7. Kei Arashi (3)

1252 Words
Chapter 7 : Kei Arashi (3) ****** AI membuka kedua matanya perlahan. Dengan lamban, kelopak matanya mulai terbuka sedikit dan ia bisa melihat suasana kamarnya yang cukup gelap malam itu. Lampu kamarnya tidak hidup. Ah, ternyata ia ada di dalam kamar. Anehnya, samar-samar Ai melihat bahwa sudah ada cahaya bulan yang masuk ke kamarnya melalui ventilasi jendela. Apakah hujan sudah berhenti? Ai tidak mendengar suara hujan lagi. Akan tetapi, mengapa ia malah melihat area kamar? Bukankah seharusnya yang ia lihat sekarang adalah langit-langit kamarnya? Apakah saat ini ia sedang duduk? Tatkala kelopak mata Ai mulai terbuka separuh, mendadak ia kembali diserang oleh sakit kepala yang begitu hebat. Begitu menyakitkan. Sakit yang luar biasa itu sukses membuatnya langsung mengerang, mengernyitkan dahi, dan menutup kedua matanya kembali. Ia refleks langsung mau memegang dahinya, tetapi ketika ia mulai menggerakkan sebelah tangannya, mendadak ia terdiam. Tangannya tidak bisa digerakkan. Ai langsung membuka matanya sepenuhnya. Alisnya menyatu. Ada yang aneh. Ai spontan menoleh ke samping, ke arah tangan kanannya. Tangan yang tadinya mau ia gunakan untuk memijit dahinya karena diserang oleh sakit kepala yang luar biasa. …dan betapa terkejutnya Ai tatkala melihat bahwa tangannya telah diborgol. Sebelah gelang borgol itu dipasang di kayu penyusun kepala ranjang, sementara gelang yang sebelahnya lagi dipasang di pergelangan tangan Ai. Tangan Ai dikunci di sana. Mata Ai kontan membulat. Jantungnya langsung berdegup kencang. Wajahnya menegang; tubuhnya mematung. Tangannya…diborgol? Siapa—siapa yang melakukan ini?! “Sudah bangun?” Mendengar suara yang berat dan begitu mencekam di dalam kamarnya yang gelap itu, Ai jelas langsung terperanjat. Wajah gadis itu mulai memucat dan ia langsung menoleh ke asal suara. Suara itu berasal dari depan kasurnya. Di bagian kaki kasurnya. Begitu Ai melihat ke sana, kedua matanya kembali membeliak. Mulutnya terbuka; jantungnya seolah berhenti berdegup untuk sejenak. Napasnya tertahan. Itu adalah Kei. Sebentar. Tadi Ai tidak melihat ada pria itu di sana. Apa tadi Ai tidak melihatnya karena belum benar-benar membuka mata? Apalagi tadi kepala Ai terasa sakit bukan main… Kei Arashi duduk di depan sana, memperhatikan Ai dengan mata merahnya yang tajam. Ia duduk di sana seraya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a; kedua kakinya juga bersilang. Akan tetapi, ia memandang Ai dengan lekat. Mengunci Ai dengan tatapannya. Ekspresi wajahnya tampak dingin; matanya menggelap. Ia membuat suasana di sana jadi terasa begitu mengerikan. Semua oksigen seakan tersedot ke luar dan menghilang dari kamar itu. Pria itu seakan tengah mengeluarkan aura berwarna hitam dari tubuhnya dan seluruh aura itu mulai menguar di udara. Rasanya begitu menyesakkan. Akan tetapi, meskipun suasana di dalam kamar Ai malam itu terasa begitu mencekam; meskipun Kei tampak begitu mengerikan, Ai tetap mengeluarkan penentangan luar biasa yang sejak tadi sudah bersarang di dalam kepalanya. Oleh karena itu, meskipun wajahnya pucat dan tegang, Ai tetap melebarkan kedua matanya dan berteriak kencang kepada Kei. Ia lebih memedulikan kemarahannya daripada rasa takutnya. “Kau—APA YANG KAU LAKUKAN?!!” teriak Ai, ia mulai memberontak kencang; Ai menarik-narik tangannya yang terikat ke kepala ranjang itu. Meskipun belenggu itu terasa sangat ketat dan berakhir menyakiti pergelangan tangannya, Ai tetap meneriaki Kei tanpa ampun. “LEPASKAN AKU!! APA KAU GILA?!! LEPASKAN BORGOL INI, SIALAN!!” Demi dunia dan segala isinya, Ai memang tahu kalau Kei membencinya. Akan tetapi, tidak sampai begini juga, bukan? Permasalahan di antara mereka tidak sebesar itu sampai harus melakukan tindakan kriminal! Apa pemuda itu berencana untuk membunuh Ai? Ah, sial. Sial! Gin belum pulang! Bagaimana ini? Siapa—siapa yang akan menolong Ai? Dia mungkin akan dibunuh!! Terlepas dari jabatan polisi ataupun jabatan kapten divisi satu yang Kei miliki, pria itu ternyata adalah psikopat gila. Kalau ia memang berencana untuk membunuh Ai, berarti ia adalah psikopat sinting. Ia bukan sekadar sadis semata. Oh, astaga, bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri? Tangannya dikunci dengan borgol! Ai mulai memberontak, menendang-nendangkan kakinya ke udara, dan terus menarik tangannya agar terlepas dari borgol tersebut. Akan tetapi, semuanya tak membuahkan hasil. Justru pergelangan tangannya jadi semakin lecet; kulitnya mulai memerah dan mengelupas. Ai sadar bahwa matanya memelotot dengan murka tatkala ia kembali melihat ke arah Kei. “LEPAS, k*****t!! Polisi macam apa kau ini?!! Aku tahu kau membenciku, tetapi apakah kau harus sampai membunuhku?!! LEPASKAN AKU, SEBENTAR LAGI GIN AKAN PULANG DAN MEMERGOKIMU!!” “Danna tidak akan pulang,” jawab Kei dengan suara rendahnya. “setidaknya dalam waktu dekat.” Ai tersentak. Wajahnya semakin menegang. Dua detik kemudian, suara Kei kembali terdengar. “Dia pergi menemui teman-temannya, ‘kan?” Setelah itu, Ai menyaksikan Kei yang mulai bangkit dari duduknya. Ternyata kursi yang ia duduki adalah salah satu kursi yang ada di bar. Pria itu menyeretnya ke dalam kamar Ai dan duduk di sana, menunggu hingga Ai sadar. Pemuda itu berdiri. Ia mulai melangkah dengan amat perlahan, mendekati sisi ranjang. Suara langkah kakinya terdengar bagai gong kematian di telinga Ai. Tubuh pemuda itu yang tinggi kini tampak semakin menjulang di kegelapan malam. Cahaya bulan membuat bayangannya terlihat semakin besar dan menyeramkan. Ai refleks memundurkan tubuhnya, menggeser tubuhnya ke belakang meskipun ia tahu bahwa punggungnya hanya akan menabrak kepala ranjang. Ai melihat seluruh pergerakan Kei; gadis itu memperhatikan Kei yang sedang mendekat ke arahnya—ke sisi kanan ranjang—dengan mata yang membulat karena panik. Napasnya memburu. Dengan terbata, ia pun berbicara, “Da—dari mana kau—” Kei berhenti melangkah. Posisi pria itu kini berada tepat di sisi ranjang. Hanya tinggal satu langkah lagi jika ia ingin mencapai kepala ranjang. Di kegelapan malam itu, saat tubuh tegap pria itu memunggungi cahaya bulan, Ai melihat pria itu tersenyum miring kepadanya. “Aku datang ke rumahmu begitu kulihat Danna berlari ke luar.” Kontan saja kedua mata Ai membulat sempurna. Jangan-jangan… Jangan-jangan semua ini sudah Kei rencanakan? Sebentar. Kalau begitu, kue itu— “Aku menaruh obat di dalam kue itu. Tidak ada pesanan kue atau apa pun. Akulah yang menyiapkannya.” Kei memiringkan kepalanya. Pria itu menjawab dengan lugas seolah bisa membaca pikiran Ai. Dia pun menatap Ai dengan dingin. “Aku tahu bahwa kau akan langsung memakannya di depanku.” Ai menggeleng tak percaya. Mulutnya menganga, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Napasnya memburu dan dadanya sesak. Dia seakan baru saja selesai berlari sejauh beberapa kilometer. Namun, mendadak rasa marah kembali menguasai Ai. Ini jelas-jelas merupakan perbuatan kriminal. Kei, yang merupakan seorang polisi andalan, sekarang tengah berencana untuk berbuat jahat kepadanya. Ini sinting. Kei bahkan sudah merencanakan semuanya sejak awal! “KAU SUDAH TIDAK WARAS!! LEPASKAN AKU! APA SALAHKU PADAMU? KITA MEMANG SELALU BERTENGKAR, TETAPI APAKAH PERMASALAHAN KITA SESERIUS ITU?!” teriak Ai. Tiba-tiba Kei kembali bergerak. Pria itu mulai naik ke ranjang dan hal itu spontan membuat mata Ai kembali terbelalak. Ai langsung bergerak ke kiri, berusaha sebisa mungkin untuk menjauhinya, tetapi mendadak sebelah kakinya ditarik dengan kencang oleh Kei. Ai kontan terseret kembali ke posisinya semula. Kini ia justru mengangkangi Kei; kedua kakinya ada di sisi kanan dan kiri tubuh Kei karena Kei tadi menarik kakinya sekaligus memosisikan kakinya di sana. Kei mulai mendekati Ai, merundukkan tubuhnya dan mengunci Ai dari atas. Ai langsung menggeleng kencang. Ia mulai menendang-nendang tubuh Kei; air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kedua tangannya terus ia tarik hingga pergelangan tangannya terluka, tetapi tetap saja gagal. Ia terus mencoba untuk menendang Kei, tetapi tangan Kei yang kuat dan kekar itu dengan sigap mencengkeram kedua kakinya agar tetap diam. Ini gawat. Dia harus berteriak dan meminta tolong. Akan tetapi, sebelum sempat meneriakkan apa pun, tiba-tiba Ai merasa ada sesuatu yang lembut dan basah menempel di bibirnya. Kedua mata Ai kembali membulat sempurna. Kei—Kei mencium bibirnya! []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD