Bab 3

3595 Words
Keesokan harinya. Jam 12.30 Rena sudah tiba dikantor Dani. Rena sudah menunggu diruang tamu, sesuai instruksi dari Stella. Dani keluar dari ruangannya, berjalan menuju pantry. Rena melihat pria yang memberinya kartu nama beberapa saat yang lalu, tapi dia diam. Karena dia sadar, saat ini masih jam istirahat. Setelah beberapa saat, Dani keluar dari ruang pantry sambil membawa secangkir kopi. Bisa tercium dari aroma nya. Dia berjalan santai menuju ruangannya. Rena tak berani melihat, dia hanya menunduk dan memainkan jarinya. Saat melewati ruang tamu, pria ini menoleh. Dani melihat sosok seperti yang dia kenal. Dia menghentikan langkahnya. "Rena ya?" Tanya Dani untuk meyakinkan. "Eh! Iya Pak..." Jawab Rena dengan tersenyum dan menganggukkan kepala dengan sopan. "Kamu sudah lama disini?" Tanya Dani. "Nggak pak. Saya baru tiba kok" Rena menjawab. "Ayo ke ruanganku sekarang aja" Ajak Dani. "Tapi ini kan belum jam 13.00. Silahkan Bapak istirahat dulu" kata Rena. Dia merasa tak enak harus memangkas jam istirahat. "Saya sudah istirahat kok. Silahkan masuk ke ruangan. Biar urusan ini segera selesai." Lalu Rena berjalan membuntuti Dani masuk ke ruangannya. Rena melihat tulisan PRESIDEN DIREKTUR yang menempel di pintu. 'Astaga! Dia direktur? Padahal kemarin aku ngeomel-ngomel ke dia.' batin Rena dengan menyesal. Jantungnya juga berdetak kencang. Rena kuatir Dani akan berbalik mengomelinya. "Silahkan duduk. Aku bereskan dokumen dulu ya..." Ujar Dani sambil meletakkan kopinya di meja kerja. Lalu ia memillah dan menumpuk dokumen agar terlihat lebih rapi. Selagi Dani masih sibuk membereskan dokumen, Rena mencermati seluk beluk ruangan ini Gadis ini melihat foto besar yang tertempel di dinding. Rena meyakini foto itu adalah foto keluarga Dani. Karena wajah mereka tampak mirip. "Baik Rena....kita bicara mengenai pekerjaan. Ada yang bisa aku jawab?" tanya Dani. Dani membuyarkan konsentrasi Rena. "Emmm....Lowongan kerja yang bapak kasih ini kan Personal asisten ya? Tapi saya nggak paham personal asisten itu apa?" Tanya Rena dengan polos. Wajah Rena yang penuh tanda tanya membuat Dani terkekeh. "Dulu aku punya PA atau biasa di sebut personal asisten. Beliau laki laki. Tapi karena uda tua, beliau aku pensiun kan. Tapi hingga saat ini aku tetap memberikan gaji bulanannya. Sebagai rasa terima kasihku ke beliau. Karena tanpa beliau, aku tidak akan bisa menjadi seperti ini. Mengenai job description personal asisten, ya membantu aku supaya tetap sehat dan bisa beraktivitas dengan dinamis." "Contohnya seperti apa ya Pak?" Rena bertanya lagi, karena dia belum mengerti. "Aku punya kelemahan. Aku tidak bisa mengikat dasi, itu tugasmu. Memberi asupan makanan sesuai menu. Menyiapkan baju celana sepatu yang akan aku gunakan." "Maaf... lowongan ini seperti pembantu rumah tangga gitu Pak?" Tanya Rena pelan, takut Dani tersinggung. Dani terkekeh lagi. "Jelas beda....kamu hanya mengurusi aku, kamu nggak perlu mengurusi kebersihan apartemen, cuci baju dan lainnya. Cukup aku tok...paham?" "Iya pak" ucap Rena, padahal Rena masih bingung. "Lalu bagaimana? Kamu mau? Oh iya... personal asisten ini tidurnya sama aku" "Ya???" Rena langsung bereaksi. Dia sedikit terkejut dan menganga, membuat Dani tersenyum. Wajah Rena terlihat lucu bagi Dani. "Oh...maaf...ada ruangan khusus untuk kamu. Bukan sama aku. Maksudnya kamu tidur di apartemen ku" Dani meluruskan, senyumnya masih mengembang. "Kenapa harus tidur di apartemen ya Pak?" Rena kembali bertanya. "Tiap pagi kamu harus datang pagi, menyiapkan menu sarapan, baju dan mengikat dasi. Siang terserah kamu. Malam aku pulang, harus sudah ada makan malam, kecuali aku kasih kabar ga makan malam dirumah. Jadi aku rasa kalo kamu pulang pergi, kok kayaknya nggak fleksibel. Malah kamu yang capek. Mungkin kamu kuatir kalo aku macam-macam ya?" Rena tak menjawab, tapi wajah kuatirnya cukup mewakili. "Aku nggak sebodoh itu Ren. Aku masih punya orang tua. Mereka susah payah membangun bisnis ini. Aku nggak mau mencoreng nama mereka dan perusahaan ini. Kamu paham kan yang kau maksud?" "Paham pak" Jawab Rena. 'Lagipula, aku juga bukan tipe dia. Pasti ceweknya kayak artis sinetron. Yang wajahnya mulus, rambut terawat. Bukan kayak aku yang mbeladus gini... ' batin Rena. "Jadi bagaimana Ren?" tanya Dani dan melihat Rena. Dani tahu, Rena masih ragu tentang pekerjaan ini. "Baik pak saya mau menjadi personal assisten. Kapan saya mulai kerja?" "Nanti malam kamu boleh bawa barang barang ke apartemen. Kebetulan aku jam 5 sudah off, ga ada meeting. Di lobby apartemen kamu cari yang namanya Ronald. Nanti dia yang mengantarkan ke atas." Kata Dani sambil menulis diselembar notes, dan memberikan ke Rena. "Itu alamat apartemen, kamu boleh kasih notes itu ke Ronald. Biasanya dia ada di depan resepsionis." kata Daani lagi. "Baik pak....saya permisi dulu, mau berkemas" "Ok...semoga kamu betah". 'Hmmmm ga ada salahnya dicoba. Ntar sambil jalan, aku ngelamar kerja lagi.' batin Rena. *** Sekitar pukul 6 petang. Rena memarkir motornya di tempat khusus penghuni, sesuai instruksi dari Dani. Dia berjalan sambil membawa tas ransel dan sebuah tas tenteng. Seperti orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di apartemen, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Wajahnya terlihat bingung. Rena berjalan menuju pria yang memakai seragam safari sedang berdiri tegap di luar pintu kaca. "Malam Pak. Saya mau ketemu dengan pak Ronald." Ucap Rena berusaha sopan. "Maaf, ibu dari mana?" Tanya pria ini penuh selidik. Memang tugas dia harus menjaga keamanan, secara alami sifat curiga akan muncul. Kadang-kadang tindakan kejahatan datang tak terduga. "Saya di kasih pak Dani ini ... " Rena menunjukkan kertas kecil. Security membacanya dan melihat wajah Rena sekilas. "Oh.. Mari saya bantu ke receptionist Bu." Ucap si security setelah membaca kertas kecil tadi. Sikapnya langsung berubah. 'Kenapa dia berubah setelah baca kertas ini?' batin Rena membuntuti si security. Gadis ini menyempatkan membaca kertas kecil, di situ hanya ada tulisan. Ronald; 17.00 (Daniel, 25). "Malam Bu, ini ada yang cari pak Ronald. Tujuan lantai 25." Kata si security saat tiba di depan meja receptionist. "Baik. Tunggu sebentar ya." Ujar si receptionist sambil mengangkat gagang telpon. Si receptionist bicara sangat lirih, hingga Rena tak bisa mendengar. Dan security masih berdiri tegap di belakang Rena. Si receptionist meletakkan gagang telpon dan tersenyum kepada Rena. Rena pun membalas dengan senyuman dan anggukkan. "Malam Bu Rena... " Suara tegas berasal dari belakang tubuhnya. Secara reflek dia berbalik. "Iya malam... " Balas Rena dengan ragu. Karena dia tak kenal dengan pria yang berjalan mendekat ke arahnya. "Saya Ronald Bu... " Ucap pria ini membungkukkan badannya. "Oh.. Iya Pak Ronald... " Rena ikut melakukan hal yang sama. Membungkukkan badan. "Mari Bu, tas nya saya bawa. Kita ke atas... " Ucap Ronald. Setelah itu Rena hanya menurut kemana arah langkah si Ronald. Mereka berhenti di depan pintu lift. Tak lama pintu lift terbuka, di sana hanya tertera angka GF, UG, 5 dan 25. Ronald menekan tombol 25, paling atas. 'Beneran ke lantai 25??? Aku kan acrophobia"' pikir Rena, tapi dia hanya diam. Acrophobia adalah ketakutan pada ketinggian. "Di lantai 25 hanya dihuni 2 keluarga, keluarga pak Daniel dan keluarga bu Denty" Ronald menjelaskan saat lift sedang berjalan ke lantai tujuan. "Bu Denty itu siapa pak?" tanya Rena dengan polos. "Kakak perempuan pak Daniel, tapi beliau sekarang keluar negeri. Di lantai 25 bukan apartemen biasa. Kami sebut penthouse. Hunian lantai teratas, terluas dan termewah" "Ting" pintu lift terbuka. Ronald keluar terlebih dulu, Rena membuntuti dari belakang. "Pak Dani sebelah sini, yang sebelah sana milik Bu Denty Artamoro" sambil menunjuk ke arah yang berlawanan. Lalu Ronald menekan bel. "Masuk...." Terdengar suara dari arah dalam. Ronald membuka pintu, dan mempersilahkan Rena masuk lebih dulu. Gadis ini menatap sekeliling ruangan yang baru dimasuki. Rena terkesima melihat luasnya ruangan dan interiornya. Walaupun simple, tapi terlihat mewah dan elegan. Tapi begitu dia melihat ke arah yang lebih jauh, tampak kelap kelip yang terlihat, tangannya mengeluarkan keringat dingin, dia mearsa cemas dan resah. 'Ini tinggi banget'.batin Rena. "Hai Rena.... silahkan duduk" sambut Dani berwajah datar memecah ketegangan Rena, dia mendekati Rena dan bersalaman. "I-iya pak" Rena menjawab terkaget. "Who is she?" Tanya seorang pria. "She is my new personal asisten, kenalkan Rena, dia teman saya" ujar Dani. Tapi Dani tak bercerita jika Rena lah yang mengomelinya. Bisa-bisa Vino akan mengejeknya. "Vino" ucap pria itu mengulurkan tangannya kepada Rena. Dengan ragu Rena menjabat tangan Vino dan dia menyebutkan namanya. "Kamu naik ke atas! Disitu ada 1 kamar. Itu kamar kamu, letakkan barangmu disitu. nanti jam 8 kita bicara lagi!" ujar Dani dengan nada memerintah. "Baik pak" Rena pun berjalan menuju ruangan yang dimaksud sambil membawa barang bawaannya. "Kamu beneran tinggal serumah ama wanita? Hati hati banyak setan... kontrol nafsumu" Ledek Vino. "Come on...." kata Dani dengan nada rendahnya seolah berbicara 'nggak mungkin' Secara tak sengaja Rena mendengar pembicaraan mereka. 'Ok Rena, di sini kamu kerja, jangan bermain hati, kembali ke tujuan, kerja demi kuliah Rino dan adik-adik. Lagian kamu juga harus tau diri Ren. Bos mu super sempurna. Sedangkan kamu orang udik.' batin Rena sambil menarik napas panjang. Perlahan Rena membuka kamar. Dia melihat kamar yang akan dia tempati dengan mata berkaca-kaca. 'Dek, mbak minta maaf kalo tempat bobok mbak ini jauh lebih baik dari kalian. Kalian pasti nggak percaya kalo kamar mbak seperti sinetron.' gadis ini tak percaya. Rena menata bajunya dan menitikkan airmata. Hati Rena campur aduk. Antara senang dan sedih. Senang karena dia mendapatkan pekerjaan dan tempat yang jauh lebih baik. Sedih karena adik-adiknya tidak merasakan hal yang sama. Karena selama ini mereka hanya tidur kasur yang bisanya sudah tipis. *** Pukul 20.00 Rena menuruni tangga. Dani sedang duduk di sofa sambil memangku laptop. "Maaf pak...ini sudah jam 8" Suara Rena memecah perhatian Dani pada layar laptop. "Oh ya ... silahkan duduk, kita bicarakan mengenai job description kamu sehari hari" Rena duduk di sofa yang lain dengan sopan. Setelah pembicaraan yang cukup lama, Rena paham tentang pekerjaanya. Intinya memasang dasi yang rapi. Karena Dani sering mengulang bagaiman ideal dan aturan memakai dasi. Dani rela mengambil dasi dan mempraktekkannya. Tak lupa dia menunjukkan foto beberapa pria mengenakan dasi dari ponselnya, "Jadi kamu sekarang belajar cara pasang dasi. Cari videonya. Dan ada poin penting lainnya." BIG NOTES : * SELAMA BEKERJA DAN SAAT ADA DANI, RENA DILARANG MENGGUNAKAN CELANA PENDEK ATAU BAJU KETAT. * SELAMA DANI DI APARTEMEN, RENA HARUS BERADA DI APARTEMEN JUGA. "Maaf pak.. siapa yang membersihkan rumah ini?"tanya Rena, karena sejak tadi Dani tak mengungkit masalah kebersihan apartemen. "Kamu bisa hubungi Ronald. Dia yang handle, nanti ada orang yang datang" jawab Dani. "Boleh nggak saya yang membersihkan? Karena setelah bapak berangkat kerja saya ga ada kerjaan" "Oh...tentu saja" "Tapi...." Rena menggantungkan kalimat. "Tenang....biaya operasional kebersihan akan aku alihkan ke kamu. Atau kamu bawa kartu debit ku aja ya? Untuk belanja, gesek tunai bisa kok. Itu ada limit cuma 50 juta." " Hah? 50 juta?" Rena tak bisa membayangkan uang sebanyak 50 juta. "Kurang ya? Ok ..aku ganti dengan yang limit lebih besar" Kata Dani hendak mengeluarkan kartu lainnya. "Bu-bukan pak, malah kebanyakan. Untuk apa 50 juta sebulan?" "Tentu saja untuk makan kita berdua. Katanya kamu mau uang kebersihan juga, kamu tanya Ronald berapa biayanya, kamu ambil aja ya..." "Baik pak" "Tapi yang terpenting tugas utama sebagai PA ya? Masalah bersih bersih terserah kamu yang atur, aku juga ga mau kamu capek dan sakit, paham?" Tak lama ada orang yang mengetuk pintu. Rena membuka pintu, ternyata Ronald sambil membawa bungkusan. "Ini pesanan pak Dani" ujar Ronald sambil memberikan bungkusan itu ke Rena, lalu beranjak pergi. "Terimakasih pak" sambut Rena, dan menutup pintu. Lalu Rena kembali duduk di seberang Dani. "Ini ada pesanan dari Ronald, untuk bapak" Ucap Rena dengan sopan. "Oh...itu makan malam kita. Buka aja. Kita makan sama sama sambil ngobrol ringan ya ...." "Baik pak" Makanan ini hanya roti rotian dan salad. Tentu saja tak mengenyangkan bagi seorang Rena. Tapi gadis ini hanya diam. Lalu mereka saling bercerita mengenai keluarga. Tepat jam 21.00 Dani mempersilahkan Rena untuk istirahat, supaya besok bisa kembali fresh. *** Usai Subuh, Rena bangun. Dia juga sudah mandi. Hari ini hari pertamanya kerja. Dia memakai celana panjang dan blouse biasa yang tidak boleh memperlihatkan lekuk tubuh. Dia berharapo semoga semua pekerjaannya lancar. Rena menyiapkan sarapan pak Dani, menurut dia tidak susah. Untuk sarapan hanya roti dengan isi yang berbeda setiap harinya, selai strawberry, nanas, coklat, kacang atau sandwich, kadang cereal yang dicampur s**u low fat. Minuman jus buah secara bergiliran. Atau kopi sesuai permintaan. Untuk Rena sendiri, sarapan nasi. Karena ia merasa orang timur, kalo ga nasi ga afdol. Lauknya tahu tempe dan sambal, kadang pecel. Setelah menu makanan selesai, Rena menuju kamar pak Dani. Dia mengetuk pintu. "Pak....sudah jam 6" ucap Rena agak berteriak. Dia mengira Dani masih tidur. "Iya...aku sudah bangun, kamu boleh masuk" jawab Dani dari dalam kamar. "Permisi" Rena membuka pintu, dan sedikit kaget karena melihat Dani hanya menggunakan boxer, tanpa atasan (Shirtless). 'Badannya menggoda untuk dipeluk. Sempurna. Ih Rena! Sadar donk! Konsentrasi! kerja kerja kerja' batin Rena berperang. "Itu lemarinya, kamu ambil kemeja dasi celana lalu gantungkan disitu, aku mau sarapan dulu" Kata si bos sambil menunjuk sebuah kayu berdiri tegak dengan anak cabang. "Baik pak" Rena berjalan menuju lemari yang besar, untuk memilihkan busana yang akan dikenakan. Sedangkan Dani keluar kamar menuju ruang makan. 'Aku ga boleh pakaian yang menggoda....eh....si bos malah mengguncang jantung ku dengan body yang tak tertutup. Oang kaya mah bebas...CUKUP RENA! KERJA!' ujar gadi ini dalam hati. Rena keluar menuju ruang makan. "Sudah selesai pak" ucapnya sambil berdiri di sisi meja. "Apa bapak sudah cuci tangan untuk memulai makan?" Ucap Rena saat melihat Dani barui saja duduk. "Belum ..." jawab Dani . Mau tak mau, pria ini beranjak dari kursi lalu menuju wastafel. "Di tangan kita banyak kuman, jadi bapak jangan marah kalo saya ingatkan untuk cuci tangan" Rena mengingatkan dengan nada yang sopan. "Ok... silahkan duduk, kita sarapan bareng" ucap Dani yang matanya tidak lepas dari layar ponsel. Rena tak tahu apa yang di lihat oleh bosnya. Yang pasti bukan film blue. "Nanti aja pak, setelah bapak berangkat" Kata Rena. Tak enak rasanya harus makan bersama dengan majikan. "Duduk! Aku tidak mau dibantah, dan aku tidak akan memerintah 2 kali" kata kata Dani lebih tegas lagi sambil menatap Rena sekilas. Melihat tatapan yang tak bersahabat, aku langsung duduk agak jauh dari kursinya. "Disini! Bukan disitu" Dani menunjukkan satu kursi yang lebih dekat dengan kursinya. "Baik pak" "Kamu sarapan apa?" Tanyanya dengan nada yang lebih bersahabat. "Saya biasa makan nasi pecel pak, lauk tahu" Rena menjawab seadanya. "Hah?! Apa itu bergizi? Berapa kandungan kalorinya?" Dani bertanya lagi dengan tertawa kecil. "Saya kurang tau pak, ga pernah ngukur kalorinya berapa? Apapun kalo lapar ya saya makan, tapi harus nasi. Kalo ga nasi ga kenyang" ucap Rena panjang lebar dan terlihat lugu. 'Repot amat sampe ngukur kalori?!' batin Rena. Dani semakin tertawa sambil melihat Rena. "Kenyang tapi ga bergizi, percuma. Mulai sekarang biasakan konsumsi menu yang ada di buku. Itu bagus untuk kesehatan. Disini ga ada perbedaan untuk makanan, penghuni rumah ini harus sehat semua. Paham?" "Iya pak" ucap Rena sambil mengunyah nasi pecel. 'Tapi nasi pecel ku lebih enak dari pada roti begituan' kata Rena dalam hati. Setelah selesai sarapan, pak Dani sudah mengenakan kemeja. "Rena! Dasi!" ucapnya agak keras. Rena berjalan menuju ke arahnya. Gadis ini berusaha mengalungkan dasi itu ke lehernya. Tapi karena tinggi badan Rena yang tidak sesuai dengan pak Dani, ia pun berjinjit maksimal. "Ok...kita lakukan di dekat sofa...aku ga mau menyiksamu" ujar Dani sambil tersenyum. Pipi Rena merona malu. "Kamu naik sofa ...dan lakukan tugasmu" ucap Dani. Rena melakukan tugasnya mengikat dasi, sedangkan Dani hanya melihat ponsel yang ada digenggamnya. "Sudah pak...ada yang kurang?" tanya Rena. Lalu Dani berbalik menuju dinding apartemen yang penuh kaca. "Perfect.... thanks ..aku berangkat dulu" pamit Dani. "Apa semua keperluan kantor sudah siap pak? Laptop? Ponsel? Atau lainnya?" Rena mengingatkan. "Semua sudah beres" Dani pun berjalan meninggalkan apartemen. Setelah Dani berangkat, Rena membersihkan ruang makan. Rena berlari ke atas ganti pakaian, karena ia akan membersihkan ruangan di apartemen ini. Dia lebih nyaman mengenakan tank top dan celana pendek. Karena pekerjaan ini pasti mengeluarkan keringat yang cukup banyak. Pekerjaan bersih bersih sudah selesai. Saatnya makan siang, selesai makan siang Rena menuju supermarket yang ada di gedung ini juga, tapi lantai bawah. Ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari, jika ga ada jadwal ke supermarket, ia habiskan waktu membaca novel online di teras. Jam 15.00, Rena menghubungi Dani melalui ponsel, dia mau makan malam atau nggak. Hari ini dia makan malam dirumah. Jam makan malam jam 19.00, jadi menu harus selesai sebelum jam 19.00. Dia datang jam 18.00. "Rena, apa makan malam sudah ready? Kalo belum kita pesan makan lagi aja" Dani bertanya sambil berjalan melewati Rena. "Sudah kok pak" jawab Rena sambil berdiri di sisi dapur. "Ok...aku bersihkan badan dulu" Rena telah menata menu makanan di ruang makan. Jam 19.00, gadis ini mengetuk pintu kamar bosnya. "Pak ...sudah jam 7" "Ok Rena. Terima kasih" Dia keluar dari kamarnya, dan lagi lagi dia hanya menggunakan boxer, tapi kali ini badannya ditutup kaos tipis berwarna putih. Rena mengangkat piringnya untuk mengambilkan menu dan Dani akan memberikan instruksi seberapa banyak porsinya. Pada saat makan pun, ponsel tak lepas dari genggaman Dani. Sebenarnya Rena ingin menegur, tapi kuatir ada sesuatu yang penting di ponsel itu. "Untuk hari Sabtu dan Minggu, kamu nggak perlu menyediakan makan malam untuk aku, kamu sediakan untuk dirimu sendiri." kata Dani. "Baik pak" ucap Renda sambil bertanya dalam hati. 'Apa dia uda punya kekasih? Malam mingguan bareng? Bodo amat lah, bukan urusanmu Rena' Dan Rena menjalani aktivitas ini sehari hari, Rena sangat menikmati pekerjaan ini. Untuk belanja, kadang ia beli dipasar tradisional naik motor, supaya dapat harga yang lebih murah. Tapi untuk bahan tertentu, memang hanya tersedia di supermarket. Seluruh pengeluaran, dia tulis dalam buku besar, jika ditanya sewaktu waktu Rena bisa memberikan laporan sebagai pertanggungjawaban. *** Minggu, tengah malam. Seperti biasa, usai ke kamar mandi, Rena turun ke dapur untuk meneguk air putih. Tapi ketika meneguk, Rena mendengar pintu apartemen terbuka, lalu di susul suara tawa. Rena meyakini mereka lebih dari 2 orang. Karena tampak ramai dan saling bersahutan. Ada suara lelaki, selain suara bosnya, ada juga suara wanita. Rena berusaha menghabiskan sisa air yang ada di gelasnya dengan cepat. Dan setelahnya, ia sedikit berlari menuju kamarnya, dia malu karena mengenakan baby doll. Walaupun modelnya celana panjang, tapi rasanya tak sopan. Dani dan teman-temannya sempat melihat Rena dengan sekilas yang naik ke atas. "Siapa Dan?" tanya seorang wanita. "Assistant......" jawan Dani santai. "Kamu punya makanan apa?" suara wanita lagi. "Kamu buka aja kulkasnya. Aku masuk kamar bentar ya..." pamit Dani. Rena sudah masuk kamar tak peduli apa yang akan di lakukan bosnya bersama teman-temannya. Dia kembali tidur. Karena pagi hari dia sudah merencanakan sesuatu. Ketika Rena terbangun, ruang tamu tak ada orang sama sekali. Tapi ruangan ini berantakan dengan sisa makanan atau bungkus makanan. Tak lupa botol mineral yang berserakan.  Setelah membereskan ruang tamu, ia melajukan motor bututnya. Ini hari Minggu, dan ia libur menyediakan sarapan bosnya atau mengikat dasi. Dia ke pasar dan menikmati sarapan yang di jual di warung. Rena belanja beberapa jenis permen yang akan dikirim ke panti. Dia belanja menggunakan sisa uang saku dari ibu panti. Tiba di rumah, ia mengeluarkan beberapa bungkus permen tadi. Dengan hati yang berbunga, dia membungkus paket kecil itu dengan sayang. 'Adek-adek pasti suka permen ini.' batin Rena dengan tersenyum. "Kamu ngapain?!" "Eh! Bapak...." Rena sedikit terkejut dengan kehadiran majikannya yang tiba-tiba. "Pertanyaan aku kok nggak di jawab?!" Tanya Dani saat melihat Rena memotong selotip dan menempelkan di tas plastik. "Maaf, tadi saya agak kaget. Tau-tau ada suara bapak. Ini permen, mau saya kirim ke panti. Ternyata di kota harganya jauh lebih murah ya pak?" Rena menjelaskan. "Kalo lebih murah, harusnya kamu beli lebih banyak lagi. Jadi panti ada usaha buka toko kecil khusus makanan anak kecil di desamu. Tidak menutup kemungkinan toko kalian bisa berkembang, dan dijadikan toko grosir." Dani memberikan saran. "Iya Pak, nanti kalo dana saya cukup, saya akan bantu panti. Saya memang punya rencana ke arah sana." "Kamu telpon penanggung jawab panti. Bikin konsep dan anggaran toko kecil. Nanti kita yang kasih modal." Kata Dani lagi. Rena tersenyum. "Terimakasih Pak. Nanti aja Pak, kalo dana kita benar-benar ada. Kami takut tidak bisa membayar hutang." "Lho?! Itu bukan hutang Ren. Karena perusahaan kami ada kewajiban untuk membantu mengembangkan dan membimbing UMKM." "Lalu perusahaan bapak dapat apa? Bukannya malah rugi? Soalnya mengeluarkan dana." Pertanyaan kritis dari Rena membuat Dani tersenyum. "Nanti toko kecilmu aku kasih tanda, kalo toko ini di dukung oleh perusahaan aku. Anggap aja sekalian promosi. Perusahaan aku makin banyak di kenal. Dan customer aku pasti lebih bangga dan kagum. Karena kita juga ikut mendukung perekonomian daerah kecil lainnya." Dani menjelaskan. "Jadi sama seperti promosi terselubung ya pak?" Rena bertanya lagi. "Betul! Bisa diartikan seperti itu. Kalian dapat modal, dan aku bisa mengenalkan perusahaan aku. Sama-sama untung kan?!" Rena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia paham yang di maksud bosnya ini. "Ya udah! Kamu lanjutkan! Aku keluar sebentar. Jangan lupa proyek kamu. Lebih cepat lebih baik." Dani mengingatkan lagi. "Iya Pak." Akhirnya Rena melanjutkan membungkus bingkisan kecil untuk saudara kecilnya. Waktu telah berlalu. Sudah sebulan Rena bekerja di apartemen Dani. Setelah selesai makan malam, tiba tiba Rena mendengar suara Dani memanggil namanya. "Iya Pak? Perlu sesuatu?" Tanya Rena dengan sopan. "Rena, aku menerima tagihan kartu kredit, tapi ini nggak seperti biasanya...." "Beneran pak? Maaf pak, itu sudah sesuai kebutuhan. Sebentar saya ambil laporan" Rena sedikit berlari menuju kamarnya. Dia takut di anggap menyalahkan gunakan kepercayaan dan anggaran. "Ini pak laporan saya. Saya belanja sesuai kebutuhan kok pak.... " "Bukan. Biasanya 1 bulan aku mendapat tagihan untuk rumah tangga 2 kali lipat dari jumlah tagihan ini, makanya aku kaget tagihannya kok cuma segini?" Ucap Dani santai sambil duduk di sofa. Pria ini belum membuka laporan yang diserahkan Rena. 'Ah.... syukurlah' batin Rena, tapi dia tetap menyerahkan buku laporan. Supaya Dani tahu rinciannya. Setelah membuka buku laporan yang sederhana, Dani tercengang melihat kerapian laporan yang di buat oleh Rena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD