“Jadi, dari sekian banyak hal, kamu malah mengajukan syarat untuk membongkar kedok ibu tiri dan saudari tirimu?” Sabrina memandangi laki-laki yang ada di hadapannya. Tangannya sedari tadi telah menyendok makan siangnya, tapi sendok berisi makanan tersebut masih berada di dalam piring. Perlahan, Sabrina pun mengangguk. “Kenapa?” tanya Nararya lagi. Sabrina menggigit bibir. Matanya melirik sekitar. Selepas telepon mereka semalam, keesokan paginya Nararya menjemput Sabrina untuk bicara empat mata. Dan di sinilah mereka siang ini, makan siang di salah satu restoran Jepang yang ada di Plaza Indonesia. Setelah memastikan bahwa tidak ada yang mungkin bisa mendengar obrolan mereka, Sabrina pun berkata, “Hmmm… Aku dulu pernah denger, nggak sengaja denger, obrolan Mama sama seseorang di telepon

