Hari ini Bella memutuskan untuk mengunjungi Amy, mencoba berteman dan berbincang ringan untuk melarikan diri dari tekanan mental yang mulai ia rasakan.
Amy adalah orang yang menyenangkan. Dia hidup seorang diri di sebuah rumah kayu yang terawat rapi, sesekali sibuk mengurus ladang kecil di belakangnya. Anak-anaknya telah sukses di kota. Masing-masing dari mereka memberikan tunjangan hidup bulanan pada Amy, sehingga meskipun Amy tidak bekerja, hidupnya tetap terjamin. Setidaknya, dengan gaya hidup Amy, seharusnya ia bisa bertahan dengan ekonominya saat ini. Selain itu, dia juga memiliki warisan dana pensiun dari mendiang suaminya yang cukup untuk menopang hidupnya.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar akan datang padaku, Sayang!" Amy meninggalkan tetangga yang baru saja ia ajak berbincang di ruang tamu, setengah berlari menyambut Bella, kemudian menyeret wanita itu untuk masuk ke rumahnya.
"Siapa dia, Amy?" Wanita berusia empat puluhan dengan rambut merah sepanjang punggung mengikuti Amy di belakangnya. Perhatiannya tertuju pada Bella.
"Jasmine, perkenalkan, dia Bella Shancez. Orang yang pernah kuceritakan sebagai tamu Mr. Navaro! Sayang, dia adalah Jasmine Calleb, salah satu teyanggaku yang paling baik!" Amy memperkenalkan mereka berdua dengan antusias.
Ruang tamu yang Amy miliki tidak terlalu besar. Tapi perabotannya yang menggunakan warna-warna cerah mampu menunjukkan jejak kehangatan, menutupi kekurangan luas ruangan yang bisa dibilang sempit.
Bella duduk di kursi kayu berlengan, menatap kepala cheetah yang dipajang di dinding ruangan, dalam hati mempertanyakan keaslian benda itu. Benarkah itu kepala cheetah? Atau replika?
"Ah jadi kau yang bernama Bella. Amy memberitahuku dan orang-orang di sekitar, ada wanita kota yang tinggal di kediaman Mic Navaro. Tadinya aku tak percaya. Tapi melihatmu sekarang, aku yakin itu bukan hanya rumor!" Jasmine menatap Amy dengan terkejut, menghargai berita ekslusif yang wanita itu bagi padanya. "Bella, kau tampak sedikit kuyu. Apakah kau baik-baik saja tinggal di rumah Mic? Ya Tuhan, kau seharusnya tak pernah datang ke sana. Sayang, aku punya rumah lain yang tak jauh dari sini. Sebelumnya itu untuk putraku, tetapi dia malah pergi ke Texas dan menolak kembali. Ah dasar! Putra bodoh itu sangat merepotkan. Jika kau mau, kau bisa menggunakan rumah itu!"
Jasmine sama ramahnya dengan Amy. Mereka wanita yang mudah dekat pada orang lain, tak memiliki pertahanan dan sikap waspada sama sekali, menganggap Bella sebagai bagian dari mereka.
"Amy mengatakan pada orang-orang?" Bella masih mencerna informasi ini dengan lambat.
"Tentu saja. Bagaimana bisa kabar heboh seperti ini disimpan sendiri? Kau tahu, sejak beberapa tahun yang lalu, Mic tak pernah mau menerima satu pun tamu. Ah … lagi pula, orang waras mana yang mau menginap di tempatnya. Jadi kabar kau ada di kediaman Mic itu sungguh luar biasa. Tunggu nanti aku menyampaikan hal ini pada teranggaku yang lain. Mereka pasti akan terkejut menyadari aku sudah bertemu denganmu!"
Bella menatap Amy dan Jasmine dengan tatapan ketidakberdayaan. Sejak Bella bertemu dengan Amy, dia tahu wanita tua itu baik dan ramah. Hanya saja, Bella cukup terkejut menyadari wanita itu mudah sekali menyampaikan berita ke mana-mana. Amy dan Jasmine tampaknya jenis wanita penyuka gosip yang suka duduk-duduk bersama membahas banyak rumor di sekitar.
Ini seperti Bella berteman dengan paparazzi. Privasinya menjadi tak terjaga.
"Bella, kau mau kopi?" tawar Amy, yang melihat Bella tampak kaku dan hanya sesekali mengangguk untuk menanggapi kata-kata Jasmine.
"Tidak. Air putih saja!"
"Dengan es?"
"Boleh." Bella mengangguk lemah.
"Sayang, kau tampak cantik dengan kulitmu yang putih bersinar. Apakah kau menggunakan banyak perawatan seperti yang kulihat melalui televisi seputar perawatan wanita kota? Apakah kau menggunakan cream tertentu? Apakah kau melakukan operasi di bagian tubuhmu yang lain? Apakah matamu asli? Bukankah kelopak matamu kelopak mata ganda? Aku ingin tahu metode apa yang kaumiliki untuk itu! Lihat! Bahkan rahangmu tampak sempurna. Bagaimana kau mendapatkannya? Katakan sesuatu padaku!"
Menghadapi Jasmine ternyata tak mudah. Bella mendapat banyak pertanyaan tanpa henti dari wanita itu. Dia memberikan pertanyaan nyaris tanpa jeda.
"Tidak, aku tidak melakukan operasi. Ini semua asli!" Meskipun Bella tak menentang operasi plastik, dia memiliki prinsip tak ingin mengubah tubuh yang telah diberikan Tuhan padanya.
"Wow! Sungguh mengejutkan. Aku memiliki putri berusia dua puluh tahun.Tapi kulitnya tak sebaik milikmu, tubuhnya tidak seseksi punyamu, dan wajahnya tidak secerah wajahmu! Katakan padaku! Bagaimana caranya agar tampil lebih cantik? Ngomong-ngomong, kau tampak seperti model. Apa pekerjaanmu sebenarnya? Jika kau bilang kau model atau artis, aku pasti tak akan terkejut. Eh ya. Berapa umurmu tahun ini?"
Mendengar pertanyaan beruntun, Bella hanya bisa tersenyum lemah.
"Aku dua puluh sembilan tahun tahun ini!"
Mendengar ini, baik Amy dan Jasmine tepana secara bersamaan.
"Dua puluh sembilan? Kau serius?" Amy yang baru saja menyerahkan segelas air putih pada Bella, mengamati wanita muda di hadapannya dengan hati-hati.
Kecantikan indah ini berusia dua puluh sembilan tahun? Bagaimana bisa?
"Ya. Ada apa dengan dua puluh sembilan tahun?" Bella sedikit tak mengerti.
"Kau terlihat seumuran dengan putriku. Ah tidak! Bahkan kau terlihat lebih enerjik, lebih cerah, lebih anggun, lebih muda dari putriku yang masih dua puluh tahun. Kau yakin orang tuamu tak melakukan kesalahan saat mendaftarkan tanggal kelahiranmu?" Jasmine mengusap wajah Bella berulang kali, tampak kagum dan jatuh cinta pada penampilan Bella yang menurutnya luar biasa.
"Kau bahkan lebih cantik dari Sevana dulu!" Tanpa sadar, pandangan Jasmine melayang ke langit-langit ruangan.
"Sevana? Maksudmu, mantan istri Mic?" Bella bingung saat tiba-tiba pembicaraan mengalih ke Sevana secara tiba-tiba.
"Jasmine, kendalikan mulutmu saat berbicara!" Amy tampak tak senang. Dia mengalihkan pandangannya pada Bella, tersenyum minta maaf. "Dia hanya berkata omong kosong! Jangan pedulikan!"
Tak ada orang yang suka jika dibandingkan dengan mantan istri orang lain, apalagi jika mantan istri itu korban pembunuhan. Meskipun perbandingan itu menunjukkan nilai positif.
Itulah yang dirasakan Amy. Tapi sebenarnya, Bella bukan orang sesensitif itu. Dia tidak terlalu tersinggung.
"Maafkan aku, Sayang! Ngomong-ngomong, apakah kau nyaman tinggal di kediaman Mic? Apakah kau tahu tentang kamar khusus yang dulu menjadi tempat kematian Sevana? Dengar-dengat, kamar itu dikunci sekarang. Apakah itu benar, Bella? Aku sangat ingin tahu bagaimana ruangan itu digunakan sekarang!"
Kamar yang dulu menjadi tempat kematian Sevana? Bella mengerutkan kening, tak terlalu memahami semua itu. Selama ini Bella tinggal di kamar lantai dua yang ditunjuk Mic, sehingga ia tak banyak memahami kamar-kamar lainnya yang tidak Mic jelaskan. Lagi pula, Bella bukan orang yang usil dan suka mencari tahu hal-hal yang bukan urusannya.
"Aku tak terlalu tahu itu!" Bella memaksakan senyum, merasa tak nyaman membahas hal ini.
"Ah aku lupa kau orang baru di sini! Tentu saja kau tak tahu itu! Andai—"
"Jasmine!" Nada Amy kali ini terdengar keras, memberi peringatan pada Jasmine lebih kuat dari sebelumnya. Jasmine memang terkenal tukang gosip, hanya saja Amy baru sadar ternyata mulut Jasmine separah ini. Sejak kapan mulut wanita itu berubah menjadi mesin gosip berkecepatan tinggi?
"Baiklah baiklah! Aku tak akan membahas hal-hal itu! Hanya saja, dengarkan nasehatku, Bella! Berhati-hatilah di rumah Mic. Hal-hal buruk sering terjadi karena kita kurang waspada dan mempercayai orang yang salah!" Jasmine berkata lembut. "Sevana orang yang baik. Dia dulu secantik dan seceria dirimu. Hanya saja, nasib mengantarkannya pada hal-hal buruk!"
…