EPISODE 5

1039 Words
Mia menyerahkan satu kantong plastik berisi tiga dos kue sus ke tangan Tasya, saat gadis itu akan membayar. Devian membuatkan tagihannya, sementara Tasya menyerahkan kue sus itu pada Lila. "Tolong simpan di motor dulu ya, La. Nanti aku nyusul setelah bayar," pinta Tasya. "Oke, aku tunggu di luar ya, sama yang lain," balas Lila. Tasya pun mengacungkan ibu jarinya dengan cepat. Ia kemudian kembali menatap Devian, yang kini menyerahkan struk tagihan ke arahnya. "Totalnya empat ratus delapan puluh dua ribu," ujar Devian. Tasya pun mengeluarkan dompetnya, dan membayar dengan uang tunai. Keano menyerahkan segelas ice americano pada Tasya, saat Devian masih memproses pembayarannya. "Eh, apaan, nih? Gue nggak pesan minuman lagi kok, Key," ujar Tasya, kaget. "Nggak usah bayar. Itu bonus karena kamu udah borong kue sus di sini," ujar Keano. "Ih, nggak rugi, ya? Jangan ah, kubayar aja, biar kalian nggak rugi," paksa Tasya. "Nggak rugi, Sya. Udah ambil aja, minum sampai habis," ujar Devian sambil menyerahkan uang kembalian. "Kali ini kuterima, tapi lain kali aku nggak mau ya kalian ngasih cuma-cuma kaya begini. Kalian itu di sini buat kerja, cari uang, bukan cari rugi," sekali lagi Tasya mengingatkan, seperti kemarin. "Iya, Tasya!!!" jawab Devian dan Keano, kompak. Mia tersenyum diam-diam, usai melihat bagaimana Adik-adiknya diceramahi. "Oke deh, aku balik dulu ke kantor, ya. Bye," Tasya pun melambaikan tangan kanannya ke arah Devian dan Keano. "Bye, Tasya." Tasya pun berjalan ke arah pintu, tepat di saat seorang wanita masuk ke dalam Cafe itu, dan membuka maskernya ketika hampir tiba di depan Devian, Keano, Mia dan Diden. "Hai, apa kabar kalian semua? Apakah masih berkubang dalam duka?" tanyanya. Membuat langkah Tasya terhenti, tepat saat ia akan membuka pintu menuju keluar. Wanita itu terdengar menertawai sesuatu. "Aku ke sini cuma mau mengecek aja, apakah kalian sudah bisa move on dari kematian anggota keluarga, atau belum? Tetutama kamu, Dev, sayang ya istri kamu harus meninggal dengan cara yang begitu tidak wajar. Padahal kalau mau diingat lagi, kamu harusnya akan menjadi seorang Ayah, jika Iren tidak mati. Hanya tinggal sebulan lagi, padahal," ejek wanita itu. BYURRR!!! PLAKKK!!! BRUAKHHH!!! Tasya menyerang wanita itu habis-habisan, hingga membuat kegaduhan yang terdengar sampai ke bagian luar Cafe. "Loh, ada apa tuh di dalam? Kok Tasya lama keluar, ya?" tanya Arga. "Woy, Tasya berantem!!!" teriak Veri, yang berhasil melihat ke dalam Cafe dari kaca yang bening. Devian, Keano dan Diden berupaya memisahkan Tasya dari wanita tadi, namun tenaga mereka kalah besar dengan tenaga Tasya. Dihantamnya wajah wanita itu bertubi-tubi tanpa rasa kasihan sama sekali. Mia melihatnya sambil menutup mulut akibat rasa kaget yang begitu luar biasa. "Kurang ajar!!! Berani-beraninya kamu bicara begitu di depan mereka!!!" teriak Tasya. HAHAHAHAHA!!! "Kenapa harus takut, pada mereka yang begitu hina sekarang???" balas wanita itu. BUGHHH!!! Tasya kembali melayangkan tinjunya tepat ke wajah wanita itu. "Dengar baik-baik, sekali lagi sampai aku mendengarmu membicarakan orang yang sudah meninggal di depan mereka, tanpa memberi predikat Almarhumah, maka aku akan merobek mulutmu!!!" tegas Tasya. HAHAHAHAHA!!! "Kenapa aku harus menghormati orang mati yang berselingkuh???" wanita itu semakin mengejek. "Sya!!! Udah, Sya!!!" teriak Lila, yang ikut berupaya memisahkan Tasya dari wanita tadi bersama Arga, Fian, dan Veri. Ketika akhirnya mereka terpisah, Tasya masih saja melayangkan tatapan buasnya ke arah wanita itu. "Sekali lagi kamu berani datang ke sini, maka kamu nggak akan pernah keluar dengan selamat dari pintu itu!!!" ancam Tasya, murka. Wanita itu menatap Tasya sambil tersenyum mengejek. "Kamu bisa apa, kalau hari ini aku akan melaporkanmu pada Polisi lain? Paling, kamu akan segera dipecat sekarang juga dengan tidak hormat dari kepolisian," balasnya, sama-sama mengancam. "Oke! Ayo buktikan!" tantang Tasya, "melaporlah, dan kita lihat siapa yang akan kalah lalu masuk penjara! Aku, yang memukulimu karena kamu telah menghina sahabat-sahabatku, atau kamu, yang datang menghina mereka dan sepertinya terlibat dengan kematian anggota keluarga mereka." Wanita itu pun kehilangan senyumannya, dalam sekejap. Apa yang Tasya katakan ternyata benar-benar ampuh untuk menyadarkannya, bahwa dia akan bisa mengalami kekalahan telak jika benar-benar melapor ke polisi. "Ayo, kenapa diam? Takut, atau kata-kataku mengandung kebenaran?" ejek Tasya, dengan senyumannya yang menyeramkan. Wanita itu pun bangkit, lalu buru-buru keluar dari Cafe tersebut tanpa berbalik lagi. Hening. Keadaan bertransformasi menjadi sangat sunyi dan dingin. Tasya meraih kain pel dan mulai membersihkan lantai yang kotor akibat ia menyiram wanita tadi. "Sya, udah, nggak usah dibersihin. Biar aku, aja," cegah Keano. "Nggak. Biar aku aja, Key. Kamu nggak pernah bisa kerja selama ini, kamu bahkan nggak bisa pegang sapu, dan aku tahu itu, Key!" balas Tasya, frustrasi. Devian mendekat dan memeluk Tasya dengan erat. "Maaf, Sya..., maaf...," ucapnya, gemetar. Tasya membanting kain pel di tangannya dengan emosi yang masih tersisa dalam dirinya. "Aku udah bilang, kalau ada masalah itu cerita! Lihat sekarang, aku harus tahu kalau kamu berkubang duka dari mulut kejam wanita itu! Bilang sama aku, Dev, apa lagi yang kamu sembunyikan? Bilang!" pinta Tasya, kali ini benar-benar memaksa. Diden menatap Mia, ia melihat Kakaknya begitu shock dengan apa yang baru saja terjadi. Mia sendiri merasakan kakinya begitu lemas tak berdaya. Ia berusaha ingin bangkit dari lantai yang ia duduki, namun rasanya begitu berat. "Kita nggak bisa ngasih tahu kamu, Sya. Kita nggak mau kamu terancam, jika sampai harus ikut campur dalam masalah keluarga kami. Apa yang kami lalui, tidak semudah yang kamu bayangkan," ujar Keano. Tasya tersenyum sinis, seolah menunjukkan rasa tak percayanya atas apa yang Keano katakan. "Menurut kamu siapa yang menganggap masalah kalian enteng, hah??? Kalian pikir aku ini suka bercanda dan hanya pura-pura bisa menghadapi apapun???" Tasya kembali murka. Keano kembali terdiam dengan kedua mata yang sudah tak bisa menahan airmata. Devian masih memeluk Tasya, namun tak berarti apa-apa, untuk emosi gadis itu yang terus saja meluap tanpa henti. "Oke..., oke..., kalau kalian masih juga nggak mau buka mulut dan bicara! Aku udah capek meminta baik-baik, maka jangan salahkan aku, kalau pada akhirnya aku tetap akan ikut campur meskipun kalian nggak mengizinkan!" tegas Tasya, seraya melepas paksa pelukan Devian dari tubuhnya. Tasya pun melangkah meninggalkan Moon Cafe dengan perasaan yang benar-benar kacau. Lila mengejarnya, yang tertinggal hanya Veri, Arga, dan Fian saja di sana. "Yuk, beresin semuanya sebelum balik ke kantor," ajak Arga. "Nggak ada yang mau bahas mengenai Tasya yang semakin buas?" tanya Veri. "Udah deh, Ver, toh Tasya memang dari dulu selalu begitu, 'kan," balas Fian. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD