Hafidz terkejut. "Pergi? Ke mana? Bukankah dia sudah menemani Hanna melahirkan?"
"Dia bilang ada masalah di tambang yang harus dia selesaikan," jawab Bu Husna, suaranya sarat dengan kekhawatiran.
"Dia menelepon saya tadi. Dia sudah memesan tiket untuk kembali ke Indonesia."
Hafidz mengangguk, tidak curiga. Ia tahu Hatta memang punya banyak urusan. Ia kemudian teringat percakapan mereka.
"Ponsel saya m@ti saat di pesawat," kata Hafidz.
"Begitu saya nyalakan di bandara, ada pesan dari Hatta. Dia bilang Hanna sudah dibawa ke ruang bersalin. Itu yang membuat kami langsung kemari tanpa mampir makan."
Keluarga itu mengangguk, lega bahwa mereka tiba tepat waktu, berkat informasi dari Hatta. Mereka mulai menikm@ti makanan yang ada. Mereka tidak tahu, di sebuah kafe tidak jauh dari sana, Hatta sedang duduk sendirian, merenung, penuh penyesalan, dan bersiap untuk pulang ke Indonesia.
Kata-kata kalau Hatta pulang bagai bom waktu yang meledak di tengah ruangan.
Hanna, yang tadinya tersenyum, kini menatap kosong ke arah Bu Husna.
"Pulang?" bisik Hanna, suaranya serak.
"Kenapa?"
Hanna kecewa, Hatta tak pamit padanya.
'Tak sempat, atau tak mau pamit?' pikir Hanna galau, walau dia sedang berbahagia dengan kedatangan orang tua, kakak, kakak ipar dan dia keponakan terkasih.
Bu Husna menunduk, tidak bisa menjawab. Hafidz, yang tadinya berniat berterima kasih dan berbagi kelegaan dengan Hatta, kini hanya bisa menatap adiknya. Sekali lagi, sebuah perpisahan mendadak terjadi, sebuah kepergian tanpa pamit yang menyisakan kebingungan dan luka.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di ruang rawat, saat malam tiba, Hafidz berdiri di dekat ranjang Hanna, wajahnya terlihat lelah namun lega. Ia menoleh ke arah Bu Husna.
"Bu Husna," kata Hafidz, suaranya penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak atas semua bantuan ibu. Saya persilakan ibu untuk pulang ke rumah dan beristirahat."
Bu Husna mengangguk. Tatapannya tegas, sesuai dengan latar belakangnya sebagai perwira.
"Sama-sama, Pak Jenderal," jawabnya.
"Saya akan pulang ke rumah. Sekalian mempersiapkan ruang untuk bayi, sebab besok Hanna akan keluar dari rumah sakit."
Hafidz mengangguk, puas dengan jawaban tegas itu. Kemudian, ia menoleh ke arah keluarganya.
Kemudian, Hafidz menatap keluarganya.
"Amang, Inang, Eda, kalian harus kembali ke hotel. Hari ini terlalu berat untuk kita semua. Besok kita bisa kembali lagi, lebih segar."
“Biar aku yang menemani Hanna disini.”
Mereka semua mengerti. Mereka memeluk Hanna, mengucapkan selamat malam. Pintu tertutup, menyisakan Hanna dan putranya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hanna menatap putranya, Axel, yang tertidur pulas. Ia merasa lega, bahagia, dan penuh syukur.
Namun, di tengah semua perasaan itu, tiba-tiba sebuah kekosongan menyelimuti hatinya. Ia merasakan ada yang pergi dari hidupnya.
Bukan Amang, yang pelukannya hangat. Bukan Inang, yang ciumannya penuh cinta. Bukan Hafidz dan Tiur, yang janjinya adalah kekuatan. Yang pergi itu adalah sesuatu yang lain.
Kehangatan dari tangan yang menggenggamnya, bisikan yang penuh kepastian, dan pelukan spontan yang baru saja ia rasakan.
Hanna baru menyadari, ia tidak hanya kehilangan suami, tetapi juga kehadiran seorang lelaki yang kini meninggalkannya begitu saja, tanpa kata.
Hanna teringat momen-momen yang baru saja ia lalui. Ia teringat kata-kata manis yang terucap saat persalinan.
Hanna teringat sentuhan tangan yang menggenggamnya begitu erat. Hatinya menghangat, namun kemudian, sebuah suara lain berbisik di kepalanya.
Bukankah kamu membenci laki-laki?
Suara itu adalah hitam, bayangan masa lalu yang tak pernah pergi. Ia mengingatkan Hanna pada janji-janji kosong, pada kebohongan yang merusak, pada luka yang dibuat oleh Akbar dan Andi.
Laki-laki akan berbohong dan meninggalkanmu, bisik suara itu. Mereka semua sama. Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri.
Hanna mengepalkan tangan, amarah yang membara kembali naik. Ia benci mereka. Ia benci semua laki-laki. Ia benci cara mereka menyakiti.
Namun, kemudian, sebuah cahaya putih muncul, membantah kegelapan itu. Cahaya itu mengingatkannya pada detik-detik saat ia berjuang melahirkan. Ia tidak sendirian. Ada seseorang yang memegang tangannya. Ada seseorang yang menguatkannya. Seseorang yang mengazankan anaknya. Seseorang yang... yang baru saja pergi.
Tapi dia tidak sama, bisik suara putih itu. Dia tidak harus ada di sana. Tapi dia ada.
Pertarungan batin itu berkecamuk di pikiran Hanna.
Hati kecilnya ingin mempercayai Hatta. Ingin percaya bahwa ada laki-laki baik di dunia ini.
Namun, luka-luka masa lalu begitu dalam. Ia takut. Takut untuk memercayai lagi, takut untuk kembali jatuh.
Hanna menatap keheningan di sekelilingnya, dan ia bertanya-tanya, mana yang harus ia dengarkan? Kebencian yang membuatnya kuat, atau harapan yang membuatnya rapuh?
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Pagi hari ketiga setelah Hanna melahirkan, sinar matahari hangat menyusup ke dalam rumah kecil di pinggir kota Paris. Hafidz sudah membelikan rumah itu sebelum keberangkatan Hanna, sebuah tempat asri dengan suasana pedesaan yang sejuk.
Di rumah itu hanya ada tiga kamar tidur. Satu sudah ditempati Hanna bersama bayinya, dan satu lagi ditempati oleh Bu Husna.
Keluarga Lubis tiba. Inang segera menghambur memeluk Hanna dan mencium cucu barunya, Axel, dengan penuh kasih sayang. Setelah kebahagiaan menyelimuti mereka semua, sebuah masalah baru muncul.
"Inang tak mau kembali ke hotel, Bang," kata Inang, menoleh ke arah Hafidz.
"Inang mau tinggal di sini saja dengan Hanna dan Axel. Hati Inang tak tenang kalau tidak dekat dengan mereka selama Inang disini."
Hafidz dan yang lainnya saling pandang. Mereka bingung. Mereka tahu, dari tiga kamar yang ada, hanya tersisa satu kamar kosong. Inang ingin menginap, tapi kamar itu tidak akan cukup untuk mereka semua.
Kemudian, Achsan menarik-narik ujung baju Tiur.
"Mama, Achsan mau tidur sama opung di sini," katanya polos.
Masalah baru muncul. Di tengah kelegaan karena Hanna sudah pulang, keluarga itu kini harus memikirkan bagaimana mengatur tempat tidur.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
"Baiklah," kata Hafidz, menatap kedua orang tuanya.
"Inang dan Amang bisa tidur di sini. Hanna pasti akan lebih tenang jika ada kalian berdua di dekatnya."
Inang tersenyum lega. Ia memeluk putrinya, lega karena bisa berada di sana untuk Hanna.
Sementara itu, Hafidz berjongkok di hadapan Adam dan Achsan yang cemberut.
"Ayolah, jagoan," bujuknya.
"Kita akan kembali ke hotel. Tapi nanti malam, Papa akan ajak kalian makan malam di atas perahu, di Sungai Seine. Kita bisa melihat gemerlap lampu Paris, dan Menara Eiffel yang terang benderang dari sana."
Mata si kembar langsung berbinar.
"Sungguhan, Pa? Di perahu?" tanya Adam.
"Sungguh," janji Hafidz.
"Dan setelah itu, kita akan naik ke puncak Eifel. Kalian akan bisa melihat seluruh kota Paris dari ketinggian, lampu-lampu yang berkilauan seperti bintang-bintang di bawah kita. Bagaimana? Bukankah itu lebih seru daripada tidur di sini?"