Bab 8
Pukul empat sore Endrew memutuskan untuk pulang kerumah dia memang sengaja menyelesaikan tugasnya lebih awal dan meminta Marchello untuk menggantikannya. Mana mungkin dia menyiakan kesempatan yang bagus untuk lebih dekat dengan Bella? Dia tidak bodoh melakukan hal itu.
Bahkan kini dia segera memilih baju yang cocok, mungkin makan mala mini terkesan lebih formal dia akan memberikan kesan yang baik untuk Bella beserta keluarganya itu. Diandra yang heran pun langsung menghampiri anaknya yang hampir memporandakan lemari bajunya itu. Endrew memiliki banyak baju dan semuanya merupakan buatan designer terkenal, tapi karena makan malam special ini dia bahkan merasa tidak memiliki baju yang cocok untuk kesana.
“Mau kemana sih? Kok berantakin baju” ujar Diandra menegur anaknya.
“Mamah, keluarga Bella ngundang Endrew buat makan malam disana. Endrew bingung mau memakai baju apa” ucap Endrew curhat.
“Dirumah? Kamu mau pakai apa?” Tanya Diandra dia akan membantu anaknya untuk memilih baju.
“Niatnya mau pakai baju formal mah, jas gitu menurut mamah gimana?” Tanya Endrew meminta pendapat.
“semi formal saja nak, nanti kesannya kaku kalau kamu pakai jas. Mending kamu pakai kemeja saja ini bagus buat kamu” ucap Diandra mengepas kemeja yang baru saja diambilnya ke badan Endrew.
“Ini mah? Bagus” Tanya Endrew.
“Bagus sayang, udah sana buruan siap-siap mamah rapiin bajumu dulu” ujar Diandra.
“Makasih mamah sayang, emmmmuaaaacchhhh” Endrew mengecup pipi mamahnya dan langsung ngacir masuk kedalam kamar mandi. Dasar Endrew memang nggak ada duanya bahkan dia terkesan lebih bucin dari pada anak-anaknya yang lain.
Setelah kembali menggantung baju Endrew, ibu dari tiga anak itu langsung memutuskan kembali ke dapur dia akan menyiapkan makan malam untuk keluarganya itu. apalagi kini Aruna hamil muda dan terkadang wanita manis itu sangat susah makan jika tidak sesuai dengan yang diinginkannya.
***
Bella sudah menyiapkan bahan bahan yang akan dibuat menjadi steak, dia memang sengaja menyiapkan segalanya, tapi mungkin nanti dia akan memasak makanannya ketika Endrew sudah datang dia hanya perlu memasak daging karena semua saus sudah dia buat sebelumnya, sayuran sebagai pelengkap pun sudah di masaknya.
“Nanti tinggal daging saja?” Tanya Eeilen.
“Iya mah, kalau di masak sekarang takutnya kurang mantap kan dingin. Ini aja baru jam lima” ujar Bella.
“Ya sudah kamu siap siap sana, mandi dandan yang cantik kan nanti ada Endrew kesini” ujar Eeilen.
Bella dalam hatinya mendumel, ngapain juga dia harus dandan cantik emangnya Endrew se special itu kok dia harus melakukan semua hal itu. mamahnya memang terkadang aneh aneh saja menyuruhnya seperti itu seakan akan Endrew adalah calon suaminya.
Tapi ya dari pada dapat masalah amukan dari mamahnya dia memilih menjadi anak baik yang menuruti apa yang dikatakan oleh mamahnya, dia pergi ke kamarnya dan langsung memilih untuk mandi sekalian. Dia hanya memakai gaun simple, dia nggak mau ribet dalam acara makan malam di rumahnya sendiri ini. mungkin nanti dia akan dandan simple yang penting tidak mengecewakan saja.
Anderson kini mengobrol dengan Eeilen , laki-laki itu memang bimbang apakah ini merupakan suatu hal yang benar atau suatu jalan yang salah ia bahkan sangat takut memikirkan hal itu. Anderson merasa bersalah kepada anaknya karena perjodohan dulu membuat anaknya trauma dengan itu semua, hal inilah yang membuat Bella susah untuk membuka hati kepada laki-laki lain. Bella selalu saja nyaman sendiri dan dia merasa bahwa memang hidup sendiri mungkin lebih baik bagi dirinya itu.
“Mamah tau pah, sikap kita dulu sangat salah dan membuat Bella trauma tapi kita tidak boleh selalu berpikiran begitu pah. Kita lihaat sendiri Endrew seperti apa? Dia orang baik dan dari keluarga yang baik, mamah yakin Endrew orang yang tepat bagi Bella” ucap Eeilen.
“Jika nanti pada akhirnya Bella tetap kekeh tidak mau menerima mungkin kita harus meminta maaf kepda Endrew karena telah membuatnya terluka” ujar Anderson “Kita juga tidak mungkin memaksa anak kita untuk mau menerima orang yang tidak dicintainya bukan?”
“Iya pah, tentu saja yang kita bisa hanya berdoa untuk kebahagiaan Bella dan kita terus berusaha semoga memang ini jodoh terbaik buat anak kita” ucap Eeilen.
“Ya sudah mah ayo, kita siap siap” ujar Anderson kepada istrinya.
***
Endrew sudah rapi dengan kemea pilihan mamahnya itu, dia sudah memakai parfum dan jam tangan mahal sudah melingkar dipergelangan tangannya. Ia berdoa sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar itu. dia berdoa semoga Tuhan melancarkan semua kegiatannya mala mini, dia ingin melakukan yang terbaik demi membuat Bella percaya dengan keseriusan dirinya dalam memperjuangkan cintanya.
Ini sudah pukul setengah enam, Endrew berniat berpamitan kepada mamahnya dan disana terdapat Aruna yang sedang memakan strawberry yang asam di saat seperti ini. dia yang melihatnya pun bergidik ngeri membayangkan betapa asemnya strawberry yang belum sempurna berwarna merah itu.
“Mau kemana kak?” Tanya Aruna.
“Mau ngedate dong dek” jawab Endrew.
“Kak, Una pengen nyobain makanan restaurant yang besok buka. Pokoknya harus una yang nyicipin sebelum besok launching” ujar Aruna manja.
Endrew yang sudah menganggap Aruna sebagai adiknya sendiri pun mengiyakan permintaan adiknya itu, dia langsung menghubungi Marchello untuk memintanya menyuruh Oki agar memasakan semua menu dan dikirimkan kerumahnya.
Semuanya bos?
Iya semuanya, buatkan dan kirim kerumah. Adik gue lagi ngidam, buruan ya terima kasih sebelumnya, btw nanti gue ke sana lu jangan pulang duluan
Oke bos siap
Setelah mengatakan hal itu Endrew langsung mematikan ponselnya, dia lalu berpamitan kepada mamahnya, Diandra mendoakan anaknya dan meminta agar Tuhan melancarkan segala urusan yang kini sedang dikerjakan oleh Endrew.
“Semangat kakak, Una tau pasti semuanya bakalan sukses” ujar Una kepada Endrew.
“Makasih dek, kakak berangkat” pamit Endrew lalu diangguki Aruna.
Seperginya Endrew kini ARuna dan mamah mertuanya sedang menggosip tentang hubungan Endrew dan Bella yang mulai bersemi. Entah walaupun Endrew harus bersusah payah tapi mereka akan berada di team Endrew untuk selalu mensupport dan membantu agar Endrew segera bisa memiliki Bella.
“Mau makan di keluarga mbak Bella mah?” Tanya ARuna.
“Iya sayang, tadi itu baju di berantaaki nyari baju yang cocok. Padahal semua baju cocok di tubuhnya tapi dia merasa kurang bagus, dasar anak itu kalau bucin bahkan mengalahkan saudara-saudaranya” ujar Diandra yang kini sedang memotong sayuran yang akan di masak sop, cuacanya memang sedikit mendung dan makanan hangat sangat cocok untuk malam ini.
“Mamah jangan masak banyak-banyak, kan nanti bakalan datang makanan dari restaurant kakak” ujar Aruna.
“Iya sayang, mamah palingan buat sop aja ini kan enak di suasana yang dingin. Suamimu mana? Kok belum pulang jam segini?” Tanya Diandra.
“Iya, Mas ngeselin ih masa dari jam lima Una telpon nggak ada jawaban” kesal Aruna.
“coba telpon papah sayang, tadi papah ada rapat apa mungkin Andrew rapat bareng papah?” ujar Diandra.
“Ya udah Una telpon papah ya Mah” ujar Aruna.
“Iya sayang” jawab Diandra.
***
Saat di jalan menuju rumah Bella kini Endrew terjebak macet, disini habis hujan deras dan menyebabkan pohon tumbang di jalan raya ini. bahkan macet dan tidak bisa bergerak lagi, padahal Endrew sudah berangkat lebih awal dari rumahnya. Ini sudah jam enam lebih lima belas menit dan dia masih saja terjebak macet di jalan menuju rumah Bella.
Endrew mencoba menghubungi Bella tapi sedari tadi wanita itu tidak mengangkat telponnya, hal ini bahkan membuat Endrew ketar ketir karena takut telat dan membuat image nya buruk di depan Bella dan keluarganya itu. dia tidak ingin kesannya semakin buruk karena terlambat dalam undangan makan malam special malam ini.
“g****k, kan gue dah punya nomor bokapnya Bella dari Marchello” ujar Endrew.
Endrew langsung menghubungi nomor Anderson, sekali telpon langsung diangkat olehnya Endrew yang merasa senang langsung memulai percakapan. Dia memang sedikit gemetar karena takut tapi apa daya dia harus jujur dan mengatakan apa adanya.
Hallo om, ini Endrew
Kenapa nak?
Saya sudah menelpon Bella tapi tidak ada jawaban om, ini saya masih di jalan yang 3 km dari rumah om. Disini lagi macet karena pohon tumbang maaf ya om kalau nanti telat sampai sana
Iya nak, nggak papa kamu hati-hati dan sabar ya. om akan member tahu Bella
Baik om, terima kasih banyak
Endrew akhirnya bisa bernafas lega, setidaknya dia berhasil mengabari keluarga Bella jika dia telat datang sampai sana. Mana mungkin dia mau dikatakan orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu, padahal ada alasan di balik semuanya.
Endrew melihat proses pengangkatan batang pohon besar itu, ada satu mobil yang ketimpa untung saja tidak ada korban jiwa disana, dia menunggu setengah jam dan kini barulah mobil bisa berjalan walaupun masih merayap. Tak apa 3 km itu tidak jauh dia bisa ngebut jika sudah sampai jalan sepi.
Endrew hanya berdoa semoga Bella tidak kesal dengan keterlambatannya ini, padahal janjian jam setengah tujuh tapi Endrew molor karena ada musibah yang tidak terduga seperti ini, dia juga tidak mau telat tapi ini semua kehendak Tuhan dan dia harus menerimanya dengan lapang d**a.
***
Bella kesal karena sudah setengah tujuh tapi Endrew belum datang juga, dia bahkan belum sempat mengecek ponselnya karena sibuk masak, Anderson belum bertemu Bella karena memang sedari tadi dia menunggu Endrew di depan.
“Dimana sih tuh orang katanya datang tepat waktu malahan jam segini belum datang” ujar Bella kesal.
“Jangan begitu nak, kita tidak tau di jalan ada apa, jadinya sabar yak. Kalau nggak kamu coba Tanya ke Endrew sudah sampai mana” ujar Eeilen menasehati anaknya.
“Iya mah” walaupun sewot Bella pun melakukan apa yang di perintah oleh mamahnya itu.
Bella mengambil ponselnya yang tergeletak di ruang keluarga, di meja depan televise disana dia melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Endrew dan kini dia mulai panic karena takut Endrew kenapa-kenapa.
Bella melepas apronnya dan langsung menuju ke depan rumah, disana dia melihat papahnya yang masih menunggu kedatangan Endrew, ketika melihat anaknya keluar rumah Anderson pun langsung menatap anaknya, tapi sebelum dia sempat berkata kini Bella mulai mendahuli ucapan papahnya.
“Endrew nelpon pah, emang nya ada apa?” Tanya Bella agak panic tapi dia masih bisa mengontrol dirinya itu.
“Ga usah panic sayan—“ belum selesai melanjutkan ucapannya kini Bella sudah memotong ucapan papahnya.
“Bella ga panic pah” elak Bella.
“Iya ya, jangan potong ucapan papah. Endrew tadi nelpon papah karena kamu ga jawab telpon darinya, katanya deket sini ada pohon tumbang macet banget di sana dan kini dia masih sabar menunggu sampai bisa lancar” ujar Anderson.
“Aku kira kenapa-kenapa, ya udah Bella masuk kedalam pah” ujar Bella.
Tak terasa dia menghembuskan nafasnya pelan, dia tidak sadar bahkan di dalam hatinya ada sedikit ruang untuk Endrew di sana, walaupun Bella tidak menyadarinya tapi mungkin seiring berjalannya waktu ruang itu akan terisi penuh dengan Endrew di sana.
Pukul setengah delapan akhirnya Endrew sampai di rumah Bella, Endrew mengucapkan permintaan maaf kepada Anderson karena sudah membuat mereka semua menunggunya lama, tapi mereka semua maklum karena ini pun tidak karena dia tapi karena Tuhan adanya bencana ini.
“Maaf om, tante dan Bella. Saya tidak bermaksud datan telat, bahkan dari jam setengah enam saya sudah di jalan tapi sampai sini sama saja telat” ujar Endrew.
“Tak apa nak, namanya juga musibah tidak ada yang tau” ucap Eeilen.
“Ayo makan, Bella dah lapar” ucap Bella jutek.
Endrew merasa jika Bella marah padanya, tapi dia tidak bisa membela dirinya lebih jauh karena memang ini kesalahannya yang sudah sangat telat menepati undangan makan malam hari ini. dia merasa kecewa karena sudah mengecewakan Bella. Tapi dia mencob bersikap biasa saja karena memang dia tidak bisa melakukan apapun juga.
“Masakannya sangat enak tante” puji Endrew.
“Itu Bella yang masak, udah seperti calon istri idaman bukan” ujar Eeilen memuji anaknya.
“mamah… ih ngomong apa sih” ujar Bella malu.
“Haha nggak papa sayang, nak Endrew juga setuju dengan apa yang mamah katakana” ucap Eeilen.
“Kalau masakan Indonesia nih mamahnya yang paling jago, kalau masakan luar wah ini Bella jagonya Ndrew” ujar Anderson.
“Wah pasti om sangat bersyukur dan bahagia memiliki dua wanita cantik dan pintar memasak ya om” ujar Endrew.
“Tentu, om sangat senang” ucap Anderson menjawab pertanyaan Endrew.
“Aku juga senang om, kalau dapat Bella sebagai calon istri” ucap Endrew tanpa saringan.
“Eh maksudnya apa yakkk—“ ucapan Bella terpotong oleh tawa Anderson dan Eeilen karena ekspresi anaknya yang sangat lucu nan menggemaskan ketika memprotes apa yang diucapkan oleh Endrew itu.
Endrew hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, ah ia pikir dia mengatakan semuanya dalam hati tetapi ternyata keluar dari mulutnya sendiri. Rasanya Endrew ingin masuk kedalam perut bumi saking malunya.
bersambung