Harris mengamati gadis di depannya tanpa kedipan. Dari ujung rambut hingga kaki, semua mirip sekali dengan Cassy—kekasih yang ia bawa dari bar ke tempat tidurnya setahun lalu. Meski tanpa make up tapi garis hidung, bentuk lipatan bibir juga tahi lalat samar di bawah alis tidak bisa ditiru. Harris begitu tergila-gila dengan kekasihnya jadi ia yakin tidak salah kira.
"Tidak mungkin aku salah mengenali wanita yang pernah tidur denganku."
Suara barinton dari mulut pria itu memecah hening. Mata cokelatnya menambat pada gadis pengantar katering yang tengah berdiri di depan meja kerjanya. Menunggu pembayaran nasi kotak pesananan perusahaan.
Gadis itu adalah Sarah, pemasok makan siang murah yang menjadi favorit para karyawan Harris. Di luar ia terlihat tenang tapi sebenarnya gelisah. Wajar, Harris bertubuh tinggi, berbahu lebih lebar karena punya darah campuran. Ditambah aura tidak ramahnya sangat kentara.
“Maaf, saya tidak paham.”
Sarah bicara dengan cukup pelan, membalas tatapan pria itu sebentar lalu kembali menunduk gugup. Apa ini memang hari sialnya? Ia yang biasanya bekerja di belakang meja tiba-tiba disuruh mengantar pesanan.
Anggaplah kebetulan, tapi apa yang dilakukan Harris sekarang cukup kurang ajar. Di hari pertamanya masuk kantor cabang, ia sudah mengintimidasi wanita tidak dikenal. Sebagai calon direktur baru perusahaan Morris, harusnya masalah katering bukan ranahnya. Tapi lihatlah sekarang, hanya karena yakin Sarah adalah Cassy, ia seenaknya menyerang dengan kekasaran verbal.
“Wanita menyebut b*****t pada pria tidak bertanggung jawab, lalu kalau wanita harus diumpat apa? b***h?” ucap Harris merasakan setengah hatinya sakit.
Amarahnya jauh lebih besar dari rasa kecewa. Terhitung sudah setahun lebih sejak ia ditinggalkan dalam keadaan tanpa pakaian di atas ranjang, dari sana muncul dendam kesumat. Apa seorang Harris yang dikenal tidak mudah didekati langsung dicampakkan setelah percintaan panas?
“Anda kasar sekali, kita bahkan tidak pernah bertemu bagaimana bisa…?”
Sarah melotot, menunjukkan tatapan menantang. Sedari tadi ia sudah menahan dirinya tapi lama kelamaan kalau dibiarkan pasti Harris akan terus menyerangnya.
“Omong kosong, Cassy? Ini aku Harris! Pria yang menghabiskan malam denganmu setahun lalu. Kita bertemu di Jakarta dan…,”
Barulah Sarah menghentakkan kakinya begitu nama Cassy disebut. Seakan kesalahpahaman itu langsung terjawab hanya dengan satu nama.
“Jika yang anda maksud adalah kembaran saya, dia sudah meninggal lima bulan lalu.”
Penjelasan itu disampaikan begitu tenang sampai-sampai suasana emosional tadi menghilang.
“Jangan bohong, jelas-jelas itu kamu.”
“Saya dan Cassy memang sering disalahpahami.”
Pikiran Harris mendadak kosong. Antara tidak percaya dan berharap salah dengar. Sedang Sarah hanya memberi tatapan acuh.
“Tidak, tidak mungkin,” ucap Harris tersentak mundur. Alis tebalnya menyatu kuat seiring dengan gumaman tidak jelas.
“Maaf saya harus pergi. Bisakah anda memberi saya pelunasan untuk tagihannya?” Sarah kembali menyinggung alasannya datang. Bahkan ia mendengus sembari melirik jam. Seakan setelah ini ada urusan lain.
“Bisakah kita bicara lagi setelah ini? Setidaknya antarkan aku ke makam Cassy,” ucap pria tinggi itu mengambil lalu mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam dompet kulitnya.
Sarah terdiam, menatap jemari gemetar Harris tanpa jawaban. Ia mengambil, menghitung lalu memasukkan uang itu ke dalam saku jeansnya.
“Terima kasih pak Harris tapi sayangnya makam kakak saya tidak ada di sini.”
Begitu singkat, hambar dan sedikit ketus. Begitulah Sarah akhirnya menyudahi percakapan mereka. Segalanya serasa buang-buang waktu. Jadi dengan sangat terpaksa Harris mengijinkannya keluar juga. Toh kalau nantinya benar Cassy meninggal, ia hanya perlu membayar orang untuk mencari tahu.
Apa yang diperbuat Cassy kali ini? batin Sarah sesekali menoleh ke belakang, gurat wajahnya tidak setenang tadi, bahkan cenderung ketakutan. Ia menyusuri lorong kantor itu sembari menggenggam lembaran uang ratusan ribu yang sempat ditaruh di saku.
Sialan, bagaimana bisa aku bertemu dengan pria itu lagi?
--
Setahun lalu, Jakarta.
Satu tenggak terakhir alkohol dari bibir gelas milik Cassy telah dikosongkan sejak tadi. Tapi gadis dengan dress ketat itu tidak kunjung mabuk. Mata biru terangnya karena softlens masih lebar padahal pria yang diajaknya taruhan sudah mulai kehilangan kesadaran.
Mereka ada di salah satu ruang diskotik kelas atas, tidak janjian atau berkenalan. Hanya saling memberi nama sebutan sebelum akhirnya memutuskan untuk minum bersama.
“Umurmu berapa? Aku tidak suka membuang waktuku dengan anak kecil,” ucap Harris menebak dari bentuk tubuh dan cara Cassy berdandan.
Riasannya cukup tebal tapi aroma parfumnya tidak kuat, bahkan saking tipisnya—Harris justru mencium bau bedak yang bercampur keringat. Rambut Cassy lurus jatuh, menyentuh pinggang kecilnya di balik dress abu. Bukan tipikal wanita nakal karena isi tasnya tidak ada pengaman. Artinya, gadis itu datang tanpa maksud untuk mencari cinta satu malam.
“Aku bukan remaja, anggap saja antara dua lima sampai tiga puluh.” Cassy tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya tanpa melepas tatapannya pada Harris. Ia terlihat terpesona tapi tidak punya keberanian untuk mendekati lebih dulu.
Sejak masuk diskotik ia terus menunggu dari jauh, mengikuti Harris dengan harapan bisa bicara sebentar karena tertarik. Hal itu cukup umum karena dari semua pria, sosok tinggi Harris sangat mencolok mata.
“Lihat, kamu memenangkan taruhannya. Aku tidak berani minum lebih banyak lagi karena harus menyetir nanti. Katakan saja apa maumu?” Mata cokelat Harris beralih dari gelas alkohol ke wajah Cassy.
Ia pria dewasa dan pernah melalui malam dengan beberapa wanita. Sebagian pernah dipacari tapi selalu berakhir kandas. Baginya, Cassy cukup magnetik. Bukan hanya perkara fisik tapi mata bulat gadis itu terlihat begitu gemerlap. Memancing rasa penasaran juga gairahnya yang sudah lama mati suri.
Tidak ada niat sedikitpun untuk memulai sentuhan. Cassy awalnya pindah tempat duduk lalu menatap penuh rasa ingin tahu.
“Apa ciuman bisa menularkan penyakit seksual?” tanyanya serius.
Pipinya terlihat memerah karena menahan malu.
Harris untuk sekian lama akhirnya tertawa. Betapa beraninya seorang gadis bertanya hal intim di ruang tertutup seperti ini.
“Cassy, jangan-jangan kamu mahasiswa yang sedang mencari bahan skripsi?”
“Bukan, ini pertanyaan pribadi. Menurutmu bagaimana?”
Matanya berkedip lebih agresif.
Permainan alkohol sebenarnya cukup kekanak-kanakan dan bukan cara Harris untuk menggaet perempuan. Ia terlalu menarik dan tidak butuh semua hal kekanak-kanakkan itu.
“Cassy, ayo kita bertemu lagi. Bagaimana? Kamu juga tertarik padaku kan?”
Senyuman kecil Harris membuat jantung Cassy berdebar kencang.
Tanpa sentuhan, ciuman maupun rangsangan apapun—keduanya menahan gejolak di pertemuan pertama. Alasannya satu, perasaan mereka terlalu istimewa kalau hanya dilampiaskan di satu malam saja.
“Tapi temui aku saat malam saja, aku tidak akan pernah bisa menemuimu lewat dari jam satu.”
Bak sebuah cerita Cinderella, Cassy si gadis bermata indah memberi syarat yang aneh padanya. Tapi bagi Harris semua tidak lebih penting dari pertemuan kedua, ketiga hingga terakhir—saat mereka akhirnya memanaskan ranjang bersama.