“Temani? A-apa maksudmu?”
Elena mulai merasa tak nyaman. Pikirannya mulai mengarah ke hal-hal negatif. Prasangka buruk. Wajahnya menunduk menghindari tatapan Sang Raja.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah kau belum mengetahui tugas seorang selir? Apakah di bumi tidak ada hal seperti ini?”
Raja Harry mengambil ujung rambut Elena dan memainkannya. Tak ada kekuatan yang keluar dari gadis itu, hingga membuat Sang Raja semakin penasaran saja padanya.
“Menurut sejarah ada, tapi aku pun tidak tahu pasti,” jawab Elena dengan polosnya. Ia hanya berkata apa yang dipelajarinya semasa bersekolah.
“Jika kau belum tahu, biar aku ajarkan,” kata Raja Harry mendorong tubuh Elena. Membaringkannya di atas ranjang.
Gadis itu terkejut dengan pergerakan Sang Raja yang tiba-tiba. Kekuatannya lebih besar dibandingkan tenaganya sebagai wanita. Elena menatap mata elang Sang Raja yang hendak memangsa buruannya.
“Ti-tidak. Ma-mau apa kau?”
Raja Harry mendekatkan diri seraya mengendus-endus. Namun, aroma wangi tubuh Elena agak lain. Berbeda dengan aroma tubuhnya saat pertama kali bertemu. Ada bau seperti tak asing baginya.
“Wangi darah ....” Raja Harry memundurkan tubuhnya.
“Darah?” Elena berpikir.
Hingga ia pun membalikkan tubuhnya saat mendapati di atas kain seprai itu terdapat noda darah. Raja Harry memperhatikan pergerakan Elena.
“Astaga! Jangan-jangan aku ... memalukan ...,” gumam Elena.
Gadis itu panik dan mendorong Raja segera. Ia bangkit dan bergerak mencari segelas air. Hingga ia melihat seperti cawan atau gelas yang terbuat dari emas lengkap dengan tekonya. Tanpa berpikir lagi, ia menuangkannya ke dalam gelas dan menumpahkannya ke atas ranjang tepat di noda darah tersebut. Ia gosok-gosok dengan pakaiannya, mencoba membersihkannya.
Pipinya sudah berubah seperti tomat merah. Ia baru ingat jika dirinya memang menunggu jadwalnya sebagai perempuan. Jadwal datang bulan. Ia tak habis pikir, akan terjadi di tempat asing tersebut. Akan tetapi, ia bersyukur karena bisa terbebas dari cengkeraman Sang Raja.
“K-kau?” Raja Harry tak bisa berbuat banyak lagi. Mau tidak mau, ia harus mengalah.
“Maaf ... a-aku sedang berusaha membersihkannya.” Elena masih berusaha menggosok-gosok pakaiannya pada noda itu. Bukannya hilang, noda tersebut malah membuatnya semakin menyebar.
“Hentikan! Kau malah mengotori tempat tidurku.”
“I-ini sedikit lagi,” kata Elena. Ia kembali mengambil segelas air lagi dan menuangkannya kembali di sana. Hingga membuat tempat tidur Raja Harry sangat basah.
Geram dengan perbuatan Elena, Raja Harry pun segera menarik tangan gadis itu. Mendekatkan wajahnya yang perlahan berubah menjadi sangat menakutkan. Telinganya yang seperti seekor serigala terangkat tegak. Tubuhnya perlahan mengeluarkan bulu-bulu tipis dan berubah jadi sedikit lebat. Menutupi tubuhnya yang kekar berotot.
Elena sangat terkejut. Sangat mengerikan melihat penampakan Raja Harry yang tampan berubah demikian. Perlahan matanya melirik tangan Sang Raja yang begitu besar dengan otot-otot uratnya yang seperti keluar. Seram. Elena gemetaran.
“Cepat keluar dari kamarku!” teriak Raja Harry yang mulutnya terbuka dan menampakkan gigi-gigi taringnya yang tajam seolah siap kapan saja menembus lapisan kulit Elena.
“Ya-Yang Mulia ... tolong jangan sakiti aku!” Elena memohon.
Gadis itu malah menampakkan wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca. Detik berikutnya, ia menangis dan membuat Sang Raja kebingungan. Ia menangis tersedu-sedu. Sang Raja yang melihatnya perlahan berubah seperti semula. Kembali berwajah tampan dengan kepanikan yang luar biasa.
“Ke-kenapa kau malah menangis seperti itu? Diamlah! Aku tidak pernah menyakiti wanita.”
Bukannya diam atau pun tangisnya mereda, justru Elena malah semakin keras menangis dan berteriak-teriak memanggil ibunya. Raja Harry semakin panik dibuatnya.
“Berhentilah menangis! Katakan saja apa yang kau mau?”
“Aku ... aku ... izinkan aku tidur di kamar ini. Aku takut tidur di luar. Tidak ada satu makhluk pun yang aku kenal. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa aku percayai di sini. Aku ingin pulang ....” Elena menangis sesenggukan.
Raja Harry memegang pundak Elena perlahan. Mengelusnya agar tenang. “Ba-baiklah. Tidur saja di sini.”
“Terima kasih,” kata Elena dengan cepat. Ia menggelar selimut tebal sebagai alas kasur yang basah.
Bukannya pergi membersihkan diri. Ia malah memeluk bantal dan tanpa sama sekali memperhatikan sang empunya ranjang. Ia berharap kembali pulang dan berniat untuk membersihkan diri nanti ketika berada di bumi.
“Lebih baik kau pergi ke ruangan para Selir! Wanita yang sedang datang bulan tidak diizinkan untuk memasuki kamarku,” kata Raja seraya menekan-nekan pundak Elena dengan jari telunjuknya.
Sayangnya tak ada respons dari Elena. Raja Harry hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lantas berjalan lemah dan duduk di sebuah kursi di sana.
“Kenapa aku tak bisa berkata kasar padanya? Siapa dia sebenarnya? Apakah aku harus melindunginya?” batin Raja Harry.
Ia tak bisa tertidur karena matanya terus-menerus menatap Elena dari kejauhan. Wanita itu tampak seperti sudah tertidur. Tak ada lagi pergerakan yang terlihat darinya. Hanya saja, posisi tidurnya membuat Sang Raja hanya bisa menahan tawa saja. Ia tidur menyamping dengan posisi kakinya yang terlipat menindih bantal guling. Sementara tangannya melayang di atas kepalanya sendiri.
“Apakah rakyat di bumi selalu tidur seperti itu?” pikir Sang Raja.
Karena belum mengantuk, ia mencoba untuk mencari informasi mengenai tempat tinggal yang gadis itu sebutkan. Ia cari dari beberapa buku sejarah dan tata letak geografis. Lembaran demi lembaran ia baca. Namun, tidak ada satu buku pun yang bisa menjelaskan apa yang sedang dicarinya.
Yang ia ingat justru hannyalah perkataan Olive yang membuatnya bingung. Pikirannya melayang-layang. Hingga ingatannya mengulang-ulang saat di mana dirinya mencium gadis itu.
“Kenapa? Rasanya sangat berbeda ....”
Raja Harry berjalan ke arah Elena yang tertidur lelap. Ia menutupi tubuh sang gadis dengan selimut miliknya yang lain. Elena tak bergerak sama sekali. Matanya masih terpejam. Lantas Raja Harry membungkuk untuk memastikan. Ia melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Elena.
“Dasar wanita aneh! Begitu cepat ia tidur. Tadi dia menangis dan aku selalu tak tega saat melihat sorot matanya.”
Mata Raja Harry mengawasi setiap jengkal wajah Elena. Alis, mata, hidung dan pipi gadis itu tampak sangat menggemaskan di matanya. Hingga matanya pun tertuju pada bibir merah merona di sana. Raja Harry menelan ludahnya kasar.
“Dengan hal itu, dia bisa melakukan hal yang mengejutkan. Bagaimana bisa?”
Semakin penasaran, Raja Harry mencoba meraih bibir Elena. Berusaha untuk memegangnya. Namun, tiba-tiba saja Elena bergerak dan membuat Raja Harry terkejut. Elena masih dalam keadaan terpejam, ia hanya mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
“Oh, hampir saja ...!”
Jantung Raja Harry berdetak cepat. Dengan posisi seperti itu, membuat Sang Raja bisa lebih leluasa untuk menguji kekuatan yang gadis itu miliki.
“A-apakah aku harus melakukannya sekali lagi? Menciumnya lagi?” Lagi-lagi Sang Raja menelan ludahnya kasar.