Mulut Neron menguap sangat lebar, dua hari ini dia tidak tidur nyenyak di Penginapan hatinya selalu saja merasa was-was khawatir jika, akan ada yang akan menemukannya sebelum dia berangkar ke Academi sihir ‘BigTunes’ beruntungnya sekarang dirinya hanya tingga menunggu beberapa jam lagi sampai di bawa berangkat di stasiun keberangkatan Academi. Tempat itu katanya special dan khusus untuk para pelajar BigTunes tentunya.
Ketukan pintu terdengar di balik pintu kamar sewaan Neron, sebelum berniat untuk membuka pintu dia melirik jendela kamarnya di mana matahari sudah tinggi. Tandanya sudah cukup siang, masih banyak waktu untuk sampai ke stasiun jadi, waktunya dia akan pergi ke pasar sihir untuk membeli beberapa keperluan masuk sekolah. Tidak perlu yang bagus atau mahal, karena benda-benda sihir itu tidak akan berguna banyak baginya.
Tok tok …
Ketukan pintu berlanjut. Neron akhirnya menjalankan niatnya dengan membuka pintu seperti biasa, pelayan yang lebih muda ini yang melayaninya beberapa hari ini.
“Tuan, Anda sudah bangun? Mau saya siapkan sarapan. Menu hari ini ber—“
“Tidak perlu. Aku sudah huaaa… harus pergi,” jawab Neron sambil menguap di sela-sela ucapannya. Neron berbalik menutup pintu dan segera berkemas, yah, meskipun sebenarnya tak ada yang perlu dikemas. Sejak tinggal di kamar ini dia tidak pernah mengeluarkan apapun dari tas kulitnya itu. dia hanya tinggal mencangklokannya di atas pundaknya tetapi, sepertinya dia harus mencuci mukanya terlebih dulu.
**
Neron berjalan-jalan di pasar cukup lama, beberapakali dia keluar masuk toko sihir untuk mencari benda murah seperti jubah sihir, buku sihir hal-hal seperti itu yang seharusnya sekalian saja dia curi saja dari rumah Oris. Suatu hal yang baru saja melintas dari pikiran buruknya.
“Aku tidak punya banyak uang, membeli jubah baru menghabiskan tiga koin emas, Buku satu koin emas lalu tongkat sihir dua koin belum lagi penjaga toko itu aku juga perlu tas penyimpanan praktis yang sedang popular, ah… sapu juga cih, apa-apaan benda-benda itu bisa-bisa setengah uangku habis hanya karena hal-hal begitu,” gerutu Neron. “Aku akan cari toko barang bekas saja … dan itu tidak boleh lebih dari tiga koin emas… sayang sekali aku harus membayar lebih untuk barang-barang yang tidak akan berguna untukku.”
Akhirnya, selama setengah jam kemudian setelah Neron banyak berputar dia menemukan sebuah toko lama yang tersembunyi. Jalan masuknya saja berada di dalam sebuah gang, yang jarang dilewati orang-orang. Neron mendongak ke semua sisi kiri dan kanan dari gang tersebut, melihat jika di sisi itu adalah bangunan-bangunan tembok tinggi dan jalan yang digunakannya cukup sempit, hanya cukup dipakai satu orang jika, ada dua orang berjalan menyisi.
“Apa benar di sini? Bagaimana jika orang itu berbohong? Ck, aku mudah tertipu ternyata… dasar Neron sangat naif padahal baru dikenal,” ujarnya masih pada diri sendiri sepertinya, perlahan dia akan gila karena terus saja bicara sendiri. “Eeh, tidak mungkin!”
Kepala Neron menoleh ke belakang, “Ternyata dia tidak bohong,”ujarnya dan sekarang berbalik mendongak melihat papan toko berwarna hitam. Dilihat dari luar pun di dalam toko sangat gelap. “Apa tokonya buka?”
“Silakan masuk Anak muda.”
Terdengar suara dari balik pintu tertutup itu, tidak ragu lagi Neron menerobos masuk. Benar saja di dalam sangat gelap. “Tuan, Kamu tidak mau menyalakan lampu? Bagaimana aku bisa melihat dan memilih sesuatu dari tokomu.”
Trank!
Sekejap seluruh ruangan terang berderang, seorang pria tua dengan hidung bengkok menggerutu kesal. “Sungguh pelanggan tidak sabaran.”
“Aku minta maaf,” balas Neron tanpa ragu meski, jelas orang itu hanya sedikit menggerutu dengan berbisik dia masih mendengar yang diucapkannya. Lalu, tanpa sadar mata Neron tidak sabar memerhatikan sana-sini, barang-barang di toko tersebut. Jubah-jubah bekas dari tahun-ke tahun banyak sekali menggantung di langit-langit, begitu juga di sebelah kiri terdapat tumpukan buku yang tertatap cukup rapi, melihanya saja mata Neron jadi perih hingga, ia hanya berhasil bertahan dengan melihat ke depan di mana di balik punggung si Pak Tua banyak sekali botol-botol berisi hal macam-macam.
Menyebutkannya saja sudah akan melelahkan Neron. Memalingkan wajahnya lagi ke selah kanan, di sana terdapat rak-rak dengan kotak-kotak yang diyakini Neron sebagai tongkat sihir. “Wow, memang benar-benar lengkap.”
“Apa yang kamu mau anak Muda?”
“Tolong tunjukkan beberapa jubah dan buku academi tahun ini, tongkat sihir juga… harus yang paling murah tapi, jangan terlalu jelek juga.”
Kening pak Tua itu mengerut, anak muda ini sangat blak-blakan. “Kamu yakin ingin yang murah? Orang yang datang padaku …biasanya minta yang paling baik,” ucarnya sambil berbalik mulai mencari barang yang di minta. “Kamu, sini mendekat.”
Neron mendekat, dia langsung disodori sebuah jubah berwarna hitam dengan logo Academi Bigtunes di sisi d**a kirinya. Neron memeriksanya dan bahkan mencobanya. “Tidak buruk, lumayan. Aku amb –ah, berapa harganya? Tidak, aku bayar dengan yang lain saja.”
Si Pak Tua memutar bola matanya, “Kamu ini sangat pel—“
“Bukan pelit tapi, memperhitungkan uangku yang sedikit ini.” Jelas Neron, yang langsung membuat Pak Tua itu mengangguk mengerti dan membawa dua sampai tiga buku beserta beberapa kotak yang isinya ada tongkat sihir.
“Itu semua untuk siswa para academi gunakan.”
“Berapa?”
“Kamu tidak mau coba tongkatmu dulu, tongkat itu yang paling penting . Apa itu cocok dengan Mana-mu atau tidak.”
“Tidak perlu! Semua tongkat akan cocok denganku … yah, cocok kalau kugunakan untuk menusuk lubang hidung orang lain,” ujarnya dalam hati untuk akhir kalimatnya. “Jadi berapa semua.”
Si Pak Tua melihat semua barang-barang itu dan menilai secara seksama. “Lima koin emas saja.”
“Apa? Itu terlalu mahal. Tiga koin, oke?”
“Bagaimana itu bisa semurah itu?”
“Ini, kan semua barang bekas.”
“Meski, ini bekas ini tidak ada yang buruk… semua barang ini peninggalan murid-murid tahun kemarin. Lihat saja!” Pak Tua itu membuka kotak sihirnya, “Ini lihat …tongkat ini cukup bagus untukmu, aku memilih yang paling cocok.”
“Aku tidak butuh yang paling cocok tapi, yang paling murah asal tidak patah itu sudah sangat luar biasa,” jawab Neron tidak peduli yang diocehkan pak Tua itu tentang seberapa bagus barang-barang di depannya ini. “Tiga koin atau aku tidak membeli …”
“Kalau beg—“
“Bagus, Anda pintar. Pilihan Anda tepat ini …” Neron langsung merogoh sakunya mengeluarkan tiga koin emasnya dan langsung meraih barang-barang di etalase dalam sekali raupan. Dia juga memiliki kantong ajaibnya meski, ruang di dalamnya kecil tapi, untuk barang-barang itu masih cukup.
“Yah, aku belum setuju!”
Neron mendongak melihat si Pak tua itu. “Kamu sudah mengambil uangnya, oke! Jangan berubah-ubah …aku harus pergi sekarang sebelum terlambat pergi ke stasiun. Terima kasih, yah Pak Tua … lain kali aku kemari lagi.”
Menghindar akan dikejar, Neron langsung berbalik tanpa menunggu jawaban pak Tua yang ternyata sangat kesulitan untuk berjalan karena kakinya yang terluka. Dia ingin berteriak marah, napasnya sudah membuatnya tersengal-sengal… pemuda itu hanya membayarnya tiga koin emas dengan barang sebanyak itu. “Awas, kau bocah! Jangan pernah kemari lagi atau … aku akan menghajarmu ketika ke sini lagi!”
Jantung Neron masih berdetak cepat, dia benar-benar sudah seperti bajiangan tiap kali terjadi sesuatu … dia hanya bisa melarikan diri. Tidak sering tapi, lumayan,sih. “Akhirnya aku dapat semuanya … Pak Tua jika, urusanku beres aku akan kembali lagi kemari dan membayar ulang barang-barang ini! Bertahanlah sampai aku datang… perjalananku ini masih panjang dan aku sangat perlu uangku yang tidak seberapa ini! Kumohon pengertiannya,” tutur Neron di sepanjang jalan sedikit menyesal karena dia …sudah berbuat salah pada orang yang sudah baik.
Beberapa waktu lamanya, Neron sudah berada di stasiun khusus untuk para siswa academi. Sebelumnya dia sangat berhati-hati karena banyaknya orang lain, memastikan tidak ada yang mengenalinya bersyukur ternyata hal itu terjadi. Kini waktunya juga untuk memerhatikan anak-anak itu agar dia bisa selamat sampai ke academi. Sungguh, sepertinya cukup mudah. Neron melihat undangan Pass-nya academi di tangannya.
“Oris, kamu pemuda paling baik. Saudaraku dan temanku yang manis… aku akan menggunakan kartumu dengan sangat baik! Lihat saja ,oke. Tidak lama …sampai berjumpa!”
Neron sudah menguatkan tekad, sekali lagi dia melihat anak-anak itu yang menerobos sebuah pintu usang berlogo’kan ‘pintu BigTunes.’ . Itu pintu masuknya. “Sekarang giliranku!”