RUMAH KAYU IMPIAN

1003 Words

"Baik, kita pulang," kata Hanna sambil meraih gagang stroller. "Tunggu dulu," potong Hatta, menghentikan langkah mereka. Ia menarik stroller Axel ke sisi trotoar yang tenang. "Kita belum makan siang, Hanna." Hanna mengerutkan dahi. "Ibu Husna pasti sudah menyiapkan makan siang di rumah. Kita bisa makan di sana." "Aku tahu Mama Husna memasak yang terbaik. Tapi, kalau kita pulang sekarang, kita akan tiba sesudah jam makan siang, dan kamu akan langsung diserbu tugas ibu dan nyonya rumah lagi," jelas Hatta, lagi-lagi menyajikan argumen yang sulit dibantah. "Aku tidak ingin perjalanan hari ini berakhir dengan kamu kembali stres karena harus menyusui sambil menghangatkan makanan." Hatta menunjuk ke seberang jalan, di mana sebuah kafe kecil dengan fasad kayu gelap dan jendela besar berg

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD