Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Yasmin belum pulang sampai saat ini. Raga yang sejak tadi berjalan mondar mandir didepan pintu rumahnya dibuat geram dengan tingkah gadis itu. Bagaimana tidak, Yasmin sudah menandatangani surat perjanjian aturan-aturan yang harus ditaatinya. Didalam peraturan itu, Yasmin tidak boleh pulang lebih dari jam 10 malam tapi lihat sekarang, gadis itu justru berani melanggar aturan yang sudah dia tandatangi sendiri.
"Anak itu benar-benar ya. Lihat saja, kalau dalam 10 menit kedepan dia belum pulang juga, aku akan memberinya hukuman yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan."
Tepat 10 menit setelah Raga mengatakan hal itu, ternyata Yasmin belum juga pulang. Hingga saat pria itu berniat menghubungi kembali nomor Yasmin, ternyata Yasmin sudah lebih dulu menghubunginya. Tanpa pikir panjang Raga pun langsung mengangkatnya, pria itu langsung mengeluarkan semua omelannya sebelum Yasmin sempat berbicara.
"Yasmin, kamu dimana? Kenapa sangat berisik, kamu pergi ke club lagi?" tanya Raga dalam sambungan teleponnya. Darah pria itu seketika mendidih begitu mendengar suara dentuman musik yang terdengar begitu kencang. Sudah bisa dipastikan saat ini Yasmin sedang berada di club malam.
"Lo bisa jemput gue nggak? Gue nggak bisa pulang," teriak Yasmin.
"Share lokasi sekarang! Jangan berani macam-macam sebelum aku datang!"
Tanpa menunggu balasan dari Yasmin, Raga langsung mematikan sambungan teleponnya. Hingga detik berikutnya terdapat sebuah pesan masuk dari Yasmin yang mengiriminya lokasi tempat gadis itu berada. Tanpa pikir panjang Raga langsung menyambar jaket dan kunci mobil yang sejak tadi sudah ia siapkan untuk berjaga-jaga mencari Yasmin.
Dengan kecepatan diatas rata-rata, Raga mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang terlihat masih ramai. Selama perjalanan, pria itu tidak berenti mengeluarkan sumpah serapahnya. Dalam hatinya dia tidak akan membiarkan Yasmin bebas dari hukuman yang akan dia berikan nantinya karena sudah melanggar aturan yang sudah mereka sepakati.
Ditempat lain, Yasmin terlihat mendudukan dirinya disalah satu kursi yang berada di sebuah club malam. Sesekali gadis itu meneguk wine yang sudah ia pesan sambil tersenyum senang membayangkan rencananya yang sebentar lagi akan berhasil.
"Yasmin, ya? Gue sepupu Naomi yang disuruh bawa Gladys," sahut seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri Yasmin.
Yasmin terlihat melirik kearah pria yang kini berdiri disampingnya, hingga kemudian gadis itu mengangguk. Tadi sebelum melaksanakan aksinya, dia sempat meminta bantuan Naomi untuk menjebak Gladys. Tidak mudah bagi Yasmin membujuk sahabatnya itu untuk mau membantunya, mengingat jika Raga yang akan menjadi salah satu korban rencana liciknya itu. Namun namanya sahabat, mau tidak mau Naomi pun terpaksa membantunya.
"Dimana dia sekarang?"
"Dia udah gue bawa ke salah satu kamar disini."
Yasmin mengangguk. Gadis itu terlihat membuka tasnya, mengeluarkan beberapa lembaran uang 100 ribuan kemudian memberikannya pada sepupu Naomi itu "Ini buat dpnya, nanti kalau semua rencana berhasil, gue transfer sisanya lewat Naomi."
"Sip! Thanks ya, lain kali kalau ada kerkaan lagi hubungi gue aja."
Tepat setelah pria tadi pergi, Raga datang. Pria itu terlihat tergesa-gesa masuk kedalam club lalu mencari keberadaan Yasmin. Begitu menemukan keberadaannya, tanpa mengucapkan apapun ia langsung menarik tangan Yasmin, hendak membawanya pergi dari tempat maksiat itu.
"Raga apasih, sakit tahu! Lagian lo ngapain sih datang-datang main tarik tangan orang aja!"
"Pulang!"
"Nggak mau! Lebih baik lo duduk dulu, kita minum bentar," ajak Yasmin sambil menarik tangan Raga untuk duduk disampingnya.
Dengan cepat Raga menggeleng, menolak ajakan Yasmin untuk minum. Tujuan pria itu datang adalah untuk menjemputnya pulang, bukan untuk minum bersama. "Tidak! Pulang sekarang, Yasmin!"
"Gue nggak mau pulang sebelum lo minum bareng gue. Ckk lagi pula apa susahnya sih minum satu gelas kecil aja? Atau jangan bilang lo nggak bisa minum?" tanya Yasmin sambil menatap remeh kearah Raga.
Tidak terima dirinya diremehkan seperti itu, Raga pun langsung mendudukan dirinya tepat disamping kursi Yasmin. Melihat Raga yang sudah mulai terpancing olehnya, Yasmin pun tersenyum. Gadis itu meminta seorang pelayan untuk memberikan segelas wine pada Raga.
Dengan sekali tegukan Raga menghabiskan segelas wine yang baru saja di berikan padanya. "See? Aku sudah menuruti kemauanmu, jadi sekarang ikut aku pulang!"
"Oke."
Saat hendak beranjak berdiri, tiba-tiba kepala Raga terasa sangat sakit. Aneh, padahal sebelumnya pria itu tidak merasakan pusing sama sekali, tapi kenapa sekarang tiba-tiba sangat pusing?. Melihat hal itu, Yasmin pun menyunggingkan senyum senangnya. Dengan sekali gerakan gadis itu meraih tubuh Raga dan membopongnya pergi dari club malam. "Sebentar lagi lo bakalan masuk ke dalam perangkap gue, Raga Ravindra Malik."
,,,,,,,,,,,
Cahaya sinar matahari yang memasuki sebuah kamar melalui celah jendela membuat seorang gadis yang tadinya tertidur pulas perlahan mulai membuka matanya. Hal pertama yang dirasakan gadis itu adalah rasa pusing yang menjalar dikepalanya. Sambil menyerngit, gadis itu mencoba membuka penuh matanya, mengumpulkan semua nyawanya. "Dimana ini? Sepertinya ini bukan kamar gue," gumamnya sambil sedikit memijat pelipisnya.
Hingga beberapa saat kemudian gadis itu berteriak cukup keras saat melihat seorang pria tengah tertidur pulas disampingnya dengan keadaan bertelanjang d**a. Suara teriakan yang cukup keras itu berhasil membuat pria itu langsung terbangun membuka matanya.
"Pak Raga!! Kenapa bapak tidur disini?!!"
Pria yang adalah Raga itu menatap kaget gadis yang duduk diatas ranjang yang sama dengannya. "Gladys? Kamu ngapain disini? Kenapa kamu bisa tidur disini?"
Sontak Gladys yang merupakan gadis tadi pun langsung menangis "Hiks apa yang sudah bapak lakukan pada saya? Kenapa bapak tega sama saya!" tanyanya sambil menangis kencang. Oh bayangkan saja, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba terbangun disamping seorang pria. Wajar jika Gladys sangat terkejut.
"Apa? Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak tahu apapun kenapa kita bisa tidur berdua disini. Aku juga tidak melakukan apapun padamu."
"Bohong!! Kalau bapak tidak melakukannya kenapa saya bisa disini? Kenapa bapak juga berpenampilan seperti itu? Hiks pak Raga jahat! Saya tidak menyangka pak Raga sebejat ini!!" dengan cepat Gladys turun dari ranjang kemudian berlari keluar kamar tanpa menggunakan alas kaki.
Raga sendiri masih terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya semalam ia pergi ke club guna menjemput Yasmin, tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia ada disini dan tidur bersama Gladys?
"Nggak! Aku tidak mungkin melakukan apapun padanya. Aku tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Tapi bagaimana caranya aku bisa disini?"
Menghela nafasnya kasar, Raga segera mengambil pakaiannya yang tergeletak dilantai. Memakai pakaiannya itu lalu segera pergi dari kamar itu sebelum terjadi kejadian buruk yang lainnya.