Tarik-menarik pun terjadi. Sherly kesakitan karena Bimo begitu kasar dengannya, tapi dengan gesit Yoga langsung menghadang apa yang dilakukan mantan kekasih calon istrinya dengan tubuh gagahnya.
Besar mereka sama, bahkan Yoga bisa menjalani aktivitas apa saja asalkan bisa menjadi lebih hero daripada Bimo. Lihat? Bahkan dengan beraninya, Yoga malah menantang Bimo dengan tatapan tajamnya.
"Lu siapa sih? Kayak jailangkung, datang-datang nyambar milik orang!" hardik Bimo. Ya, baginya hubungannya dengan Sherly masih bisa diperbaiki, baginya selingkuh bukan kesalahan fatal. Mantan-mantannya dulu bahkan dengan mudahnya mengalah asal bisa kembali lagi dengan Bimo.
Mengangkat alis, menoleh ke arah Sherly yang sudah bersembunyi di balik punggung. "Kamu, pacarnya si kunyuk ini?"
Menggeleng. Sherly memasang ekspresi jijik, putus! Intinya dia harus memperelas ikatannya dengan Bimo. Bisa-bisa buaya satu itu kepedean. "Bukan, cuma mantan yang tinggal kenangan. Bim, jauh-jauh sana! Kita udah gak ada urusan. Paham?"
Tentu saja Bimo bersikukuh dengan pemikirannya. Apa yang salah? "Gak bisa, Sher. Kamu dulu bilang kan sayang sama aku? Kita janji nikah kalau udah sama-sama punya tabungan untuk nikah dan beli rumah. Aku sedang berjuang untuk itu."
"Ya tapi masalahnya hati dan mata lu tuh ke mana-mana. Dan gue, gak bisa ngasih toleransi sama pria yang gak bisa dipegang janjinya."
Mampus! Harus diakui, Bimo memang tahu perbuatannya salah. Tapi dia terlalu bosan karena kehidupan Sherly begitu lurus, perempuan itu susah diajak enak-enak. Bahkan, banyak teman seper-nongkrongannya yang menganggap Sherly sangat kolot.
"Kita pergi dari sini." tegas Yoga. Menarik lagi tangan Sherly dan membukakan pintu mobil, lebih baik Sherly tidak melihat adu mulut antara Yoga dan Bimo.
Toh, Yoga tak masalah semisal Bimo akan mengajaknya perang. Dia bukan anak kecil lagi.
"Kamu gak bakalan apa-apain dia kan?"
"Gak janji. Dan satu hal, seseorang yang berkhianat itu gak pantas dimaafin, Sher. Sesayang apa pun kamu sama orang itu."
Yoga menutup pintu, meninggalkan Sherly yang mungkin saja sekarang ketar-ketir. Sherly menganggap si brondong itu akan kalah, karena bibi Anggi bilang Yoga sama sekali tak pernah membuat gara-gara dengan siapapun.
"Lu ngapain bawa cewek gue sama lu? Siapa sih lu?"
Tersenyum miring, Yoga mengamati wajah Bimo. Rahang kokoh, alis tebal, tapi tetap saja dunia akan setuju kalau di antara mereka Yoga menang banyak.
"Harusnya yang tanya itu gue, siapa lu dan mau apa ke sini nemuin Sherly? Gak lihat, dia ketakutan lu ada di dekatnya?"
"Bacot!"
Tanpa pikir panjang Bimo langsung menonjok wajah Yoga tetapi gerakannya terlalu mudah terbaca dan Yoga pun bisa menangkis tangan Bimo dengan telapak tangannya.
"Ups! Kurang cepat, Bung. Kayaknya lu harus belajar bela diri deh, gue buka kelas kalau mau gabung."
"Sialan!" jelas dong Bima tidak mau mengalah. Ia Pun mendorong tubuh Yoga dan membuat pria itu tersungkur ke tanah.
Yoga kembali bangkit mencengkram kerah baju Bimo dan menamparnya, tangannya terlalu sia-sia untuk menonjok wajah pria yang menyebalkan baginya sekarang.
Mereka pun saling memukul satu sama lain sudut bibir Yoga sedikit terkena pukulan Bimo, tetapi Bimo lebih payah kelihatannya dan bisa jadi sekarang punggung pria itu kesakitan karena Yoga tokcer menendangnya.
Karena kalah, akhirnya Bimo pergi dan membiarkan Sherly kali ini. Tapi dia janji akan datang lagi, jelas tak terima karena mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari pria yang entah datang dari mana.
Setelah kepergian Bimo, Sherly langsung keluar dari mobil dan memapah tubuh Yoga. "kamu itu ya! Kan udah aku ingetin, jangan ribut! Kan gini jadinya."
Tidak merasa diomeli, bahkan Yoga suka dengan sikap cemas dari Sherly. Mungkin karena tidak pernah dekat dengan perempuan, perhatian semacam itu terasa spesial untuknya.
"Aku gak apa-apa. Kita pulang ya?"
"Gak, kita harus ke apotik dulu. Luka kamu harus diobatin."
Sherly baru ingat kalau di sekolahnya ada kotak P3K. Akhirnya ia tak jadi ke apotik dan mengajak pria itu ke ruangannya.
"Tunggu di sini, aku ambilkan cutton bad dan obat merah."
Mata Yoga memindai setiap ruangan. Menilai tempat mengajar Sherly, terlihat sekali suasana yang hangat dan menyenangkan. Meskipun Sherly itu agak bawel, Yoga tahu kalau calon istrinya punya sifat keibuan. Itulah mengapa ia yakin untuk menerima perjodohan, yakin suatu saat nanti Sherly akan jadi ibu dari anak-anaknya kelak.
"Kenapa senyum-senyum sih?" Sherly menaruh kotak P3K di tangan Yoga. Ia merasa sungkan membantu pria itu, dan tentu saja merasa bersalah.
"Aku bayangin kamu jadi ibu."
"Ha?"
"Eh--maksudnya bayangin kamu jadi ibu guru," ralat Yoga. Dengan segera ia pun membuka kotak P3K dan mulai mengobati sendiri luka di sudut bibirnya.
Karena terlihat kesulitan, akhirnya Sherly langsung mencabut katenbad di tangan Yoga dan mulai mengolesi bagian yang terluka. "gini aja nggak bisa, padahal berantem jago banget!
"Ya ini namanya saling membutuhkan, Sher. Hitung-hitung aku lagi mempersilakan kamu nunjukin sikap kemanusiaan kamu."
"Iya deh, maaf ya. Lagian, kenapa tiba-tiba kamu ada di sini?"
"Kangen."
Hampir saja Sherly kehilangan bola matanya karena terlalu melotot terlalu lama. Modus banget sih si brondong.
"Maksudnya kangen ke Sleman. Di gunungkidul kan gak selengkap gitu kalau nyari kebutuhan, hitung-hitung jalan-jalan aja sih."
Setelah selesai, Sherly dan Yoga hanya terdiam. Perempuan itu menghela napas panjang, kesal karena membuat pria tak berdosa di depannya terluka.
"Harusnya, kamu tadi gak ikut campur Yoga. Ini masalahku, terlepas dari perjodohan kita, kita ini hanya kenalan lama."
"Aku gak masalah masuk di semua urusan tentang kamu. So, maksudnya, kamu mau kena pukul si kunyuk tadi kalau aku gak belain kamu, begitu?"
"Bimo gak mungkin mukul aku. Dia cuma gak terima aku putusin aja."
Hadeh, Yoga tahu kalau Sherly pasti masih sedikit menyukai si kunyuk. Masalahnya, bodoh jika Sherly memaafkan pria yang sudah jelas-jelas tak jujur dalam hubungannya. Apalagi selingkuh adalah jawaban utama kenapa Yoga tak terima calon istrinya diperlakukan seburuk itu.
"Oke. Wajar kamu bela dia karena mungkin masih sayang, dan juga selingkuh memang bisa hilang dengan sendirinya kalau pelakunya sadar akan perbuatannya. Nah, apakah si Bimoli mantan pacar kamu begitu? Hm? Cantik iya, bego jangan, ladies?"
Dikatakan bego, Sherly langsung cemberut. Cukup Hana saja yang memberi label menyebalkan itu padanya, Yoga gak usah ikut-ikutan.
Ya, Hana memang sering mengolok-ngolok Sherly karena terlalu percaya jani-janji biaya contohnya si Bimo.
"Tahu gak, aku nyesel tadi," pancing Yoga.
"Nyesel karena udah mukul dia?"
"Bukan, kalau itu malah aku nggak nyesal sama sekali."
"Lalu?" tagihnya.
"Nyesel karena gak ngejelasin ke si Bimoli kalau aku ini calon suami kamu."
Cemberut lagi. Sebelum Sherly tambah kesal, Yoga sudah buru-buru bangkit dan berjalan keluar.