"apa kabar?" suara sapaan lembut wanita yang dianggap sebagai ibu terdengar sangat asing. Asing sekali baginya. Sangat asing. Selang infus masih menjadi temannya, mata itu melirik kearah wanita yang menyapa tadi. Tak banyak ekspresi yang diberikan, hanya saja rasanya sangat membahagiakan. "Adeva~" lagi ia berucap, tangannya pun ikut terulur membelai rambut gadis yang masih terbaring lemah. "Adeva anak mamah..." Tak sadar mereka saling bertatap dan air mata Valen jatuh begitu saja. Sekarang ia benar-benar merasa seperti monster. Valen mencium pipi Eva lalu pergi setelah menyuruh Eva untuk kembali beristirahat setelah sadar beberapa hari ini. Ini sudah hari ke-2 setelah kekecauan yang terjadi dengan hilangnya Ela dan Valen sangat menyesal. Menyesal karna tidak mengenali anaknya se

