Menari

1124 Words
Seorang penjaga pintu berlari menuju ke aula. Di sana, ia melihat banyak sesamanya tengah sibuk. Ia pun sempat bertanya pada penjaga yang lain. Saat dirinya dibisikkan sesuatu, lantas ia pun segera kembali menemui Ibu Suri. Berlutut di belakang Permaisuri Diandra. “Ada apa? Katakan!” Ibu Suri tak sabar. “Ampun, Yang Mulia ... di luar sedang mempersiapkan sebuah pesta.” “Pesta? Pesta apa?” tanya Ibu Suri lagi. Kali ini Permaisuri Diandra menghadap. Itu adalah kesempatannya untuk melapor. “Maaf, Yang Mulia ... itu pasti adalah pesta penerimaan selir baru.” Dengan senyumnya yang licik, Permaisuri Diandra merasa sangat yakin jika Ibu Suri akan marah besar kepada Raja Harry. “Kenapa aku tidak tahu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku sebelumnya?” Ibu Suri berhasil terpancing. Emosinya tiba-tiba naik dengan cepat. Karena takut, semua yang berada di sana pun terdiam. Membisu. Begitu pun dengan Permaisuri Diandra. Ia merasa tak perlu banyak bicara lagi karena ia yakin jika Ibu Suri sangat penasaran dengan sosok Elena. Benar saja, Ibu Suri terlihat sangat kesal. Ia sampai menggebrak kursi singgasananya. Detik berikutnya, ia berjalan tergesa-gesa. Penasaran dengan wanita yang baru saja diceritakan oleh Permaisuri Diandra. Segera Permaisuri Diandra bangkit mengikuti pergerakan mertuanya itu. Mereka berjalan keluar, ke aula. Mata Ibu Suri terbelalak saat melihat hiasan-hiasan yang ada, begitu pun saat melihat banyaknya pelayan yang berlalu lalang menyiapkan makanan. Ia sangat terganggu akan hal itu. “Berhenti!” Teriakan Ibu Suri mampu membuat setiap makhluk di sana terdiam kaku. Mata mereka pun melirik sumber suara dan kemudian bersujud seketika. Tak menghiraukan pekerjaan masing-masing. Lain hal dengan Raja Harry yang tampak duduk santai seraya mengisap alat yang seperti rokok itu. “Raja Harry!” panggil Ibu Suri. Ia berjalan menghampiri anaknya. “Iya, Ibu Suri? Kenapa kau menyuruh mereka berhenti?” Raja Harry bangkit dan merapikan jubahnya. Kemudian ia menaruh kedua tangan di belakang punggungnya. Berdiri tegap menghadap sang ibu. “Untuk apa kau melakukan semua ini?” tanya Ibu Suri. “Tentu saja untuk menyambut selirku yang baru.” “Selir?” Ibu Suri melirik Permaisuri Diandra yang berada di belakangnya. “Ya, bukankah Ibu ingin aku segera mempunyai keturunan?” Raja Harry berjalan dan mengambil sebuah apel merah di atas sebuah wadah besar. Apel itu ia gigit. “Ibu mau ini?” tawar Raja Harry. Ibu Suri menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku anaknya itu. “Tidak ... bukankah sudah banyak selir yang melayanimu?” “Memang banyak, tapi tak ada satu pun yang memberiku anak. Atau mungkin mereka memang sengaja tidak bisa memberikannya.” Raja Harry berjalan ke arah Permaisuri Diandra sambil menggigit apel itu lagi dan lagi. Sikapnya membuat Permaisuri Diandra muak. “Sengaja? Apa maksudmu?” Ibu Suri tak mengerti. “Ibu Suri tanyakan saja pada Permaisuri Diandra!” kata Raja Harry seraya mendekatkan wajahnya pada Permaisuri Diandra. Tampak Permaisuri Diandra sangat tak suka dengan nada ucapan yang seperti tuduhan yang diberikan Raja Harry. “A-apa maksud Tuanku?” Raja Harry menaikkan sebelah alisnya, lalu dia melempar sisa apel itu ke sembarang tempat. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, Ibu Suri masih berusaha untuk mengerti maksud dari perkataan anaknya tersebut. “Ha ha ha. Pelayan! Cepat kerjakan apa yang harus kalian selesaikan! Aku tidak mau jika selirku tidak mendapatkan sambutan yang baik,” titah Raja Harry. “Baik, Yang Mulia.” Para pelayan menyahuti perintah rajanya. Mereka bangkit dan kembali pada pekerjaannya masing-masing, mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk berpesta. Namun, Ibu Suri kembali berusaha menghentikan putranya. “Hentikan Harry! Untuk apa kau harus repot–” Sura pintu terbuka membuat Ibu Suri diam seketika. Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di bibir pintu. Begitu pun Sang Raja yang tampak tercengang dengan kehadiran Elena. Elena tampak sangat cantik. Dirias dan diberi pakaian layaknya para selir di sana. Wajahnya tampak begitu bercahaya. Tak pernah sama sekali Raja Harry melihat wanita secantik Elena di planetnya. “Musik!” teriak Raja Harry seraya menjentikkan jarinya. Alat musik yang ditabuh seperti layaknya gendang mengiringi langkah kaki Elena. Sementara itu, Ibu Suri dan Permaisuri Diandra masih saja berada di tempatnya masing-masing. Raja Harry melangkahkan kakinya menyambut Elena. Raja Harry mengulurkan tangannya untuk mengajak Elena berjalan bersama. Namun, Elena masih terlihat ragu dan malu-malu. Berulang kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau membuatku kesal,” gerutu Raja Harry. Sang Raja lantas menarik tangan Elena begitu saja. Sedikit menyeret wanita itu untuk berjalan bersamanya. Kemudian sang Raja berhenti di tengah-tengah. Menari. Menepuk-nepuk tangannya sambil mengelilingi Elena yang kebingungan. Gadis itu tak tahu harus berbuat apa, tapi ia sempat melirik Freya yang menggerak-gerakkan tubuhnya layaknya seseorang yang sedang menari. “Menarilah!” suruh Freya dengan isyarat mulutnya. Ia berkata tanpa bersuara. Begitu pun dengan Darrol yang melakukan hal tersebut. “A-aku harus menari? Bagaimana bisa? Bahkan aku sama sekali tak pernah menari di hadapan banyak orang. Aku hanya penari di kamar mandi,” batin Elena. Menari di hadapan banyak pasang mata tentu saja menjadi permasalahan baginya. Selama ia berada di bumi, ia memang salah seorang gadis yang tertutup. Ia pendiam, pemalu dan tentunya jarang bergaul dengan orang lain, bahkan rasa-rasanya ia tak memiliki teman yang begitu dekat dengannya. Satu hal saja, keberaniannya akan muncul hanya saat ia sedang berada di kamar mandi. Sementara musik berdendang, Elena masih saja berpikir. Matanya kemudian melirik lagi Freya dan Darrol yang malah asyik menari berdua. Mereka terlihat sangat cocok. Selain itu, Raja Harry pun masih melakukan hal yang sama sedari tadi. Terlebih, semua mata kini hanya tertuju padanya. Menanti pergerakannya. “Baiklah, Elena ... semua sedang menunggu. Kau anggap saja jika kau sedang berada di kamar mandi. Oke?” batin Elena sambil menyiapkan diri. Berulang kali ia mengambil nafas. Lalu perlahan ia menggerakkan tangannya. Raja Harry tampak senang akan hal itu. Ia malah semakin bersemangat. Mendekati Elena sambil menepuk-nepuk tangannya mengikuti irama. Perlahan Elena mulai terbawa suasana. Ia mulai menari. Menggerakkan tubuhnya seperti sedang menari tarian jaipong, freestyle, breakdance atau apalah itu. Pergerakan Elena sangat aneh. Akan tetapi, semua yang berada di sana malah bersorak dan ada beberapa yang bahkan mengikuti apa yang Elena lakukan. “Apa mereka menyukai gerakanku?” pikir Elena di sela-sela tariannya. Sorakan itu semakin keras terdengar dengan bertambahnya kecepatan ritme musik yang didendangkan. Permaisuri Diandra sangat tak menyukai hal itu. Namun, berbeda hal dengan Ibu Suri, ia tampak terhibur dengan apa yang dilakukan Elena. Ia sampai ikut bertepuk tangan dan tersenyum-senyum. “Apa bagusnya gerakan wanita itu? Gerakannya tidak jelas,” gerutu Permaisuri Diandra yang menekuk bibirnya sendiri. Semua tampak bahagia. Namun, Elena tiba-tiba terdiam saat Raja Harry menarik tangannya. Menariknya hingga jatuh ke dalam pelukan hangat itu. Matanya terbelalak saat sang Raja perlahan mendekatkan wajahnya. “Apa yang akan dia lakukan padaku?” batin Elena. Tubuhnya tiba-tiba saja kaku, seperti mati rasa. Ia seolah tak dapat bergerak untuk meloloskan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD