Episode 3-Agenda Fitting Pakaian Pengantin

1274 Words
Si CEO Duda yang selalu berusaha untuk menolak pernikahan itu, pada akhirnya tak lagi banyak protes dan memilih menerima rencana tersebut. Dan tentu saja, kenyataan itu membuat Jihan merasa sangat senang. Namun di waktu yang bersamaan, Jihan juga dibuat sangat kesal, lantaran Samuel masih saja bersikap acuh pada dirinya. Bahkan di acara fitting pakaian pengantin saat ini pun, Samuel benar-benar enggan untuk menunjukkan sedikit sandiwara agar terlihat layaknya seorang calon suami idaman. Jihan yang sempat berpikir jika Samuel akan langsung terpesona pada penampilannya dengan gaun pengantin cantik, kini malah kerap menghela napas dalam-dalam. Realitanya, memang tak semanis adegan dalam drama romantis, di mana pihak pria akan sampai melebarkan mata sekaligus rahang ketika mendapati sang wanita tampak anggun dengan balutan dress putih. Sampai di sesi gaun terakhir yang harus Jihan kenakan, ekspresi di wajah Samuel tetap konsisten datar. "Ck." Jihan mendecapkan lidah. "Pak Duda! Kasih penilaian dong! Masa' diam saja sejak tadi, saya kan malu menjadi calon istri yang begitu diabaikan calon suami! Beberapa pegawai tadi sampai menggibahi kita lho, Pak!" lanjutnya berkata dan masih di tempat yang sama, di tempat di mana ia berdiri untuk menunjukkan penampilan cantiknya. Samuel menghela napas. "Bagaimana aku bisa memberikan penilaian jika apa pun yang kamu kenakan, benar-benar tidak indah di mataku, Jihan? Bagiku kamu masih tetap seorang anak ingusan," sahutnya begitu dingin. Ucapan pedas Samuel membuat Jihan reflek mengepalkan tangan yang kemudian ia arahkan pada pria itu. Di mana selanjutnya, ia memikirkan sebuah cara untuk membuat datarnya wajah Samuel menjadi lebih memiliki banyak jenis ekspresi. Sembari menyeringai, Jihan menarik salah satu lengan gaun yang ia kenakan dan ia turunkan sampai lengannya dan lurus dengan bagian dadanya. Melihat aksi Jihan yang kelewat berani, mata Samuel sampai melebar. Dengan cepat, ia memalingkan wajahnya sembari mendengkus kesal. "Apa kamu sudah gila, Jihan?! Bergantilah pakaian di tempat yang semestinya!" "Pft ...." Jihan sungguh ingin tertawa lebar, sayangnya ia merasa harus menunda terlebih dahulu tawanya itu. "Kata Anda, saya ini adalah bocah ingusan, 'kan? Kenapa Pak CEO Duda malah menjadi malu-malu ucing begitu? Kan saya hanya bocah, enggak masalah kali, Pak! Lagian saya kan memakai pakaian dalam!" "Sial!" Samuel memejamkan matanya. "Dia mencoba mempermainkanku, ya." Tanpa pikir panjang lagi, Samuel langsung bangkit dari posisi duduknya yang sejak tadi telah ia lakukan di sebuah sofa. Ia berjalan menjauh sembari memunggungi calon istrinya tersebut. Jihan tidak hanya sekadar masih cukup muda, tetapi karakter Jihan nyatanya juga masih kekanak-kanakan. Sungguh berbeda dengan Indira yang begitu lembut dan memahami cara bersikap. Sialnya, mengapa dari sosok Indira yang begitu elegan, kini Samuel harus mendapatkan pasangan yang sangat kekanak-kanakan? "Ck, pantas saja jika anak itu sampai diremehkan oleh semua anggota keluarganya seperti yang Kakek katakan padaku. Pada kenyataannya, dia memang sama sekali enggak dewasa sekaligus kompeten," gumam Samuel. Jihan terkekeh pelan. Hasil dari upayanya untuk sedikit menggoda Samuel cukup membuat kekesalan di hatinya berangsur hilang. Namun bukan Jihan namanya, jika hanya melakukan satu keusilan saja. Ia pun segera mencopot sepasang sepatu pantofelnya dan berjalan sangat pelan untuk menghampiri Samuel yang tengah berdiri memunggunginya di belakang sofa. "Pak CEO! Waaa! Hahaha!" celetuk Jihan sangat keras, hingga membuat Samuel berjingkat kaget. Ekspresi terkejut dan bagaimana pria itu sampai mengelus d**a, begitu membuat Jihan kegirangan. "Takut ya kalau saya sampai buka baju? Hahaha!" "Anak kurang ajar!" omel Samuel. "Mau bagaimanapun aku ini masih atasan tertinggimu, Jihan! Apa kamu mau aku pecat saat ini juga, sekaligus juga aku pecat kamu sebagai calon istriku, hah?!" "Oops!" Jihan langsung menutup mulutnya. "Jangan begitu dong, Pak. Pak CEO Duda kan sudah setuju menikah, iya, 'kan? Nanti Kakek bakal kecewa lagi kalau Bapak membatalkan rencana Anda untuk tetap menikahi saya." Samuel mengembuskan napasnya secara kasar. "Otak kerdilmu itu bisanya hanya memikirkan dan memanfaatkan posisi Kakek saja! Alah, sudahlah. Cukup sampai di sini acara ini. Aku terlalu sibuk jika hanya untuk mengurusi bocah ingusan sepertimu, Jihan!" Dengan cepat, Samuel berbalik badan. Ia mulai mengambil langkah demi merealisasikan rencananya untuk pergi dari tempat fitting pakaian pengantin tersebut. Dan ia sungguh tidak peduli tentang Jihan. "Aaa! Pak CEO Duda tunggu dong! Saya kan enggak membawa mobil ke sini!" Sayangnya, Jihan malah masih saja bersuara keras dan meminta Samuel untuk tetap menunggu. "Itu bukan urusanku!" sahut Samuel semakin kesal "Iiih! Akan saya laporkan pada Kakek!" "Sial ...." Samuel menggertakkan gigi sekaligus mengepalkan kedua telapak tangannya. Detik berikutnya, ia memutar badannya dan kembali menatap Jihan. Detik itu juga, Jihan mulai melebarkan senyumannya hingga barisan giginya kelihatan, tentunya termasuk satu gigi gingsul di bagian kanan. Sebuah senyuman super manis milik si Bocah Ingusan yang membuat mata Samuel reflek mengerjap-ngerjap. "A-apa yang kamu lakukan? Pergi berganti pakaian sana, atau aku tinggal sekarang juga!" ancam Samuel yang juga tengah mengabaikan sekelebat perasaan terkesima yang hampir menyusup ke dalam sanubarinya. "Hihi, iya, Pak. Sebentar ya!" sahut Jihan kemudian berangsur berjalan ke tempat ganti pakaian. Sialnya, Jihan sempat meminta dua staff yang sempat membantunya lantaran ia ingin berbicara dengan Samuel, tetapi sekarang ia merasa kesulitan sendiri. Meski begitu, ia merasa enggan meminta bantuan Samuel untuk memanggil kedua pegawai itu, karena pastinya Samuel akan semakin murka padanya. Sejujurnya, Jihan merasa lelah. Namun ia masih enggan untuk menyerah. Karena menurutnya, akan lebih baik jika ia tinggal bersama Samuel yang hanya sekadar menganggapnya sebagai bocah ingusan, tanpa sekalipun menghina dirinya terlalu berlebihan layaknya semua anggota keluarganya. "Aku harus bertahan! Fighting, Jihan!" ucap Jihan untuk menyemangati dirinya sendiri. Beberapa menit kemudian, Jihan yang sudah berganti pakaian dan memutuskan untuk mengambil beberapa pilihan gaun pengantin, sudah berada di dalam mobil bersama Samuel. Bahkan pria itu telah melajukan kendaraan pribadinya itu untuk meninggalkan tempat bernama Selina Bridal tersebut. Suasana di antara mereka tentu saja sangat dingin. Samuel yang tetap diam, dan Jihan yang sibuk menggigiti bibirnya sembari memikirkan bagaimana cara menaklukkan hati calon suami balok es-nya. "Ah, Pak CEO Duda, kenapa Anda sangat membenci saya sih?! Memangnya salah saya ini apa, coba? Lalu, bukankah kita juga sering bertemu di waktu saya masih kecil? Kakek kan sering membawa Pak CEO Duda untuk melihat lukisan-lukisan ayah saya. Tapi kenapa sekarang Bapak menjadi begini?" celetuk Jihan. Samuel melirik sekilas wajah cantik calon istrinya itu. "Aku tidak membencimu. Aku hanya benci mengapa aku harus menikah dengan bocil sepertimu," sahutnya. "Saya sudah hampir dua puluh empat tahun, Pak! Wanita yang menikah di usia tujuh belas tahun pun ada. Bocil dari mananya, coba? Apa karena saya masih awet muda, imut-imut layaknya bocah SMP?" "Jarak usia kita sangat jauh." "Hmm. Kalau begitu, sebelum kita dijodohkan, kenapa Pak CEO enggak menjadi wanita seusia saja? Dengan begitu, Kakek pasti enggak akan memaksa Bapak untuk menikahi saya." Samuel terdiam, selebihnya menelan saliva. Jihan menggigit bibir bagian bawahnya lagi. "Apa Pak CEO belum bisa melupakan mendiang istri Bapak?" Pertanyaan sensitif tersebut kembali tak Samuel jawab. Ia terus diam setelah sempat melirik Jihan dengan tatapan mata yang lebih tajam, demi bisa membungkam mulut banyak bicara calon istrinya itu. Ia hanya tidak bisa memberikan jawaban iya yang pastinya akan membuat Jihan kerap kepikiran, bahkan setelah nantinya pernikahan berhasil dilaksanakan. Kendati sangat membenci keadaan ini, nyatanya hati Semuel masih menyisakan rasa tidak tega terhadap Jihan. Meskipun nantinya ia tidak bisa bersikap layaknya suami idaman, setidaknya masa depan Jihan juga masih harus Samuel perhatikan juga, bukan? Ternyata memang benar ya? Meski sudah tiga tahun berlalu, Pak CEO belum bisa move on. Mau bagaimana lagi, kecelakaan yang sudah menjadi rahasia umum itu, tak hanya menghilangkan nyawa istrinya saja, melainkan juga kedua orang tuanya. Luka yang Pak CEO derita pasti tak main-main. Hmm, apa nantinya aku bisa bertahan di pernikahan yang sama sekali tidak ada sedikit pun rasa cinta ini, ya? Entahlah, setidaknya aku harus berusaha dulu. Lagi pula, selain ingin kabur dari rumah Ayah, aku juga enggak ingin membuat Kakek Arman kecewa, batin Jihan lalu menghela napas panjang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD