Olive adalah makhluk yang terkenal memiliki ilmu sihir. Ia dapat membuat ramuan-ramuan yang bersifat magis. Terlebih, ia terkenal sebagai seorang makhluk yang bisa menerawang masa depan. Banyak dari rakyat Planet Pandora yang datang padanya dan berani membayar sangat mahal hanya untuk melihat masa depan atau pun meminta ramuan. Maka dari itu, Raja Harry pun datang ke sana untuk menanyakan perihal Elena dan kejadian yang baru dialaminya.
“Silakan duduk, Yang Mulia.”
Tampak di atas meja sudah ada dua gelas air putih dan sebuah teko antik. Di tengah-tengahnya dihiasi dengan beberapa tangkai bunga. Sayangnya, bukannya memperindah, justru bunga itu malah membuat suasana semakin menyeramkan. Bunga berwarna hitam dipajang di sana.
“Terima kasih.”
Raja Harry duduk di sebuah kursi tua yang sudah berada di sana sejak tadi. Begitu pun dengan Olive yang kini duduk berhadapan dengan Sang Raja. Ia tampak tak bisa melepaskan pandangannya dari ketampanan Raja Harry.
“Kau pasti sudah tahu maksud kedatanganku, jadi aku tidak mau bertele-tele lagi.”
“Mm ... masalah wanita itu, kan?” sela Olive. Ia berkata dengan cepat.
“Iya. Kau memang tidak perlu diragukan ternyata.”
Raja Harry sangat mengagumi wanita yang kini berada di hadapannya. Ia yakin jika Olive sudah tahu maksud dari kedatangannya. Ya, ternyata benar, memang Olive tahu betul tujuan Sang Raja.
“Sebentar ....” Olive bangkit dan menuju ke arah rak buku miliknya yang menempel pada dinding rumahnya.
Tanpa perlu mencari, ia sudah mengetahui letak buku yang akan dibacanya. Diambilnya sebuah buku yang tampak usang dan berdebu. Buku yang sepertinya sudah lama tak dibacanya. Ia tiup butiran debu itu dan membawanya pada Sang Raja.
“Apa ini?”
Raja penasaran, ia buka buku itu. Sayangnya yang ia lihat hannyalah lembaran-lembaran kosong tanpa ada coretan tinta sedikit pun. Ia tak mengerti. Olive tak menjawab pertanyaan Raja Harry, mulutnya hanya melafalkan sebuah mantra. Berkomat-kamit. Raja Harry hanya bisa diam memperhatikan.
Dalam hitungan menit, kemudian muncul cahaya yang sangat terang dari buku tadi. Raja Harry refleks menghalangi pandangan dengan lengannya. Sayangnya cahaya itu tak kunjung pudar dan membuat Sang Raja penasaran. Ia perlahan menurunkan lengannya tadi dan melihat gambar di dalam lembaran kosong itu.
Raja Harry sangat terkejut dibuatnya. Namun, ia pun memperhatikan dan mengamati setiap gambar yang muncul. Hingga ia melihat gambar makhluk yang memakai mahkota.
“Apa itu aku?” Raja Harry bertanya-tanya.
Mata Olive terpejam dan mulutnya masih bergerak. Gambar yang tampil pun semakin kompleks dan membuat Raja Harry semakin penasaran. Detik berikutnya, mata Olive terbuka lebar, mulutnya berhenti mengucapkan mantra dan cahaya itu menghilang seketika.
Brak!
Sang penyihir menggebrak meja hingga membuat jantung Raja Harry tersentak. Olive terlihat sangat kelelahan dan dirinya lantas bangkit untuk meneguk segelas air yang berada di atas meja dengan tangannya yang gemetar.
“Ada apa?!” Raja Harry panik.
Wanita itu perlahan menggerakkan tangannya. Meraba-raba dengan matanya yang kembali terpejam. Mencoba menelaah dan berusaha mengartikan maksud dari buku itu.
“Wanita ... wanita itu luar biasa. Dia akan membawa perubahan di dalam planet kita.”
“Wa-wanita luar biasa? Siapa dia sebenarnya?”
“Dia bukan berasal dari planet ini. Aku tak bisa menjangkau terlalu jelas tempatnya berasal, tapi aku lihat di tempatnya itu banyak bangunan-bangunan yang tinggi setara tingginya pegunungan, ada burung besar yang terbuat dari besi berkeliaran di langit, banyak hal aneh yang kulihat. Aku tidak bisa begitu jelas menggambarkannya ....”
Tangan Olive masih bergerak meraba-raba sebuah gambar di sana. Gambar sebuah peradaban. Sementara Raja Harry sama sekali tak mengerti dengan penjelasan wanita itu.
“Mana mungkin. Dia hannyalah seorang hamba yang dipersembahkan karena masalah hutang. Tidak lebih.”
Bagi Raja Harry, Elena tak ayalnya sama seperti wanita-wanita yang telah dijadikannya selir. Elena hanya segolongan makhluk yang dirampas kebebasan hidupnya untuk bekerja guna kepentingan golongan makhluk yang lain.
“Lalu ... apa maksudmu dengan perubahan itu?” tanya Raja Harry.
Ia berpikir keras, bagaimana bisa seorang gadis kurus yang baru dikenalnya dikatakan sangat luar biasa. Ini sangat aneh baginya. Akan tetapi, sedikitnya ia pun tak menyangkal setelah mengalami kejadian luar biasa saat tadi mencium wanita tersebut.
Olive masih belum membuka matanya. Ia pun sepertinya sangat tertarik pada masalah tamunya. Sesuai dengan kastanya, masalah yang dibawa raja pun bukanlah hal yang main-main.
“Aku ... aku tak dapat melihatnya dengan jelas.”
Terlampau banyak kejadian yang melintas di kepala dan penglihatan Olive. Tangannya yang masih gemetar pun bergerak cepat. Semakin cepat dan ...
Boom!
Olive terpental. Ia jatuh dari kursi dan menyentuh dinginnya lantai. Sementara itu, Raja Harry terentak. Buku itu jatuh menyusul Olive. Tertutup dan sebuah tulisan bercahaya muncul di balik sampulnya.
Raja Harry segera bangkit dan mencoba menolong Olive yang seperti menggigil kedinginan. Mata wanita itu terbuka lebar dengan mulut yang menganga.
“Air ...,” pintanya dengan suara parau.
Raja Harry lantas bergerak dan memberikan segelas air miliknya untuk wanita itu. Olive segera menerima dan meminumnya habis dalam sekali tegukan. Ia minum dengan cepat sampai sebagian airnya membasahi pakaiannya. Ia tersedak sampai terbatuk-batuk.
“Tenanglah! Atur nafasmu!” pinta Raja Harry dengan suara sedikit membentak.
Pandangan Raja Harry beredar mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh wanita yang membuatnya panik tersebut. Hingga matanya pun menemukan sebuah kain yang dipakai alas meja. Ia balut dan selimuti Olive agar tubuhnya hangat.
“Apa yang kau lihat? Kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Raja Harry.
“Pergilah! Jangan pernah menginjakkan kaki lagi di sini! Pergi!” teriak Olive tiba-tiba.
Jelas saja Raja Harry menatapnya dengan tatapan heran. Bahkan ia merasa tidak melakukan sesuatu padanya. Ia sama sekali tak menyakiti wanita itu.
“Kenapa? Apa salahku?!”
“Pergi! Aku tidak mau ... aku tidak mau berurusan lagi denganmu!” teriak Olive lagi. Kini ia berusaha bangkit dan mendorong Raja Harry.
Sang Raja sebenarnya sangat kesal diperlakukan seperti itu, tapi ia pun harus mengerti jika tenaga Olive pasti terkuras habis karenanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi dan memilih pergi meninggalkan Olive. Memberikan waktu.
Raja Harry keluar dengan tatapannya yang kosong. Ia tidak mendapatkan petunjuk yang pasti. Penjelasan Olive sangat rancu dan sulit untuk dipahami.
“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Darrol yang baru saja tiba di sana. Ia datang untuk menyusul rajanya.
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Lebih baik kita pulang saja.”
“Baik, Yang Mulia.”
Walhasil Raja Harry lebih memilih untuk pulang. Pikiran dan tubuhnya sudah sangat lelah menghadapi kejadian yang sangat mengejutkannya itu. Ia pulang menggunakan kuda putih miliknya lagi dan diikuti oleh para pengawalnya. Sementara itu, Olive masih di dalam. Ia terlihat sangat ketakutan. Meringkuk dengan memeluk kedua lututnya di dalam alas meja yang berwarna merah tadi.
“Siapa dia? Wanita itu ... kenapa aku tidak bisa melihat masa depan lagi setelah kedatangan Pangeran Hermes nanti?” Olive menggigiti kuku-kukunya dengan ketakutan yang luar biasa. Ia sempat mengintip pada buku yang masih bercahaya itu.