Pikiran terdalam Oris!

1832 Words
Mereka yang mendengar pernyataan Filothea tertegun tidak percaya tetapi, Calee –lah yang lebih cepat meresponnya. “Kamu mau menyebutkan Neron mencuri hal itu dari Oris, untuk apa? Dia bukan seorang Mage, dia juga tidak pernah—“ “Mungkin saja dia Iri,” sela Filothea. “kamu tahu semua anak pasti menginginkan punya mana lalu, pergi ke academi. Begitu juga Neron, anak itu selalu tampak Iri pada Oris karena kemampuannya ini.” “Filothea!” Calee berteriak marah. “Neron tidak pernah iri dia juga, tidak perlu untuk Iri pada Oris meski, dia tidak memiliki bakat sihir. Neron-ku punya kemampuan untuk bisa jadi orang hebat dan jangan menjadi bodoh! Untuk apa dia pergi ke academi sedang dia sendiri tidak punya kemampuan sihir.” Filothea diam tetapi, tangannya meremas kain ditangannya sangat kuat. Memang tidak pernah ada bukti jika, Neron yang mengambil atau mencuri surat undangan Oris tetapi, hatinya tidak lepas untuk mencurigainya. “Tapi, aku tidak asal bicara. Anak itu, Neron. Mungkin dia tidak menggunakan kartu itu untuk dirinya sendiri tetapi, dia bisa saja menjualnya pada orang lain, kan?” “Filothea! Apa kamu pikir, kami orang-orang yang kekurangan uang. Meski, aku tidak sekaya mereka di sini. Aku tidak pernah membiarkan dia kekurangan apapun,” balas Calee semakin emosi bukan hanya dia juga, suaminya Philip sekarang wajahnya sudah gelap. Filothea ingin membalas lagi tetapi, tangan suaminya sudah menahan bahunya memberinya tatapan tajam. Menyuruhnya untuk berhenti. “Maaf, Philip Calee … Filothea tidak bermaksud Jahat, dia hanya terlalu sedih sudah membiarkan kesempatan Oris lewat begitu saja.” “Jadi, jika dia seperti itu…dia bisa menyalahkan orang lain? Atau mengalahkan orang di depannya sesuka hati.” Calee berbicara dengan nada tidak sabar, dia bukan orang pendiam yang bisa ditunjuk orang begitu saja. “Eros, Filothea… lebih baik kita berpisah di sini saja. Kami masih punya urusan lain dan kalian urus saja urusan kalian sendiri. Philip, Ayo, kita pergi!” “Apa-apaan dia—“ “Diam!” Eros memotong perkataan Filothea yang masih ingin marah. “Oris, kita juga pergi! Biarkan ibu itu, yang hanya Cuma bisa marah-marah.” “Eros!” teriak Filothea kesal karena marah tetapi, akhirnya tidak ada yang bisa dikatakan lagi dan hanya bisa mengikuti anak dan suaminya dari belakang. ** “Philip, bagaimana menurutmu?” “Apa?” tanyanya balik tidak tahu apa yang dimaksud istrinya. “Kamu bodoh atau pura-pura bodoh?!” Kesalnya, matanya mendesil seolah ingin menghancurkan wajah Philip yang masih berwajah datar itu seolah tidak mendengar apa yang disebutkan Filothea tadi. “Apa Neron bisa melakukannya? Apa dia benar mengambil surat Pass masuk Orin?” “Untuk apa dia melakukannya? Kenapa? Kamu tidak percaya pada anakmu sendiri? Bukannya baru saja kamu sangat berani melawan tuduhan Filothea?” “Aku tahu, aku juga tidak percaya anakku bisa melakukan hal bodoh seperti itu. Aku hanya sangat kesal, bagaimana dia bisa berpikir putra kita melakukannya.” “Berhentilah berpikir, kamu sudah sangat bingung. Yang terpenting kita cari saja anak kita atau… apa haruskah kita cari orang untuk mencarinya?” tanya Philip yang sebenarnya tidak butuh jawaban dari istrinya, Calee..dia akan melakukan apa yang dikatakannya. “Anak itu sangat merepotkan. Sebenarnya apa yang dia inginkan sampai kabur seperti ini.” “Mana aku tahu, anak itu …Neron. Dia selalu melakukan semaunya juga jarang sekali meminta sesuatu …” Calee akhirnya mendengus, matanya melirik suaminya. “Ini semua gara-gara kamu! Sejak kecil kamu selalu mendidiknya seperti ini. Lihat sekarang! Dia hanya pergi begitu saja.” “Kenapa menyalahkanku, Sayang.” “Tentu saja, aku harus menyalahkanmu karena didikanmu Neron jadi memiliki sikap seperti ini. Dia jadi, dewasa sebelum waktunya.” “Jangan membuatku tertawa. Dia tidak pernah jadi anak dewasa. Dia kekanak-kanakan makanya dia kabur seperti ini!” ** Di dalam kereta kuda api yang sudah melayang di atas langit Neron yang sedang diperdebatkan kedua orang tuanya tengah berdecak keras karena pengalaman pertamanya menaiki kuda api sangat memuaskan, matanya terbuka dengan sangat lebar seolah tidak ingin terlewat apapun yang mereka lihat dan lewati. Di dalam kereta kuda sebuah ruang besar cukup untuk menampung sepuluh sampai lima belas anak remaja dengan tiga pasang bangku yang berjejer rapih. Kereta kuda api terdiri dari sebuah kotak kaca berbentuk labu dan dikendarai dua kuda api yang besar dan kuat. Di sebut kuda api karena keempat kaki itu mengeluarkan api saat mereka bergerak melaju tanpa merasa kesulitan membawa semua bebannya. “Berapa lama kita sampai ke academi?” tanya Neron setelah menghentikan pengamatannya karena rasanya perjalanan sudah cukup lama tetapi, mereka belum juga sampai. Belum lagi pemandangan rasanya masih sama hanya terlihat langit dan laut yang terbentang di atas dan bawah mereka. “Akhirnya kamu bosan juga, yah,” sahut Fred yang baru saja menutup bukunya. “perjalanan kita cukup lama mungkin beberapa jam lagi, lepas lautan ini baru kita sampai di academi.” “Aku sudah tahu itu gak akan sampai dengan cepat.” “Iya, karena itu … bakalan sangat membosankan makanya aku banyak buku.” “Kamu ingat bakal bosan tapi, gak inget bakal kelaparan.” Fred tersenyum malu, mengusap belakang kepalanya. “Bodohnya, aku sampai lupa hal penting itu.” “Yah, kamu memang bodoh,” jawab Neron lirih sambil memalingkan wajahnya, melihat siswa lain disisi kiri dan kanan mereka yang sudah bersembunyi menghindari tatapannya. “Kalian pelit sekali! Aku hanya ingin lihat tidak akan meminta makanan kalian,” lanjut Neron sedikit tersinggung. “Kenapa harus marah. Itu hak mereka, Neron.” Fred menyenggol bahu Neron agar matanya yang tajam tidak membuat orang lain takut. Neron mendengus, seketika itu juga suara dalam perutnya terdengar cukup keras yang membuat para siswa disekitarnya menoleh. Dengan wajah memerah, Neron menahan malu. “Aku kelaparan. Kalian mendengarnya, kan? Apa tidak ada yang akan memberiku sesuatu?” Mata semua orang berotasi dan memalingkan wajah dengan jijik. Tidak akan ada yang memberinya makanan. Fred di sampingnya pun tidak bisa menahan tawanya, teman barunya ini ternyata sangat konyol pikirnya. “Kamu juga tertawa, bukannya kamu juga kelaparan.” “Iya, aku lapar tapi, gak semengkhawatirkan kamu yang sampai perut baru aja kosong saja sudah bersuara keras seperti itu.” “Jangan bicara denganku dulu, aku kelaparan tenagaku bakal turun dengan cepat..,” ujar Neron jadi kesal hanya karena rasa laparnya. Fred semakin keras tertawa. “Neron, aku lupa ngasih tahu sesuatu.” “Aku gak mau tahu? Aku lapar… aku tidur saja,” ujarnya sambil memejamkan mata. “Jangan menyesal,yah nanti.” Fred melirik Neron dan serius … “Neron, kamu sudah tidur lagi? Neron! Ya, ampun baru sebentar saja sudah tidur padahal aku mau bilang sebentar lagi penjaga toko ajaib bakal muncul … kita bisa beli makanan dari sana. Neron!” panggil Fred sambil mengguncang Neron, yang sepertinya sudah jatuh ke alam mimpi. “Makanlah!” Eros meletakkan mangkuk nasi tepat di depan Oris, anaknya yang masih berwajah murung. Dia juga melirik istrinya, yang bahkan lebih kusut. “Apa kalian benar-benar tidak ingin makan, hah? Kalian masih ingin memasang wajah seperti itu saja?” Mendengar nada suara Eros yang tampak marah, Filothea maupun Oris sedikit tertegun dan takut. Mereka segera menegakkan punggung keduanya dan melirik Eros diam-diam terutama Filothea dia cukup takut jika, suaminya sudah sangat marah jadi, tanpa mengatakan apapun dia sudah mengambil sendok dan mulai menyuap. Melihat istrinya menurut, Eros melirik putranya. “Aku akan makan, Ayah. Aku lapar!” Eros puas, tersenyum sambil menepuk lembut kepala Oris. “Anak pintar. Jangan takut, Oke! Di tahun depan kamu masih bisa pergi ke Academi.” Oris pun akhirnya bisa tersenyum, ayahnya yang paling baik dan pengertian. Ibunya sama baiknya tetapi, terkadang hanya emosinya saja yang tidak terkontrol jika, bukan karena ayahnya yang tenang, ibunya pasti masih akan marah-marah karena dia gagal masuk academi. “Baik, Ayah. Aku mengerti! Selama itu juga aku akan rajin berlatih agar saat pergi ke sana, aku juga semakin kuat dan tidak akan tertinggal dengan yang lain.” “Bagus, kamu harus punya semangat seperti ini. Jangan menyerah!” ujar Eros bangga. “Filothea, kamu harus minta maaf pada Calee juga Philip. Kamu tidak bisa sembarangan menuduh.” Filothea mendelik mendengar teguran suaminya, dia meremas kuat sendok di tangannya. Entah kenapa dia percaya jika, ada kemungkinan Neron yang mencuri. “Aku akan melakukannya tapi, … setelah Neron anak itu kembali dan mengatakan dia tidak benar-benar mencuri barang Oris.” “Kamu sangat keras kepala.”Marah Eros sambil mendesah keras dan tidak ingin mengatakan apapun lagi. Eros memilih untuk segera menyantap makan siangnya. Di sisi lain Oris juga sedang berpikir dan menimang-nimang apa sahabat baiknya, Neron yang sudah mencuri surat undangannya tetapi, untuk apa? Oris sangat tahu bagaimana Neron, yang malah tampak turut senang saat dia menunjukkan surat itu bahkan, hari terakhir mereka bertemu. Neron juga sangat bersedia membantunya mempersiapkan barang-barangnya. Tiba-tiba saja Oris tertegun sendiri. Melihat Ibu dan ayahnya, dia segera kembali menyembunyikan pandangannya. Oris ingat hari ketika mereka sedang berbincang di kamarnya, apa yang dikatakan Neron padanya saat itu. ‘Oris kamu sangat mampu, kan? Tidak akan masalah, kan kalau harus pergi tahun selanjutnya?’ Sebongkah batu seolah menghantam hati Oris. Dia juga menjadi ragu untuk mempercayai jika, bukan Neron pelakuknya tetapi, kenapa? Untuk apa Neron mengambil surat undangan itu karena sudah jelas dia tidak memiliki kekuatan untuk menjadi seorang Mage. ‘Apa Neron benar-benar pergi ke academi?’ tanya itu kembali terdengar dipikirannya. Sambil menyuap sesendok nasi, Oris mendesah kecil. Tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya dilakukan Neron saat pergi ke academi. Oris tidak tahu harus mengatakan apa, jika benar-benar temannya itu pergi ke academi. Mungkin saja dia tidak akan selamat sampai tes awal memasuki academi… karena, yang Oris tahu. Para guru di academi akan melakukan tes masuk untuk menentukan kelas para siswa-nya. ‘Neron, kuharap jika kamu benar-benar berada di academi sana… Kamu harus bisa lulus agar rasa benciku ini tidak cepat hilang dan berterima kasihlah karena dengan surat milikku itu … kamu masih bisa hidup!’ kecam Oris dalam hatinya. Sebenarnya tidak bisa dia bayangkan jika Neron-lah --teman dan yang sudah seperti saudara baginya—yang sudah mencuri surat miliknya. Dilihat dari masa lalu mereka, Neron bukanlah anak yang mudah Iri lalu, mengambil milik orang lain. Sejak kecil hidup Neron sudah sangat sempurna jika, saja diusia duabelas tahun dia bisa membangkitkan bakat sihirnya. Namun, seperti inilah yang terjadi. Untuk pertama kalinya Oris merasa sangat unggul di depan Neron yang tidak memiliki inti mana, yang berarti tidak bisa menngunakan sihir. Oris sendiri perlu berbangga hati bukan hanya bakal sihir mananya kuat dia juga berkati oleh Dewa Ness, dewa angin dalam legenda. Mimpinya untuk bisa menjadi Mage dan membuat orang tuannya bangga saat ini sudah sangat dekat tetapi, Dewa sepertinya lebih senang membiarkannya seperti. Menunggu satu tahun lagi? Memikirkannya pun Oris sudah sangat lelah dan tidak punya banyak semangat. Meski, orang mengatakan waktu satu tahun hanya akan berlalu begitu saja tetapi, setelah melepaskan kesempatan emas rasanya masih sangat tidak menyenangkan apalagi yang Oris tahu kali ini banyak sekali anak-anak berbakat seusianya yang memasuki academi. Dia akan kehilangan untuk bisa mengenal mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD