Hana menatap Dhava, lelaki satu ini sebenarnya ingin membodohinya atau bagaimana? Karena ketika mereka tiba, tidak ada orang sama-sekali, dan yang Hana tahu informasi dari pelayan. Bahkan ayah dan mama Dhava memang sudah pergi tadi pagi. “Kamu marah?” “Jangan deket-deket!” kesal Hana, menghempaskan tangan Dhava yang hendak menyentuh wajahnya. Hal itu membuat Dhava menghela nafas, lalu duduk di sebelah Hana. Padahal kursi yang Hana duduki ini single sofa, buat satu orang. Hana saja duduk sudah sedikit pas-pasan, tapi ini ditambah dengan Dhava lagi? Hal itu membuat Hana beranjak ingin pindah tempat, tapi Dhava lebih dulu menahan pinggang Hana. “Dave!” Lelaki itu tersenyum menyeringai, menatap Hana yang menatapnya kesal. Panggilan Hana entah kenapa membuat Dhava tersenyum lebar, ingin sek

