Di lain tempat, Permaisuri Diandra tak melihat sosok yang dicarinya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tampak Raja Harry sedang tertidur di kursinya dengan banyaknya buku yang masih dalam keadaan terbuka di sana. Raja Harry tidur dengan posisi tangan yang menopang kepalanya.
“Yang Mulia ....”
Permaisuri Diandra mengusap rambut dan kemudian wajah Sang Raja. Ia menantikan waktu dan kesempatan seperti itu. Ditatapnya Raja Harry dengan matanya yang masih terpejam. Tampak semakin tampan dengan wajahnya yang seolah-olah bercahaya, mengeluarkan kharismanya.
“Dia sangat tampan ....”
Semakin turun belaian tangan Permaisuri Diandra. Akan tetapi, sama sekali tak membangunkan Sang Raja dan membuat wanita itu sangat senang dibuatnya.
“Bahkan dia tak menolak sentuhanku,” batin Permaisuri Diandra dengan senyumnya yang merekah.
Permaisuri Diandra mendekatkan wajahnya. Ia menempelkan bibirnya tepat di bibir Sang Raja. Tentu saja pergerakannya membuat Raja Harry terkejut. Ia membuka matanya, terbangun dari tidurnya.
Mata Sang Permaisuri terpejam. Sementara itu, Raja Harry masih menatap tajam wanita yang telah mencuri kesempatan di dalam kesempitan itu. Dengan cepat Sang Raja memundurkan tubuhnya. Permaisuri Diandra refleks membuka matanya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Raja Harry yang lantas berdiri. Sedikit menjauh dan memberi jarak pada Sang Permaisuri.
“Ma-maaf ....”
Pipi Permaisuri Diandra memerah. Ia tersipu malu dan segera membalikkan tubuhnya. Sedang Raja Harry tampak kesal dan tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Permaisuri padanya.
“Bukankah kau wanita terhormat? Lalu ... kenapa kau tidak meminta izin untuk melakukan hal itu?”
“Memangnya ... salah jika seorang istri melakukan hal itu?”
Raja Harry tak dapat menjawab pertanyaan itu. Matanya malah beralih mencari sosok wanita yang tidur di ranjangnya. Melihat tempat tidurnya kosong, malah membuatnya panik.
“Ke mana wanita itu?” batin Raja Harry.
Sang Raja hendak pergi keluar untuk mencari Elena. Namun, baru saja mengambil satu langkah, Sang Permaisuri menarik tangannya.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Permaisuri Diandra yang sedari tadi menunggu jawaban dari Sang Raja.
Kedua alis Raja Harry menukik ke tengah. Ia berpikir keras. Mengingat keberanian Sang Permaisuri membuatnya berpikir jika Elena pergi karena diganggu oleh wanita yang kini berada di hadapannya. Ya, ia tak memikirkan jawaban untuk Permaisuri Diandra.
“Apa kau mengusir Elena dari kamarku?” tuduh Raja Harry.
“Apa?!”
Jelas saja Permaisuri Diandra terkejut karena apa yang terlontar dari mulut Sang Raja bukannya jawaban untuk pertanyaannya tadi. Ia tak habis pikir jika Sang Raja malah memikirkan wanita lain saat sedang bersama dirinya. Memikirkan wanita asing itu.
“Kau yang membuat Elena pergi, kan?” tanya Raja Harry lagi.
“Kenapa? Kenapa kau malah menanyakan wanita itu? Dia itu bukan wanita yang penting. Dia adalah wanita yang aneh.”
Raja Harry menurunkan tangan Permaisuri Diandra. Melepas tangan yang menahannya pergi. Ia yakin jika Elena pergi karena ulah Permaisuri Diandra.
“Dia memang wanita yang aneh, tapi mungkin dia wanita yang penting,” jawab Raja Harry seraya pergi berjalan keluar.
“Apa?!” Permaisuri Diandra ditinggalkan begitu saja dengan jawaban Sang Raja yang begitu mengecewakan baginya. Ia sangat kesal.
Raja Harry lalu bertanya ke salah satu penjaga pintu kamarnya. Ia pun diberi tahu arah yang Elena tuju. Raja Harry mempercepat langkahnya. Namun, baru sekitar sepuluh langkah, ia pun berpapasan dengan Pangeran Hermes.
“Pangeran!” panggil Raja Harry.
“Yang Mulia ... selamat pagi,” sapa Pangeran Hermes dengan senyumnya yang menawan.
“Apa kau melihat Elena?”
“Wanita asing itu?”
“Iya,” sahut Sang Raja.
“Dia baru saja kuantar ke kamar mandi.”
“Baiklah, terima kasih.”
Raja Harry tak mau berlama-lama. Ia bergegas melanjutkan langkahnya yang tertunda. Sedang Pangeran Hermes melihat Sang Raja dengan tatapan yang aneh. Ia berpikir dan menduga-duga.
“Kenapa dia sampai mencari wanita itu? Apa jangan-jangan dia ... ha ha ha. Aku suka Kakakku.” Pangeran Hermes tertawa terbahak-bahak sambil berjalan ke luar kastel untuk mencari udara segar. Tawanya pun berubah menjadi senyum licik seolah penuh rencana.
Kembali ke Raja Harry, ia berlari saat mendengar sayup-sayup suara tawa yang semakin mengeras. Perasaannya sudah tak enak. Terlebih ia tak melihat seorang pun yang berada di depan kamar mandi yang selalu digunakan selir itu. Ia curiga.
Sampai di depan pintu, ia malah mendengar suara tangisan. Pintu agak sulit untuk dibuka. Kemungkinan dikunci dari dalam. Dengan tenaganya yang kuat, ia pun mendobrak pintu itu.
Brak!
Tampak banyak wanita di sana. Mereka sangat terkejut dengan kedatangannya. Semua mata tertuju padanya. Namun, matanya sendiri justru hanya tertuju pada seseorang yang sudah basah kuyup di sana.
“Tolong ...,” lirih Elena meminta pertolongan saat ia melihat kedatangan Raja Harry di sana.
“Hentikan!”
Teriakan Raja Harry begitu menggema dan memenuhi seluruh ruangan itu. Suaranya yang berat membuat takut siapa pun yang mendengarnya. Begitu pun para selir di sana yang awalnya menatap Sang Raja kini beralih dan hanya menatap lantai saja. Tak ada yang berani mengangkat wajah satu pun.
Mereka melepaskan Elena yang lemah. Menurunkan semua ember yang tadi mereka pegang. Hingga ada beberapa ember yang airnya tumpah dan mengalir mengenai kaki Sang Raja.
“Elena!” teriak Raja Harry yang bergegas menghampiri gadis yang lemah itu.
Elena terbaring sambil memeluk selimut itu. Ia pegang erat. Raja Harry membantu Elena. Mengangkat tubuhnya, memosisikan gadis itu untuk duduk. Tangan Sang Raja menahan punggungnya.
“Elena, apa kau baik-baik saja?” tanya Raja Harry panik.
Keadaan Elena sangat lemah. “Yang Mulia ... aku ... mencuci selimutmu ...,” ucapnya.
Raja Harry menatap selimut yang dipegang gadis itu. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi Elena. Banyak kejadian yang menimpa selir baru di sana, akan tetapi, hannya pada Elena saja Raja Harry memberi perhatian lebih.
“Sudah, simpan saja! Kau tidak perlu repot-repot melakukannya.” Raja Harry menaruh selimut yang dipegang Elena. Ia lalu mengangkat dan memangku tubuh gadis itu.
Aneh memang, Raja Harry pun tak menyangka jika dirinya melakukan hal sejauh itu pada Elena. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan. Entah simpati atau empati. Yang ada di dalam pikirannya hanya ingin pergi membawa gadis itu ke kamarnya lagi. Sementara Elena hanya bisa pasrah dan sangat bersyukur ada yang menyelamatkannya.
“Tuhan ... apa ini sebuah takdir? Apa dia memang nyata? Apa Engkau mengirimnya sengaja untukku? Untuk melindungiku?” batin Elena. Matanya hanya menatap wajah Sang Raja yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
Raja Harry berjalan tegak dan gagah. Ia seolah tak merasa sedang membawa seseorang. Langkahnya tampak begitu ringan. Semua mata kini hanya tertuju kepada mereka berdua. Bahkan Pangeran Hermes yang baru saja tiba di sana sangat terkejut karena tak sengaja melihat kejadian tersebut. Pangeran Hermes kembali karena penasaran dengan apa yang akan Kakaknya lakukan.
“Mereka ....” Pangeran Hermes segera bersembunyi di balik tembok.