Bibirku tak bisa berhenti tersenyum lebar tatkala melihat mobil yang terparkir cantik di depan gerbang kampus. Itu adalah milik Javas. Kendaraan yang sudah lama sekali tidak pernah aku tumpangi setelah lulus SMA. Bukan karena tidak diizinkan, melainkan karena kesibukan kami sehingga tidak ada waktu untuk bepergian bersama. “Hai, Om.” Aku menyapanya dengan tersenyum lebar, setelah jendela bagian samping kemudi terbuka. “Maaf, pasti Om udah nunggu lama, yah?” “Hai, Ay.” Dia menggeleng, lalu mengajakku untuk masuk. “Mau langsung pulang atau mau ke mana?” Aku tak langsung menjawab, tetapi lebih memilih untuk masuk terlebih dahulu ke mobil BMW miliknya. Setelah duduk dan memasang seat belt, aku melihat ke arahnya. “Jalan yuk, Om!” ajakku. “Kamu udah bilang ke suamimu?” Ada kekhawatiran d

