"Dingin, Mas?" Arinda merasa tak enak hati melihat Dimas yang keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah. Ia tahu betapa tersiksanya seorang laki-laki kalau hasratnya tak tersalurkan. Namun mau bagaimana lagi, Arinda tak bisa menentukan kapan ia akan datang bulan. Dimas mengangguk samar sambil mengelap sisa-sisa air yang menetes dari rambutnya. Kepalanya terasa sedikit berdenyut karena harus merasakan guyuran air dingin di jam sebelas malam. "Maaf, ya, Mas?" Ucap Arinda merasa bersalah. Dimas berjalan mendekati Arinda yang duduk dibibir ranjang. Kemudian ia mengecup dahi Arinda cukup lama. "It's oke, sayang. Kita istirahat sekarang, ya?" Arinda menurut dan mulai merebahkan tubuhnya disisi Dimas yang sudah lebih dulu berbaring. Keduanya berpelukan erat. "Good night, sayan

