ini memang terasa familiar. Ini persis seperti yang pernah mereka lakukan dua tahun lalu.
Tapi sebentar. Apa ini nyata?
Sabrina seketika mencubit pipinya sendiri.
“Kamu kenapa sih, Yang?” tanya Aksa terkekeh melihat tingkah ganjil Sabrina. “Kamu udah bangun kok. Ini bukan mimpi.”
Tapi Sabrina tidak merespons. Ia masih sibuk sendiri dengan pikirannya untuk mencerna kejadian kali ini. Bukannya tadi terakhir kali ia berada di area putih tanpa batas, menyaksikan seluruh kejadian mengerikan yang merupakah hasil dari kejahatan Sekar dan Lola. Kemudian ia ditarik oleh pusaran lain dan berada di tempat gelap yang membuatnya tak bisa bernapas. Lalu sekarang…
“Hey…” Aksa menangkupkan kedua tangannya di pipi Sabrina. “Kamu kenapa?”
Sabrina menatap mata kekasihnya itu. Kemudian, kilas bayangan perselingkuhan yang Aksa lakukan bersama Lola berkelebat di dalam pikirannya. Mata Sabrina seketika berkaca-kaca.
“Sabrina, Kak Aksa, ayo sini. Masa aku sendirian yang berenang sih.” Lola kembali berteriak dari arah kolam.
Perut Sabrina tiba-tiba bergolak. Ia ingin muntah.
Sabrina seketika melepaskan diri dari Aksa, dan turun dari kursi malas.
“Sayang, hei… Mau ke mana?” tanya Aksa sambil menatapnya cemas.
“Aku mau ke toilet dulu,” jawab Sabrina tanpa menatap Aksa.
Ia mengenakan sendal yang ada di kaki kursi malas, lalu bergegas melangkah ke arah rumah. Di belakangnya, Aksa segera berlari menyusulnya.
“Kamu sakit?” Aksa yang berhasil menyusulnya seketika bertanya khawatir.
Sabrina melambatkan langkahnya. Ia menoleh pada Aksa dan menggeleng. Sambil memaksakan senyum, Sabrina pun akhirnya berkata, “Aku mau buang air kecil dulu.”
“O-oh, oke…” langkah Aksa pun melambat.
“Aku akan segera kembali,” kata Sabrina.
Laki-laki itu kemudian mengangguk, lalu membiarkan Sabrina memasuki rumahnya.
Setibanya di dalam rumah, Sabrina langsung melangkah menuju kamar mandi tamu yang terletak di dekat dapur. Di dalam sana, ketika mencapai wastafel, ia pun langsung muntah. Membayangkan Aksa dan Lola bergumul membuatnya seketika mual.
Setelah selesai dan merasa lebih baik, Sabrina membilas mulutnya, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin wastafel.
Apakah saat ini ia telah kembali hidup? Apa dirinya tidak jadi mati? Apakah ini kesempatan kedua yang ia dapatkan?
Tapi kini ia kembali ke masa dua tahun lalu, bukan ke masa saat ia diberi racun oleh Sekar dan Lola.
Sabrina mencuci muka, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Ia melihat wajah basahnya di sana, dan bisa merasakan dinginnya air di wajahnya.
Kali ini berbeda. Tidak seperti yang Sabrina lakukan sebelumnya tanpa bisa menyentuh dan merasakan apa pun, kali ini ia bisa menyentuh benda-benda dan merasakannya.
Tempat ini juga terasa sangat nyata, tidak seperti yang ia datangi sebelumnya.
Apakah ia hidup kembali dan kembali ke masa dua tahun lalu?
Ini seperti berada di dalam film fantasi saja.
Sabrina masih memandangi wajahnya di cermin, lalu perlahan matanya kembali berkaca-kaca. Masa dua tahun lalu adalah awal mula Aksa dan Lola berselingkuh. Dua tahun lalu mereka memang berenang bersama di kediaman Aksa. Hari ini pasti hari minggu, jika memang sama persis dengan kejadian dua tahun lalu.
Dan dalam hari itu, Aksa dan Lola sudah berselingkuh.
Tapi kenapa laki-laki itu tadi bersikap sangat perhatian dengannya? Lola juga tampak biasa saja. Padahal mereka berdua sudah begitu tega menghianati Sabrina.
Satu tetes air mata mengalir di pipi Sabrina. Kemudian disusul dengan tetes yang lainnya, dan perlahan berubah menjadi tangis tanpa suara. Sabrina menatap pantulan dirinya di cermin yang tampak begitu menyedihkan. Ia begitu naif waktu itu, percaya begitu saja bahwa Aksa dan Lola tidak akan mengkhianatinya. Tapi lihatlah mereka tadi. Tampak biasa saja, seolah Sabrina tidak tahu apa-apa.
Kalau begitu, akan Sabrina pastikan kali ini ia tidak akan sebodoh waktu itu lagi. Jika kali ini ia memang kembali ke masa itu, ia akan membuat perhitungan pada Lola dan Aksa. Ia akan menuntut balas.
Sabrina buru-buru menghapus air matanya. Ia lalu menarik napas dalam-dalam beberapa kali, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Ketika melintasi koridor di dekat dapur, Sabrina berpapasan dengan Nararya, kakak laki-laki Aksa yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. Laki-laki betubuh tinggi tegap itu kini sedang membawa sebuah mug di tangannya. Wajah tampannya yang selalu tampak dingin tanpa ekspresi, kali ini sedikit menunjukkan emosi saat berhadapan dengan Sabrina.
Karena mereka memang tidak dekat dan tidak sering bertegur sapa, Sabrina hanya mengangguk sekilas pada laki-laki itu, lalu melanjutkan kembali langkahnya melewati Nararya.
“Hei…”
Ketika Sabrina sudah melangkah beberapa langkah, ia mendengar laki-laki di belakangnya itu memanggilnya.
Sabrina pun menghentikan langkah, lalu menoleh.
“Di sana ada tisu.” Sebelah tangan Nararya yang tidak memegang mug menunjuk ke arah rak kayu berukiran antik yang ada di dekat dinding.
Sabrina mengalihkan tatapannya ke arah yang ditunjuk kakak laki-laki Aksa tersebut. Di atas rak itu memang ada sekotak tisu selain vas kaca bening berisi bunga segar.
Sabrina seketika menatap Nararya dengan tatapan heran.
“Kalau kamu butuh untuk menghapus air mata kamu,” ujar laki-laki itu, menjelaskan tanda tanya yang terpeta jelas di wajah Sabrina, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menjauhi gadis itu.
Ucapan Nararya membuat Sabrina terkejut. Ia kemudia meraba pipinya.
Basah.
Apakah tanpa ia sadari, dirinya masih menangis?
Tak lama kemudian, Nararya yang semula sudah melangkah menjauh beberapa langkah, seketika kembali berbalik. Laki-laki itu kembali menatap ke arah Sabrina.
“Kalau boleh saran, lain kali mungkin kamu bisa pakai baju renang yang lebih sopan.”
Setelah mengatakan itu, laki-laki itu kembali berbalik mebelakangi Sabrina. Kali ini ia benar-benar melangkah menjauh, dan menghilang ke bagian tengah rumah.
Sabrina mengerjap, lalu melirik tubuhnya. Saat ini ia tengah mengenakan bikini two pieces berwarna merah. Menurut Sabrina, pakaian ini cukup sopan karena tidak begitu terbuka. Bagian atasnya lebih mirip crop top karena memiliki lengan, sementara celana bagian bawahnya lebih mirip hot pants. Apa ini yang Nararya sebut tidak sopan?
Tapi tunggu dulu. Barusan laki-laki itu bicara padanya kan? Nararya, manusia paling tidak asik sedunia menurut Aksa, bicara padanya?
Tiga tahun Sabrina menjalin hubungan dengan Aksa, tak pernah sekalipun ia mendengar Nararya bicara sebanyak tadi padanya. Tapi barusan… Apa yang baru saja ia dengar telah keluar dari bibir laki-laki itu?
Dua tahun lalu, di hari ini, Sabrina bahkan sama sekali tidak berinteraksi dengan Nararya. Ia hanya sibuk belajar berenang bersama Aksa dan Lola.
Tapi hari ini berbeda. Sabrina memang kembali di hari yang sama dan menjalani momen yang sama. Hanya saja, beberapa kejadian tidak berjalan sama persis seperti sebelumnya.
Dulu, Sabrina dan Lola datang untuk berenang ke rumah Aksa karena Sekar hari ini sibuk mengadakan arisan di rumah mereka. Bisa dikatakan wanita itu mengungsikan Sabrina dan Lola untuk sementara waktu.
Kedua orangtua Aksa dengan senang hati mengundang mereka untuk datang, terlebih karena mendengar bahwa Sabrina dan Lola, yang sama-sama tidak bisa berenang ingin belajar berenang.
Lalu jika demikian, kedua orangtua Aksa harusnya saat ini juga berada di rumah kan? Di mana mereka? Sabrina seketika merasa rindu pada mereka. Keduanya begitu baik dan menyayangi Sabrina seperti anaknya sendiri.
Namun sayangnya, putra bungsu mereka adalah pengkhianat.
Ketika kata pengkhianat itu kembali melintas di benaknya, Sabrina seketika teringat pada Aksa dan Lola yang saat ini hanya berduaan di kolam renang.
Ia pun segera berbalik dan mendekati rak berukiran antik yang tadi ditunjuk Nararya, lalu mengambil beberapa helai tisu dan segera mengelap wajahnya.
Setelahnya, ia pun kembali bergegas ke halaman belakang. Ia akan menemui Aksa dan Lola yang kini entah tengah melakukan apa.