9. Kei Arashi (5)

1447 Words
Chapter 9 : Kei Arashi (5) ****** “KUMOHON, Kei… Kumohon lepaskan aku. Aku minta maaf…” Ai sampai-sampai meminta maaf, berpikir bahwa mungkin saja Kei melakukan semua ini karena Ai sering bertengkar dengannya tempo hari. “Kei, tolong lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan bertengkar denganmu—” Mata Ai memelotot tatkala mendadak Kei membuka seluruh kancing piamanya, lalu membuka piama itu ke dua sisi dalam sekali sentakan. Ai terperanjat; ia langsung memperhatikan tubuhnya sendiri yang kini sudah hampir bertelanjang d**a di bawah Kei. Wajah Ai langsung menegang, ia panik bukan main. “KEI!!!!” Namun, saat ia melihat wajah Kei, ia menemukan kedua mata Kei yang menggelap. Kedua mata pria itu rupanya telah mengunci Ai sejak tadi. Ai langsung bergidik tatkala tatapan matanya berserobok dengan tatapan mata Kei. Dalam sekejap, tatapan mata pria itu langsung mampu memenjarakan Ai. Ia merasa seperti seekor kelinci yang terjebak di bawah kungkungan singa yang sedang menerkamnya. Tubuhnya bergetar. Di bawah cahaya bulan yang remang-remang, mata Kei yang semerah darah itu menatapnya bagai predator. Pria itu menatap wajah Ai, lalu turun…dan turun lagi…hingga ke perut Ai. Setelah itu, tatapannya naik lagi dan berhenti di kedua p******a Ai. Malam itu Ai mengenakan bra berwarna merah muda. Bra itu membungkus payudaranya yang bulat. Bulat sempurna; cantik dan sintal. Tubuh Ai itu padat dan berisi, tetapi pinggangnya ramping. Kulitnya putih, dagingnya tampak sangat kenyal, …terutama di bagian payudaranya. Indah. Dengan cepat Kei langsung meremas p******a Ai itu dan ia merundukkan tubuhnya agar bisa mencium bibir Ai. Kembali dilumatnya bibir Ai itu dengan kasar; tangannya juga ikut meremas p******a Ai dengan penuh semangat. Payudara itu ternyata pas sekali di tangannya. Bulat, padat, dan ukurannya pas. Meskipun padat, tatkala diremas, p******a itu terasa begitu lembut dan kenyal. Kei kontan menjauhkan wajahnya—melepaskan ciumannya—lalu mengumpat, “Sial, Ai!!” Tidak menghiraukan Ai yang terus menangis, Kei lantas menaikkan bra yang Ai kenakan, mendorongnya ke atas dalam waktu sekejap mata. Membuat kedua p******a Ai terlepas begitu saja dari dalam bra-nya dan bergoyang dengan sensual. Ai kembali berteriak kencang. Seakan telah dikuasai oleh nafsu, Kei langsung mengisap p****g p******a Ai yang sebelah kanan dengan kuat. Menariknya, menggigitnya, lalu sesekali lidahnya memutari p****g Ai. Tak tanggung-tanggung, Kei menggunakan sebelah tangannya lagi untuk meremas p******a Ai yang sebelah kiri. “Ah!! K—Kei! Henti—ahh!!! Hng—h!! Ah!! To—long—hngh!! Tolong hentikan!!! KEI!!” teriak Ai, tubuhnya menggeliat tak keruan di bawah Kei. Gadis itu mencoba untuk melepaskan diri meskipun tubuhnya telah terimpit dengan kuat di bawah tubuh Kei. Kei kini benar-benar telah menimpa tubuhnya dan itu membuat ruang gerak Ai jadi semakin hilang. Pergerakannya terbatas; ia terkunci sepenuhnya. Ai terus menangis, memohon seraya berteriak, hingga kemudian Kei melepaskan dirinya. Ai sedikit berhenti menangis; ia kira pria itu telah mengabulkan permintaannya untuk menghentikan semua ini. Sekarang Kei tengah duduk tegak, pria itu memperhatikan Ai dengan mata yang berkabut. Kejantanannya terlihat berdiri tegak dan keras di balik celana seragamnya itu; ia betul-betul sudah hilang akal. Tiba-tiba Kei membuka ikatan kaki Ai yang ada di belakang tubuhnya. Ai mulai bernapas dengan lega dan berhenti menangis. Ia kira ia benar-benar akan dilepaskan. Akan tetapi, setelah ikatan di kakinya itu terlepas dan kakinya terjatuh di ranjang, semua harapannya langsung sirna. …karena Kei justru menarik celananya. Kontan mata Ai terbelalak. Dengan satu gerakan yang secepat kilat, celana piama Ai beserta celana dalamnya sudah terlempar ke lantai. Ternyata Kei melepaskan ikatan itu bukan karena ingin menyudahi kegiatan ini, tetapi karena ingin melepaskan celana Ai. Pria itu justru ingin melanjutkan kegiatannya. “TIDAK!!!” teriak Ai. Tangisannya yang tadi sempat berhenti itu kini jadi semakin kencang. “TIDAK, KEI!! HENTIKAN!! KUMOHON HENTIKAN!!! TOLONG HENTIKAN!!!!” Ai terus menendang tubuh Kei sekencang mungkin, seolah-olah sedang mempertaruhkan nyawanya, dan ia terus menangis dengan kencang. Ia putus asa. Namun, Kei berhasil menangkap kedua kaki Ai dengan mudah dan langsung kembali mengikat kedua kaki gadis itu di belakang tubuhnya. “Kei—tolong dengar aku…” Ai menggeleng; ia sedikit bangkit—hingga separuh duduk—dan ia memohon di depan Kei, “Tolong sudahi ini, hm? Kau adalah seorang polisi dan—” “Aku tidak akan menyudahi ini, Ai,” potong Kei dingin. Nadanya terdengar begitu tajam. Ia menatap Ai dengan penuh penekanan. “Hanya ini yang bisa membuatmu mengerti. Setelah ini, hubungan antara kau dan aku pasti akan berbeda.” Kei mulai membuka ikat pinggangnya dengan satu sentakan yang mudah. Ia langsung menyingkirkan ikat pinggang itu dan mulai membuka kancing beserta ritsleting celananya. Setelah itu, Kei sedikit menurunkan celana dalamnya dan membebaskan kejantanannya dari sana. Begitu terbebas, kejantanan itu langsung terlihat berdiri tegak, menegang sempurna. Kejantanan milik Kei tampak telah terangsang sepenuhnya; kejantanan itu terlihat begitu besar dan berurat. Mata Ai kontan memelotot. “KEI—” Belum sempat Ai menyelesaikan ucapannya, Kei langsung menyergap Ai dan mencium bibirnya dengan penuh hasrat. Penuh gairah. Rahang pria itu mengeras dan lehernya tampak berkeringat. Seraya mencium Ai, ia langsung menyentuh v****a Ai dengan jemari tangan kanannya. Membuat Ai kontan membulatkan mata lagi dan mengerang dengan kencang di dalam ciuman mereka. Tanpa ba bi bu, Kei langsung memasukkan jari tengahnya ke dalam v****a Ai. Pria itu langsung menggerakkan jemarinya dalam tempo yang cepat di dalam sana, mengocoknya, lalu menekan k******s Ai dengan kuat. Ai kontan melepaskan ciuman Kei dan berteriak kencang, “AH!!! Hnghhh!!! K—Kei—ahh!!! Hangh!!!” Mendengar desahan yang refleks keluar dari mulut Ai, Kei lantas menggeram. Pria itu menggertakkan giginya. Ia langsung mencumbu leher Ai dan menggigit leher gadis itu keras-keras hingga nyaris berdarah. Ia pun mengunci tubuh Ai dengan semakin kuat di bawahnya, lalu mengangkat b****g Ai agar mempermudah akses kejantanannya ke dalam liang sanggama Ai. Ai tersentak saat tubuh bagian bawahnya diangkat. Melihat Kei yang semakin membuka paha Ai agar benar-benar mengangkanginya, Ai langsung menganga dan menggeleng dengan kencang hingga kepalanya terantuk berkali-kali dengan kepala Kei yang masih bersarang di lehernya. Pria itu masih menciumi lehernya. “Kei—Kei, Kei!! Kei—jangan!! Kalaupun kau tak membunuhku, kita tetap akan menyesali ini!! JANGAN!! KEI!!!” Akan tetapi, tanpa peringatan apa pun, Kei lantas mengarahkan kejantanannya ke lubang senggama Ai dan mendorongnya hingga masuk ke dalam sana. Benar. Dia langsung mendorongnya. Ai kontan menjerit. Dia berteriak dengan sangat kencang. Matanya membulat sempurna. Sesuatu—sesuatu sepertinya telah robek di bawah sana! Sakit—sakit sekali!! Sangat sakit!!! Kei seakan merobek v****a-nya dengan satu dorongan yang begitu kuat. Sejak tadi Ai sadar bahwa…meskipun dia berada di dalam situasi yang membuatnya stress, meskipun dia sedang memiliki kegelisahan serta ketakutan yang tinggi, genitalnya sedikit bereaksi dan agak basah akibat sentuhan dari Kei. Namun, meskipun agak basah, bukan berarti itu akan mengurangi rasa sakit luar biasa yang ditimbulkan oleh dorongan dari kejantanan Kei. Darah mengalir keluar dari v****a Ai. Gadis itu menangis sesenggukan. Ia terus merintih kesakitan dan kini ia mulai mengutuk nasibnya sendiri. Mengapa aku harus mengalami hal seperti ini? Mengapa pria ini memerkosaku? Apa salahku, Tuhan? Apa salahku padanya? Mendengar tangisan Ai, Kei mulai berinisiatif untuk menciumi pipi gadis itu dengan lembut. Memberikan ciuman kecil pada pipinya, pelipisnya, kedua matanya yang mengeluarkan air mata, hidungnya, serta bibirnya. “Maafkan aku,” ujar Kei dengan lirih. Suaranya terdengar serak, tetapi seksi. “Kau akan segera mengerti.” Kejantanan Kei sudah ada di dalam v****a Ai sepenuhnya, terbenam seutuhnya di dalam sana. Ukurannya yang besar membuat Ai merasa sangat penuh; kejantanan itu seakan-akan menusuk sampai ke perutnya. Namun, bukan itu fokus Ai sekarang. Ai terus saja menangisi keadaannya dan mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Ia begitu terpukul. Begitu terluka. Begitu nelangsa. Ini karena ia masih tak mengerti mengapa Kei melakukan semua ini padanya. Ia justru semakin membenci Kei dari lubuk hatinya. Ia juga jijik dengan dirinya sendiri karena sudah ternoda. Setelah itu, semuanya terjadi di depan mata Ai dengan begitu cepat. Kedua mata Ai yang berlinang air mata hanya bisa memandangi seluruh kejadian saat itu seperti tayangan kaset yang sudah buram. Mulai dari tubuh perkasa Kei yang perlahan mulai bangkit dan akhirnya bergerak mendorong kejantanannya dengan penuh gairah, lalu Kei yang menciumi seluruh tubuh Ai dengan hasrat yang melambung tinggi, Kei yang meraba seluruh tubuh Ai dan meremas p******a sintalnya itu dengan sensual, sampai akhirnya Kei yang merobek seluruh pakaian Ai dan menggagahinya dengan brutal. Selama itu pula, Ai hanya bisa menangis. Gadis itu meratapi kemalangannya sendiri. Mengapa hal sekeji ini harus menimpa dirinya yang tak pernah melakukan apa-apa pada Kei? Mengapa dirinya harus dikotori seperti ini? Apakah dia pernah bersikap murahan di depan laki-laki? Mengapa pria ini tidak menghargainya sebagai seorang perempuan? Terlebih lagi… Setelah ini semua berakhir, apa yang akan terjadi padanya? Bagaimana—bagaimana jika Gin tahu? …dan…bagaimana…jika… …Eric tahu? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD