Zahra melajukan mobilnya tak tentu arah, perasaannya benar-benar tak menentu saat ini setelah pertemuannya dengan ayah Davie. Dia bingung apa yang harus dilakukan sekarang. Menuruti kemauan laki-laki itu atau mengakhiri segalanya. Wanita itu menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh, seolah berusaha meluapkan emosinya yang terasa menyesakkan. Kejadian demi kejadian yang dia alami belakangan ini benar-benar menguras hati dan jiwanya. Beberapa saat kemudian terdengar suara decitan ban menggema, karena wanita itu menekan rem mobilnya mendadak. Napasnya terengah, sementara bulir panas kini terasa membasahi pipi. "Apa kita memang seharusnya menyerah? Kenapa mempertahankan mu terasa sulit," gumam Zahra sambil menelungkupkan kepalanya ke setir. Ketika Zahra tengah asyik menangis, seseo

