BAGIAN 6

1390 Words
Woman…Let Me Your Woman Woman…Woman…Woman Christian menatap Hana—adiknya yang sama-sekali tidak peduli dengan kesehatan telinga. Suara Hana yang tidak lebih bagus daripada suara ayam berkokok itu membuatnya geram. Entah lagu apa yang sedang membuat adiknya itu terlihat seperti berada di dalam dunianya sendiri. Tidak peduli, bahwa dia masih berada di dalam ruangan berisi oksigen yang sama dengannya. Christian menghela nafas, pagi ini Hana sepertinya tidak ke kantor. “Hana, abang pergi dulu. Mungkin pulang agak malam, ingat mandi loh dek!” geram Christian, menatap Hana yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan wajah berminyak. Sama-sekali belum cuci muka, membuat Christian menarik nafasnya dalam, sabar, dia harus sebar sebagai abang yang baik. “Mau kemana?” “Ada urusan, kenapa?” langkah Christian berhenti di ambang pintu kos milik Hana. Dia menatap Hana yang tidak terlihat untuk menjawab. Membuat ia lekas menarik pintu dan hendak menutupnya. Namun sebuah benda lebih dulu menghalanginya. Christian menatap ke bawah, dan terkejut begitu melihat kepala Hana nyemplung di bawahnya. “Masyaallah….” Seru Christian mengelus dáda, lalu menatap Hana yang hanya cengar-cengir, merasa tidak berdosa dengan apa yang baru saja dilakukan oleh gadis itu. “Dek, bisa gak sih kalo mau bilang apa-apa gak usah make ada acara ginian? Gak malu apa di lihat sama orang, dikira nanti gue psikopát lagi!” “BODO!” Seru Hana, menjulurkan lidahnya pada Christian Sabar, sabar Chri, dia itu adik lo. Batin Christian, dan memilih untuk berjongkok. Membawa hana untuk duduk di sofa, dan menatap adiknya itu dengan mata menyipit. Ia tahu jika sudah begini, pasti ada permintaan yang ingin disampaikan oleh Hana. Tapi Christian tahu, adiknya itu tidak akan pernah mengatakan apa keinginannya, tidak akan pernah. Sok jual mahal, padahal jual murah saja tidak laku. “Kamu mau apa? Nanti pulang kerja abang beliin!” Begitu Christian mengeluarkan kata-kata keramat itu, wajah Hana langsung dipenuhi dengan binar wajah kemenangan. Dia langsung duduk dengan aturan, tidak lagi melebarkan kakinya. “Aku mau es, coklat, pocky, kitkat, s**u sama….” “Gak sekalian abang beliin alfamidi aja buat lo, Han?” seru Christian jengah, adiknya benar-benar tahu cara meminta yang baik. Tanpa diajari sekalipun. “Boleh!” “Lo bukan adek gue, mau morotin make beli alfamidi lagi, gilá lo Han!” “Ya kan situ yang bilang, bukan gue. Dasar, makanya kalo ngomong itu mikir-mikir dulu lah bang. Jangan menjanjikan hal yang gak bisa disanggupi. Dasar human!” “Emang lo bukan human?” Hana menggeleng, “Aku manusia!” Lagi. Christian menarik nafasnya kesal dan lekas berdiri, namun pegangan di pahanya membuat dia kembali menatap ke bawah. Hana memeluk kakinya dengan tatapan minta diberi belas kasihan. Christian ingin sekali memukul kepala di bawahnya ini, namun, namun ia tidak bisa melakukannya dan tidak tega lebih tepatnya. Ia takut, jika ia memukul kepala genius itu, otak Hana malah akan miring. Yang susah dia juga pada akhirnya. “Iya Hana, abang beliin kok. Tapi tangan lo, ya ampun, minggir-minggir!” Christian lekas melepaskan tangan Hana, tanpa menoleh lagi ke belakang, dia lekas keluar dari rumah yang sudah lumayan bersih itu. Mengambil mobilnya yang terparkir di bagasi dan lekas melaju keluar. Sesekali Christian menatap jam tangannya, ia pasti akan tiba dari waktu yang sudah dijanjikan. Sebenarnya Christian tidak ingin bekerja dengan sosok satu ini, karena sosok satu ini sangat penuh dengan rumor aneh yang beredar. Tawaran yang diberikan oleh sosok ini sudah pernah ia tolak sekali, dan entah kenapa, tawaran itu datang lagi. Bukan dalam bentuk tawaran, tapi dalam bentuk paksaan. Christian bekerja di salah satu badan hukum, dia sudah menjadi seorang detektif yang menyelidiki beberapa kasus-kasus penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Dan entah kenapa, tiba-tiba dia ditugaskan untuk bekerja sama dengan salah satu miliarder muda itu. Pemilik dari salah satu perusahaan besar di sini. Christian menatap café yang menjadi lokasi tempat mereka berbincang-bincang kali ini, dan membicarakan mengenai kedepannya. Dia memarkirkan mobilnya, dan lekas memasuki café itu. Sejauh mata memandang, Christian akhirnya menatap dimana sosok itu berada. Dia lekas berjalan ke arahnya. “Maaf aku terlambat, Dhava. Adikku punya banyak permintaan sebelum aku bisa berhasil kemari!” Dhava yang menyadari kehadiran Christian mengangguk, “Kau punya adik?” seru Dhava, melepaskan jabat tangan Christian dan kembali duduk di tempatnya. “Hahaha, adik kecilku memang sedikit merepotkan. Maaf atas ketidaknyamanannya!” Tidak ambil pusing, Dhava mengangguk. Seorang pelayan lekas datang, Christian memesan Americano. Ia jadi ingat jika Hana dulu juga sangat menyukai kopi ini. Setelah pesanan itu datang, Dhava lekas meletakkannya di sebelah kirinya. Tidak berbeda jauh dari gelas milik Dhava. Apapun gerakan dari sosok di depannya itu, tidak lepas dari pandangan Dhava. Ia sedikit tidak mengerti kenapa Dhava meletakkan gelas itu di sebelah cangkir kopinya. Tapi entah apapun itu, Dhava lekas menatap Christian. “Sebuah kehormatan bisa bekerja sama denganmu Christ, setelah menolak tawaranku sebelumnya tentunya. Apa atasanmu yang memaksamu?” Christian tidak mengalihkan perhatiannya dari Dhava. Sombong dan Angkuh, begitulah kesan pertama yang didapat oleh Christian. “Maaf jika penolakanku sebelumnya membuat Anda tidak nyaman, Dhava. Aku memang tidak menerima kasus lagi dalam beberapa bulan ini, tapi sepertinya niat cutiku tidak bisa aku penuhi saat ini!” “Cuti?” Hahaha, Christian tertawa sambil mengangguk, “Aku tahu kedengarannya aneh jika aku mengambil cuti. Tapi aku punya rencana sendiri sebelumnya, yang mungkin akan aku penuhi jika pekerjaan ini selesai!” “Baiklah, ini, aku menyewamu karena benar-benar butuh orang pintar sepertimu. Aku tidak tahu tepatnya kapan kasus ini, tapi beberapa hari terakhir, aku menerima sebuah surel dari orang yang tidak aku kenal. Dia bilang jika aku tidak memberikan berkas yang dia minta, maka nyawaku akan berada dalam bahaya. Sejauh ini, sosok pengirim ini masih belum melakukan apa-apa padaku. Hanya mengirim sure ini saja, aku sudah mencetak semua surel yang aku terima untuk mempermudah mu. Beberapa anak buah yang aku perintahkan untuk menangani kasus ini sama-sekali tidak berhasil. Aku kecewa dengan mereka, jadi aku berharap, kau tidak akan mengecewakanku kali ini Chris. Karena aku memang terganggu dengan surel ini!” Christian menerima berkas itu dari tangan Dhava dan mulai membacanya. Tidak semuanya tentunya, karena Cristian lebih dulu memasukkan berkas itu ke dalam ranselnya. Dia menatap Dhava, ia baru tahu jika sosok ini terganggu dengan surel biasa seperti ini. “Ada lagi yang ingin kau beritahu, Dhav? Aku akan mencoba untuk mencari tahu mengenai masalahmu ini, jika aku tidak mendapatkan apa-apa. Kau tidak perlu membayarku. Itu adalah perjanjian yang sejak awal harus kita saling tahu!” “Tidak membayar?” seru Dhava dengan kening yang berkerut “Ya, apa kau keberatan?” “Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu?” Christian tersenyum dan menggeleng, “kebanyakan pelangganku memang juga ada yang tidak mengerti dengan sistem kerja itu. Tapi itu adalah sistem yang aku ambil. Jika aku memiliki informasi yang kau butuhkan, dan jika nantinya aku bisa melanjut ke tahap berikutnya, maka kau baru membayarku sesuai dengan apa yang aku dapatkan.” “Apa kau yakin?” Christian kembali mengangguk mantap. “Aku tertarik,  baiklah, semoga kau mendapatkan apa yang aku butuhkan. Jika kau butuh data tambahan, kau bisa bertanya padanya. Dia adalah Matthew—sekretarisku!” Perhatian Christian tertuju mata sosok lelaki yang baru saja bergabung. Dia lekas berdiri dan menjabat tangan sosok yang baru saja tiba itu. “Christian!” “Matthew, kau bisa memanggilku Matt. Jika kau butuh informasi tambahan, ini nomorku, kau bisa menghubungi segera!” Christian mengangguk dan kembali duduk, namun dia mengerutkan kening mendapati Dhava yang lekas berdiri. “Aku akan kembali lebih dulu, masih ada beberapa hal yang ingin aku selesaikan. Selamat bekerja sama, Chris, pastikan lain kali adik kecilmu itu tidak membuatmu terlambat!” “hahaha, maafkan aku sekali lagi Dhava!” Dhava mengangguk dan lekas pergi dari café itu bersama dengan Matt. Christian menatap mobil itu dari duduknya, sepertinya bekerja sama dengan sosok itu memang tidak akan mudah untuk kali ini. Christian menghela nafas, sepertinya dia harus lembur lagi. Semoga saja Hana bisa membantunya kali ini, salah satu alasan dia menginap di kos Hana, agar adiknya itu bisa membantunya. Christian tidak bisa berbohong, sekalipun dia sudah bekerja sebagai detektif dan memiliki team yang bisa dia andalkan. Tapi Hana jauh lebih bermanfaat baginya. Adiknya itu memiliki kemampuan yang jauh di atas rata-rata, sayangnya, sejak kematian ayah mereka. Hana berubah dan menjadi sangat malas, seolah tidak ingin lagi melakukan apa-apa. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD