(22)

1637 Words

"Mas! Ayah kenapa? Kenapa bisa mendadak masuk rumah sakit kaya gini Mas? Jawab pertanyaan Rin, kenapa Mas sama Bunda malah diem aja? Ayah kenapa Nda?" Tanya gue menatap Mas Hagi dan Bunda gue bergantian, Mas Hagi masih berdiri mematung sembari berbalik menggenggam tangan gue sedangkan Bunda masih duduk tertunduk dengan raut wajah penuh kesedihannya. "Dek! Kamu tenang dulu, jangan kaya gini? Kamu malah ngebuat Bunda makin khawatir." Cicit Mas Hagi mengeratkan genggamannya di tangan gue, gue yang mendengarkan ucapan Mas Hagi tanpa sadar mengusap kasar wajah gue dan mundur beberapa langkah menjauh dari Bunda, gue gak ngerti dengan alasan Ayah sampai busa berakhir kaya gini, bukannya tadi pagi gue berangkat ke sekolah keadaan Ayah masih baik-baik aja? "Ge! Kamu bisa tolong temenin Bunda Mas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD