"Ren! Lo sadarkan ya sekarang itu lo ngomong apaan? Kenapa lo harus nemuin Zinan untuk gue sama Rin? Kenapa lo harus? Ya mungkin lo ngerasa khawatir sama Rin karena dia adik gue, lo khawatir karena Rin adalah Adik dari sahabat lo sendiri tapi kenapa lo harus ngelakuin itu? Hubungannya sama lo apaan Ren? Lo kalau ngomong juga yang bener, jangan ngebuat gue mikir aneh dan salah paham dengan sikap lo sekarang." Ucap Mas Hagi yang terlihat sangat kaget dengan ucapan Mas Rendra barusan, jangankan Mas Hagi, gue sama Gea aja ikutan kaget mendengarkan ucapan Mas Rendra barusan, Mas Rendra berencana nemuin calon suami gue hanya untuk memastikan gue bahagia atau enggak setelah menikah itu adalah hal yang beneran lucu menurut gue, sangking lucunya gue bahkan gak habis pikir dari mana Mas Rendra mendapatkan ide segila ini?
Mas Hagi yang nemuin calon suami gue mah wajar karena bagaimanapun dia akan jadi adik iparnya, dia nemuin laki-laki yang akab menjadi pendamping hidupnya dan itu bisa gue terima tapi Mas Rendra mau nemuin calon suami gue atas dasar apa? Dia mau dateng dengan status apa kalau sendainya Zinan nanya dia siapa? Mau ngomong kalau dia adalah sahabat Mas Hagi? Calon suami gue cuma akan ketawa dan menganggap kalau Mas Rendra itu berlebihan, gue aja yang denger barusan ngerasa kalau keinginan dan niat Mas Rendra itu berlebihan nah apa kata orang lain? Laki-laki yang bakalan jadi calon suami gue bakalan ketawa atau parahnya dia akan salah paham dengan hubungan gue sama Mas Rendra, apa Mas Rendra mau Zinan mikir kaya gitu? Kalaupun Mas Rendra yakin, gue juga yakin kalau Mas Hagi gak akan ngebiarin sahabatnya bersikap bodoh kaya gitu, Mas Hagi gak akan tinggal diam melihat sikap sahabatnya sekarang, alasan Mas Rendra mau nemuin Zinan cuma untuk hal kaya gini itu udah aneh, sebelum Mas Rendra dateng nemuin Zinan dan berakhir dengan salah paham, omongan Mas rendra aja udah cukup untuk ngebuat Mas Hagi salah paham sekarang.
"Lo gak salah paham Gi, perasaan gue ke Rin memang seperti yang ada dalam pemikiran lo sekarang, gue memang suka sama Rin, gue jatuh cinta dengan adik sahabat gue sendiri, apa ada yang salah dengan hal itu? Bukannya itu wajar? Lo gak bisa ngelarang gue untuk jatuh cinta dengan siapapun termasuk Rin, ini perasaan gue dan lo harus tahu, Rin juga harus tahu, selama ini gue tertarik dengan adik lo Gi, apa beneran gak ada kesempatan untuk gue?" Ucap Mas Rendra tegas, Mas Rendra terlihat sangat yakin dengan ucapannya sekarang, Mas Rendra terlihat sangat meyakinkan, tatapannya gak menunjukan keraguan sedikipun, gue gak ngeliat hal itu sama sekali, Mas Rendra masih terlihat sangat tenang bahkan setelah pengakuannya ke gue sama Mas Hagi barusan, walaupun gue gak bisa membalas perasaannya Mas Rendra tapi gue akui keberaniannya.
Berbeda dari Mas Rendra yang terlihat sangat tenang, Mas Hagi malah udah siapa meledak kayanya, Mas Hagi terlihat menggepalkan jemarinya kuat dan berusaha keras nahan emosinya sekarang, gue langsung nepuk lengan Mas Hagi dan menatap Mas Hagi sambilan menggeleng pelan, Mas Hagi gak bisa meledak sekarang, Mas Hagi gak berhak marah sama Mas Rendra juga, kenapa? Karena seperti ucapan Mas Rendra tadi, ini memang tentang perasaannya Mas Rendra, ini hak pribadi Mas Rendra dan Mas Hagi gak bisa melarang Mas Rendra untuk jatuh cinta dengan siapapun, termasuk gue, mari mengehargai ucapan Mas Rendra yang satu ini karena memang gak ada yang salah dengan itu semua, Mas Hagi gak berhak marah hanya karena Mas Rendra mengungkapkan perasaannya, kalau memang Mas Hagi menganggap Mas Rendra sebagai seorang sahabat, gue juga gak mendukung sikap Mas Hagi yang ingin marah-marah dan menyalahkan orang lain, Mas Hagi gak bisa ngelakuin itu.
"Gi! Gue tahu sekarang lo marah sama gue, lo kecewa dan lo kesal tapi gue ngomong terus terang tentang perasaan gue ke Rin juga karena gue ingat lo yang sahabat gue, gue ingin mengakui perasaan gue ke Rin di depan lo secara langsung, lo harus tahu, gue gak punya niat buruk apapun sama Adik lo, gue hanya jatuhnya cinta dengan seorang perempuan dan sayangnya perempuan tersebut adalah adik dari sahabat gue sendiri, gue hanya jatuh cinta dengan Rin, apa itu adalah kesalahan besar?" Lanjut Mas Rendra mencoba mendapatkan pengertian dari Mas Hagi, gue yang duduk dan mendengarkan ucapan Mas Rendra sekarang tanpa sadar juga menghela nafas dalam, gue menghela nafas dalam bukan karena karena gue kesal atau bahkan mau ikut marah sama Mas Rendra atas pengakuannya tapi gue menghela nafas kaya gini karena gue sedang menyesali pemikiran bodoh gue tadi, pemikiran bodoh yang menganggap kalau perasaan Mas Rendra itu gak penting untuk gue pikirkan karena yang terpenting adalah perasaan gue sendiri, gue menyesali pemikiran egois gue itu.
"Tapi lo tahu sekarang keadaan Rin gimanakan Ren? Pertunangan Rin udah di depan mata jadi gue gak bisa ngasih lo kesempatan apapun, selama ini gue berusaha keras supaya gak ada laki-laki yang menaruh hati dengan adik gue karena gue gak mau mereka kecewa dan gue gak mau berurusan dengan hal kaya gini tapi karena gue terlalu fokus memperhatikan laki-laki lain, gue bahkan gak sadar kalau ada laki-laki yang gue lewatkan begitu aja, gue melewatkan lo karena lo sahabat gue sendiri, gue pikir lo akan menganggap Rin selayaknya adik kandung lo sendiri jadi lo gak mungkin punya perasaan apapun, gue melakukan kesalahan tentang hal itu." Jawab Mas Hagi yang terlihat jauh lebih tenang, Mas Hagi berhasil meredam emosinya dan menanggapi Mas Rendra dengan jauh lebih baik, memang seperti yang gue mau, jangan saling menyakiti hanya karena masalah kecil apalagi mereka bersahabat, persahabatan mereka itu jauh lebih penting dari apapun, jangan sampai rusak cuma gara-gara gue, itu gak lucu, gue gak sepenting itu.
"Gue ngomong sama lo kaya gini juga bukan karena gue mau lo mengizinkan gue untuk mengejar Adik lo sekarang, mendengarkan ucapan lo tadi, gue mencoba sadar dengan situasi, gue mencoba mengerti dengan keadaan lo sama Rin juga, gue cuma mau memastikan Rin bahagia, dengan siapapun itu, gue gak akan menyalahkan siapapun karena ini perasaan gue jadi gue sendiri yang akan mengurusnya dengan baik." Mas Rendra bahkan terlihat memaksakan senyumannya di depan kita semua sekarang, gue yang memperhatikan Mas Rendra jadinya malah gak tega, gue memang menghargai perasaan Mas Rendra, Mas Rendra terlihat sangat tulus tapi disaat yang bersamaan, gue juga merasa bersalah, gue ngerasa bersalah karena udah menyakiti perasaan Mas Rendra kaya gini, Mas Rendra bahkan berusaha terlihat baik-baik aja sekarang dan itu malah semakin membuat gue khawatir.
"Mas! Bisa Rin ngomong sama Mas Rendra sebentar? Berdua." Tanya gue yang langsung dihadiahi plototan gak karuannya Mas Hagi, gue tahu Mas Hagi juga sama khawatirnya sekarang tapi gue sama Mas Rendra memang butuh bicara, gue gak mungkin mengabaikan perasaan Mas Rendra dan bersikap seolah gak tahu apapun seperti saran Gea kalau memang Mas Rendra udah mmeberikan pengakuan kaya gini, berbeda kalau Mas Rendra belum ngomong apapun.
"Dek! Kamu itu_"
"Sebentar aja Mas! Rin cuma butuh bicara berdua sama Mas Rendra." Potong gue cepat, gue harus bicara sama Mas Rendra, berdua.