Rizal memandang kedua orang di depannya itu datar. Selalu seperti ini, keberadaan nya tidak pernah dia anggap. Melirik saja tidak pernah. Ngenes banget. Rizal mengikuti langkah Anwar, sahabat somplak nya itu selalu mengganggu El. Andaikan saja dia seperti Anwar yang tidak tahu malu, sudah dari dulu dia dekat dengan El. Rizal tersenyum tipis melihat wajah kesal El saat diganggu Anwar. Memang salahnya juga, jika dia bersama El, Rizal selalu bersikap acuh dengan wajah datarnya saja. Rizal menatap langit yang sudah penuh dengan awan hitam, sebentar lagi pasti hujan. Matanya kembali melirik El yang ditarik Kavin untuk masuk kelas. Dia tau jika tubuh E sangat lemah untuk udara seperti ini, dan dia tau jika El sangat tidak suka jika hujan petir seperti waktu itu. Senyumnya terlihat seben

