Kabar Buruk untuk Permaisuri

1109 Words

Permaisuri Diandra masih menunggu dengan kegelisahan yang tiada tara. Rasa waswas terus-menerus menghantam ketenangannya. Ia terus berpikir, sepertinya ia harus mempunyai rencana lain. “Ya, aku sudah harus mempunyai rencana jika sampai ketakutanku terjadi, tapi apa?” Kembali Permaisuri Diandra menghela nafas berat. Ia bersandar di kursi sambil meletakkan tangan yang sudah dikepalkannya terlebih dahulu tepat di keningnya. Ia pukul-pukul kepalanya. Ia berusaha agar otaknya bisa berpikir dan menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang mengancamnya. Tak mau kecolongan, ia pun tak mau lengser begitu saja dari kedudukannya. Saking frustrasinya, kedua obat yang diberikan Si Pengelana ditumpahkan begitu saja di atas meja. Ia rasanya sudah tak berguna lagi. Obat penghambat kandunga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD