PDKT Aja Dulu

1402 Words
Sementara itu, di tempat lain, lebih tepatnya di ruang Dekan, empat sahabat yang berprofesi sebagai dosen sekaligus dokter sedang berkumpul. Ruangan itu milik Pradhika Abhimanyu, tapi sudah seperti basecamp mereka berempat. Gavin duduk santai sambil memainkan ponselnya, di depannya ada Reno yang sedang asik games, Dimas yang fokus pada laptopnya, dan Dhika yang duduk di kursi dekan dengan posisi paling berwibawa menatap Gavin. "Lu beneran suka sama Forza, ya, Vin?" tanya Dhika tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya menatap Gavin dengan tatapan menyelidik, khas seorang dekan. Gavin menghela napas panjang, "Bosen jawabnya Dhik, itu mulu yang ditanya." "Menurut lu Dhik, si Gavin sampai minta bantuan lu, biar semester ini bisa masuk ke kelas Forza, karena apa kalau bukan karena beneran suka?" kata Reno menimpali sambil tertawa jahil, "Dia tuh sampai rela tukeran jadwal sama Bu Arum. Bu Arum yang killer aja bisa dia rayu." Dhika ikut tertawa kecil. "Gue nggak habis pikir aja Ren. Seorang Gavin Mahendra, dokter bedah saraf paling digilai se-RS ABDI, suka cewek tapi belum berani nembak. Biasanya nggak usah nembak juga, cewek-cewek pada ngejar dia, antriannya bisa dari lobby sampai IGD. Tapi kali ini, dewa cinta belum juga berpihak." Gavin mendengus pelan, tapi senyumnya tidak bisa ia sembunyikan. Wajah Forza yang dingin itu, kembali terlintas di benaknya. "Gue bukan nggak berani." jelas Gavin, suaranya sedikit lebih serius, "Tapi mau cari waktu yang lebih pas aja, dia tuh beda, di saat yang lain berlomba-lomba ingin dekat sama gue, cari perhatian, dia malah cuek banget, sikapnya terlalu dingin dan datar. Tapi, justru itu yang bikin gue makin penasaran, makin suka, gue pengen tahu, di balik sikap dinginnya itu." Dimas yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara sambil menutup laptopnya. "Tadi gue papasan sama dia di lorong, kayaknya mau ke Cafe Kampus deh sama gengnya, kita susul aja gimana? Sudah lama juga nggak nongkrong di cafe mahasiswa." Mata Gavin langsung berbinar, "Boleh, gue juga lapar, kalian berdua ikut nggak?" tanya Gavin pada Reno dan Dhika. Dhika mengangkat alis. "Tumbenan, lo mau makan di cafe mahasiswa? Biasanya lo paling anti makan di sana, katanya terlalu berisik." "Ya sekali-kali nggak apa-apa lah. Itung-itung nostalgia jadi mahasiswa." jawab Gavin cepat, mencari alasan. Padahal alasan sebenarnya sudah jelas terpampang di wajahnya. Reno tertawa. "Nostalgia atau modus, Vin? Ngaku aja." "Udahlah, berangkat aja, keburu dia pulang," potong Gavin, sudah berdiri duluan. Akhirnya, Gavin, Dhika, Reno, dan Dimas pun berjalan beriringan, menuju Cafe Kampus yang memang menjadi favorit Forza dan sahabatnya. Padahal ada pantry yang memang khusus untuk dosen dan karyawan dengan menu yang jauh lebih premium dan tempat yang lebih tenang. Tapi Gavin, sengaja mendatangi cafe mahasiswa, demi bisa lebih dekat dengan gadisnya, Gavin rela modus dan membuang gengsinya sebagai dosen most wanted. Di sisi lain, tepatnya di kantin, Forza, Nadia dan Abell duduk di meja dekat jendela yang menghadap langsung ke taman kampus yang rindang. Mereka asyik bersenda gurau sambil makan siang, Abell sedang bercerita dengan heboh, tentang dosen killer yang salah memberikan nilai, membuat semuanya tertawa. Tiba-tiba saja seisi kantin yang tadinya ramai dengan obrolan biasa menjadi heboh, riuh rendah, karena dari kejauhan, terlihat empat sosok tinggi tegap dengan kemeja rapi sedang berjalan ke arah kantin, empat dosen most wanted. "Eh, lihat tuh! Rombongan dosen tampan menuju cafe! Tumbenan mereka ke sini, biasanya kan di pantry dosen." "Gila, gantengnya benar-benar kebangetan, apalagi Pak Gavin sama Pak Dhika. Lesung pipinya Pak Dhika itu loh, bikin meleleh, kalau bisa jadi istrinya, pasti bahagia banget seumur hidup." "Pak Reno juga nggak kalah, badannya kekar banget. Pak Dimas paling kalem, tipe suami idaman." Dan masih banyak lagi histeria mahasiswi lainnya di cafe, hanya karena kedatangan empat dosen tampan itu. Sudah bukan rahasia umum lagi, jika pesona empat sahabat itu tidak bisa diragukan, setiap kaum hawa yang melihatnya, pasti akan jatuh hati, akan menjerit histeris. Kecuali Forza. Ya, hanya dia yang berbeda dari yang lainnya, ia tetap fokus pada es teh dan ayam geprek di depannya. "Dengar tuh, Za. Cuma lo doang yang santuy di sini, boro-boro ikut teriak histeris, ngelirik aja enggak lo," cibir Abell sambil menyikut lengan Forza dengan gemas. "Apaan sih lo, Bel? Gue bukan fans garis keras, kayak lo yang kalau lihat cowok ganteng, langsung kesurupan." sewot Forza, tetap tanpa ekspresi. "Sudah, nggak usah berantem, kita ke sini buat makan, bukan buat ngomongin dosen." kata Nadia menengahi, berusaha meredam perang kecil di antara mereka, mereka pun melanjutkan makan, sambil diselingi senda gurau. Rombongan Gavin memasuki cafe, langkah mereka yang berwibawa membuat para mahasiswi otomatis memberikan jalan. Mereka duduk di meja pojok, tak jauh dari meja Forza dan teman-temannya, posisi yang sangat strategis, dari sana Gavin bisa melihat Forza dengan jelas. Baru kali ini, Gavin melihat Forza tertawa lepas bersama teman-temannya, biasanya di kelas, wajahnya selalu datar dan dingin. Tapi sekarang, tawanya renyah, matanya sampai menyipit, Gavin benar-benar makin memuja gadisnya itu. "Mereka ngomongin apaan sih sampai Forza ketawa gitu? Tumbenan tuh anak, biasanya tanpa ekspresi sama sekali mukanya, mirip kayak patung es." tanya Dimas, heran. Gavin diam saja dan terus menatap Forza, tidak berkedip tatapannya lembut, penuh kekaguman. "Eh, itu cowok siapa? datang langsung duduk di samping Forza? kayaknya suka sama Forza, ya? Lihat tuh cara dia lihat Forza," kata Reno tiba-tiba, menunjuk laki - laki yang baru datang, dia Alfa, Gavin mengenalnya. Membuat ketiga sahabatnya ikut melihat cowok yang Reno tunjuk. Alfamemang terlihat jelas, menatap Forza dengan tatapan kagum, bahkan rela membukakan botol minum untuk Forza. "Samperin gih, sebelum nyesel lo, saingan lo banyak, Vin," lanjut Reno, memanas-manasi. "Ya kali, gue ke sana sekarang, ogah ah. Gue baru ada interaksi sama dia pagi tadi di kelas, masa mau langsung deket lagi? Mau taruh di mana muka gue? Nanti dikira gue dosen genit," jawab Gavin, meski dalam hatinya ia sangat ingin melakukannya. "Cemen lo!" kata Reno lagi, tertawa. "Kalau terlalu gercep gue khawatir dia malah menjauh, jadi santai saja. Semua ada waktunya, perlahan tapi pasti, gue yakin bakal milikin dia. Sekarang PDKT aja dulu, bangun chemistry, nggak bisa buru-buru kalau sama Forza." jawab Gavin dengan sangat yakin dan percaya diri, ia sudah menyusun strategi. "Yakin banget, Vin. Kalau gue lihat tuh cewek nggak ada tertariknya sama kita-kita, apalagi sama lo. Terlalu cuek, temboknya tinggi banget," kata Dimas. "Itu yang buat gue makin penasaran, karena dia lain dari yang lainnya dan gue suka tantangan," jawab Gavin, sambil menyunggingkan senyumnya yang mematikan. Tatapan matanya, masih terus tertuju pada gadisnya. "Hari ini piket apa, Vin?" tanya Dhika, mengalihkan topik. "Malam. Pasien numpuk banget, gue lihat di grup WA. Kayaknya bakal begadang lagi di RS," jawab Gavin. Dhika mengangguk. "Gue siang lagi. Lumayan, bisa pulang agak cepat." "Kalau dilihat-lihat, Abell dan Nadia lumayan juga, ya, cantik-cantik," ujar Reno tiba - tiba, matanya terus saja menatap meja di depan sana, mulai melancarkan modus buayanya. "Nggak usah deketin, kalau cuma penasaran terus buat main-main. Mereka sahabat Forza, gue nggak mau ya Forza jadi ilfeel sama gue, gara-gara kelakuan lo, Ren." protes Gavin langsung tegas, bisa bahaya, kalau si buaya darat ini sampai mempermainkan sahabat gadisnya. "Santai aja kali, gue juga tahu kok, masa mau main-main sama mahasiswi sendiri. Gue kan tahu kode etik," jawab Reno sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. Sementara di meja Forza, mereka masih asyik bercerita, tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi bahan pengamatan intens dari meja pojok. "Eh, Za, lo merasa nggak sih, para dosen tampan itu ngeliatin kita terus? Dari tadi loh," bisik Abell, yang insting gosipnya lebih tajam dari anjing pelacak Polri. "Nggak tuh! perasaan lo aja kali yang ke GR-an," jawab Forza tanpa menoleh sedikit pun. "Nggak peka banget lo jadi cewek, ada yang perhatiin juga, masih aja nggak sadar. Itu Pak Gavin, dari tadi lihatin lo tau!" sewot Abell, gemas dengan ketidakpekaan sahabatnya. Sejujurnya, Forza juga merasakan hal yang sama, tengkuknya merinding karena merasa diperhatikan. Tapi ia tepis jauh-jauh, ia tak mau terlalu percaya diri dan ke GR-an. "Males gue, bahas itu mulu dari tadi, gue duluan, ya." pamit Forza langsung berdiri dan melangkah pergi, ingin mengakhiri topik yang membuatnya salah tingkah itu. "Ke mana, Za?" teriak Alfa. "Toilet!" teriak Forza yang sudah semakin menjauh dari meja sahabatnya, tanpa rasa malu sedikit pun, membuat Gavin dan kawan-kawan yang mendengarnya menggelengkan kepala, sambil tertawa kecil. "Lihat tuh, ngomong toilet sesantai itu. Nggak ada jaim-jaimnya sama sekali, beda dari cewek lain," Reno nyengir kagum. Gavin hanya tersenyum, senyum yang tulus dan terus memandangi gadisnya yang kian menjauh dan tak terlihat lagi di balik keramaian cafe kampus. Di dalam hatinya, ia bertekad, gadis cuek itu akan segera menjadi miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD