Di sudut kamar, Shila duduk sambil menelengkan kepala di sisi jendela yang berembun. Hujan sudah mulai mereda dan menyisakan gerimis yang mengingatkan kembali tentang mimpi yang selalu ia alami setiap malamnya. Pikirannya menerawang jauh ke sana, menanyakan tentang apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Mimpi itu seolah memberikan sinyal kepada Shila. Namun, entah tentang apa.
Desiran angin menerpa wajahnya, sehingga membuat beberapa helai rambut diterpa oleh angin. Shila benar-benar tidak paham. Sudah hampir sepuluh menit duduk di sana, memikirkan sinyal tersebut.
Suara dering ponsel yang menandakan bahwa ada pesan masuk menyadarkan lamunannya.
[Shila? udah sampai mana?]
Setelah membaca isi pesan, Shila langsung menepuk keningnya. Lantas ia segera meraih kardus berisi buku dan tas yang sudah disiapkan, lalu berlari keluar dari kamarnya.
***
“Sip! Udah cantik, tinggal tunggu Shila jemput.”
Elina meraih ponsel miliknya lalu mengetikkan pesan untuk Shila di sana. Ia tidak habis pikir, mengapa Shila selalu lupa dengan hal-hal penting seperti ini?
Elina menjelajahi media sosial milik dirinya, mengisi kebosanan. Ia tersenyum saat melihat jumlah pengikutnya kian menambah saat semenjak berteman dengan Shila. Sungguh beruntung sekali ia berteman dengan Shila, pikir Elina.
Lima belas menit berlalu. Namun, Shila belum juga menjemput dirinya. Lantas, Elina menghembuskan napas.
“Elina! Dek!”
Terdengar suara teriakan yang berasal dari ruang tamu yang berada di bawah kamar Elina. Dengan gerakan cepat, Elina meraih tas, lalu keluar dari kamar.
“Noh, di luar ada Shila,” ucap Evan sambil memainkan ponsel miliknya.
“Udah tau.”
“Bentar, Dek. Kalian mau ke mana? Si Shila bawa kardus begitu?” tanya Evan yang kini sudah tidak bermain dengan ponselnya.
“Kepo, Lu!” Setelah mengatakan itu, Elina berlalu dari hadapan kakaknya. Namun, Evan mengikuti langkah adiknya sampai berada di hadapan Shila.
“Ayo, Shil!”
“Kak Evan ikut juga?” tanya Shila.
“Eh? Lu ngapain ngikutin gue, sih?!” Elina berbalik lalu langsung mendorong pelan bahu kakaknya.
“Hai, Shil. Mau ke mana emangnya?” Evan menghiraukan pertanyaan Elina.
“Panti....”
“Kepo!” Keduanya menjawab bersamaan.
“Waaa?! Gue boleh ikut, ya, Shil?!” Evan kembali menghiraukan Elina, lalu segera masuk ke dalam rumah kembali. “Tungguin, bentar!”
“Enggak apa, Lin. Makin banyak yang ikut, 'kan, seru!” Shila berusaha meyakinkan Elina agar suasana hatinya kembali membaik.
Tak lama, Evan kembali dengan membawa kantong yang berisi mainan. Wajahnya berseri, karena merasa menang dari adiknya. Kemudian, mereka langsung memasuki mobil milik Evan.
Pagi tadi hujan memang turun. Namun, tidak lama, hanya beberapa menit dan setelah hujan mereda Shila langsung bergegas menjemput Elina.
“Jadi, tujuan kita ke panti mana?” tanya Evan.
“Panti Asuhan Bina Kasih.”
“Eh? Bukannya kumpul di sekolah dulu, Shil?” tanya Elina sambil mengerutkan kening.
“Lo belum cek grup? Mereka bilang langsung ketemu di panti, takutnya hujan lagi, nanti malah batal, 'kan enggak enak.”
Elina hanya menganggukkan kepala sambil ber-oh-ria. Setelah itu tidak ada lagi obrolan diantara mereka.
Gerimis kembali turun ke bumi. Rintik demi rintik membasahi, Shila menelengkan kepala ke arah jendela mobil, ia melihat para pejalan kaki yang tadinya berjalan santai menjadi bergegas agar rintik itu tidak membasahinya, selain itu terdapat dua orang anak yang menawar-nawarkan dagangannya di tengah gerimis.
“Dek!” Shila memanggil kedua anak itu saat setelah membuka kaca mobilnya. Ia melihat dua anak itu langsung menghampiri mobil yang dinaikinya.
“Kacangnya tiga, ya.” Shila tersenyum melihat respon antusias dari dua orang anak itu. Setidaknya ia sedikit membantu dengan membeli barang dagangan mereka.
Seusai membayar, Shila menutup kembali kaca mobil. Kemudian, ia beralih pada kedua orang yang duduk di depan.
“Kalian mau, enggak?” tanya Shila.
Evan tersenyum menanggapi tawaran Shila. Rupanya, Elina pintar memilih teman. Pikir Evan.
“Boleh, deh, sini satu.” Evan meraih kacang yang diberikan oleh Shila kepadanya. “Nih, Dek,” sambung Evan kepada adiknya. Namun, Elina menolak.
“Gue enggak mau makan kacang. Nanti jerawatan, ah.”
“Eh? Masa, sih? Kok gue enggak tau, Lin?” balas Shila.
“Ya, udah, buat gue.” Setelah mengatakan itu, Evan kembali pokus pada jalanan.
***