Tagihan yang Tak Pernah Berhenti

1196 Words
Pagi itu, hujan gerimis di Kharisma sudah berhenti, meninggalkan udara dingin yang menusuk tulang. Naya terbangun dengan tubuh pegal karena tidur di kursi kayu di samping ranjang ayahnya semalaman. Ia mengucek mata, lalu langsung memeriksa Pak Haris. Ayahnya masih tertidur lelap, napasnya pelan tapi teratur berkat selang oksigen yang berdengung pelan. Wajahnya tampak lebih pucat dari kemarin, bibirnya kering dan pecah-pecah. Naya bangkit pelan, meregangkan punggung yang kaku. Jam dinding menunjukkan pukul 05:30. Masih ada waktu sebelum shift pagi di kafe. Ia keluar kamar, menuju dapur kecil. Bu Sari sudah bangun, sedang menyeduh teh jahe hangat di panci kecil. "Bu, pagi," sapa Naya pelan. Bu Sari menoleh, matanya merah karena kurang tidur. "Naya... ayah tadi malam bangun sebentar. Batuknya lebih parah. Aku kasih obat batuk, tapi dia bilang d**a sakit sekali." Naya merasa jantungnya terhenti sejenak. "Sakit sekali? Kenapa nggak bangunin Naya?" "Ibu nggak mau kamu tambah capek. Kamu baru tidur jam dua malam tadi setelah ngurus tagihan." Bu Sari menuang teh ke dua gelas. "Minum dulu. Dingin banget pagi ini." Naya duduk di bangku kayu reyot, memegang gelas hangat itu erat-erat. Uap jahe naik ke wajahnya, tapi tak bisa menghangatkan hati yang dingin. "Bu... tagihan kemarin dari RS Harmoni masih nunggu. CT scan ulang sama konsultasi onkologi. Totalnya hampir enam juta. Kalau nggak dibayar minggu ini, dokter bilang ayah nggak bisa lanjut kemoterapi bulan depan." Bu Sari menghela napas panjang. "Naya... Ibu sudah coba hubungi saudara di desa. Mereka bilang lagi susah juga. Pinjaman bank sudah maksimal. Rentenir Pak Joko... Ibu takut kalau dia datang lagi malam ini." Naya menatap teh di gelasnya, melihat riak kecil karena tangannya gemetar. "Naya tahu, Bu. Naya akan ke RS Harmoni siang ini setelah shift. Minta keringanan cicilan atau jadwal pembayaran. Mungkin dokter bisa kasih obat sementara dulu." Bu Sari memegang tangan Naya. "Kamu jangan sendirian terus, Nay. Kamu masih muda. Biar Ibu yang—" "Nggak, Bu." Naya memotong lembut. "Ini tanggung jawab Naya juga. Ayah kerja keras buat Naya dulu. Sekarang giliran Naya." Mereka diam sejenak, hanya suara batuk pelan dari kamar sebelah yang memecah keheningan. Naya bangkit, masuk ke kamar ayahnya lagi. Pak Haris sudah terbangun, duduk bersandar di bantal dengan bantuan Bu Sari yang baru masuk. "Naya... kamu belum berangkat?" suaranya lemah. "Pagi, Yah. Masih ada waktu. Ayah mau sarapan apa hari ini?" Naya duduk di pinggir ranjang, memasang senyum terbaiknya. Pak Haris menggeleng pelan. "Nggak nafsu makan. d**a ini... sesak sekali. Kayak ada batu nindih." Naya langsung panik dalam hati, tapi wajahnya tetap tenang. "Ayah istirahat dulu. Nanti Naya ke RS Harmoni ambil obat tambahan. Dokter pasti kasih yang lebih kuat." Pak Haris memandang anaknya lama. Matanya yang dulu tajam sekarang redup. "Naya... jangan bohong sama Ayah. Ayah tahu biayanya mahal. RS Harmoni itu... bukan buat orang seperti kita." Naya menelan ludah. "Ayah jangan mikir gitu. Yang penting Ayah sembuh. Uang bisa dicari. Naya masih bisa kerja lebih keras." Pak Haris tersenyum tipis, tapi batuk kecil mengikutinya. Ia tutup mulut dengan tangan, dan saat tangan itu diturunkan, ada bercak darah kecil di telapaknya. Bu Sari buru-buru ambil tisu, lap dengan hati-hati. "Naya... Ayah nggak mau jadi beban. Kalau memang waktunya—" "Jangan bilang gitu, Yah!" Naya memotong, suaranya naik sedikit. Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan. "Ayah harus kuat. Naya butuh Ayah. Bu Sari butuh Ayah. Kita keluarga. Kita lawan bareng." Pak Haris mengangguk pelan, tapi matanya penuh penyesalan. "Ayah cuma takut... kalau Ayah pergi, kamu sendirian nanggung semuanya." Naya peluk ayahnya pelan, hati-hati agar tak mengganggu selang oksigen. "Nggak akan sendirian, Yah. Ada Bu Sari. Ada Naya. Kita pasti bisa." Setelah memastikan ayahnya minum obat dan kembali tidur, Naya bergegas bersiap. Ia mandi cepat dengan air dingin, ganti seragam kafe, lalu sarapan roti kering sambil berdiri. Bu Sari memandangnya dari dapur. "Naya, bawa payung. Hujan bisa datang lagi." "Iya, Bu. Nanti siang Naya pulang sebentar kalau bisa. Kalau nggak, Bu telepon kalau ada apa-apa." Di angkot menuju Central Kharisma, Naya duduk di pojok, memandang keluar jendela. Pemandangan kota mulai ramai: gedung-gedung tinggi di kejauhan, mobil mewah melaju di jalan utama, orang-orang berjas bergegas ke kantor. Kharisma memang kota impian banyak orang—tapi bagi Naya, kota ini seperti monster yang menelan uang tanpa ampun. Di kafe Senja Kopi, hari itu lebih ramai dari biasanya. Ada pesanan katering kecil dari kantor sebelah—dua puluh gelas kopi untuk meeting pagi. Naya bekerja tanpa henti: menggiling kopi, steaming s**u, mencatat pesanan, membersihkan meja. Bu Rina sesekali meliriknya. "Naya, kamu kelihatan capek. Istirahat sebentar di belakang." "Nggak apa-apa, Bu. Naya kuat." Naya tersenyum, tapi tangannya gemetar saat menuang latte art. Jam sepuluh, saat kafe agak sepi, Naya duduk sebentar di bangku kecil belakang counter. Ia buka ponsel, cek saldo rekening lagi: Rp 820.000. Tagihan RS Harmoni harus dibayar minimal separuh dulu agar ayah bisa kontrol minggu depan. Ia buka aplikasi pinjaman online—yang sudah ia blokir karena bunga mencekik—lalu tutup lagi. Tak mungkin. Pesan dari Bu Sari masuk: "Naya, ayah minta dibawain sup ayam kalau pulang. Nafsu makannya kembali sedikit." Naya balas cepat: "Iya, Bu. Nanti Naya bawa. Ayah minum obat jangan lupa ya." Ia tarik napas dalam, lalu kembali bekerja. Siang itu, saat shift hampir selesai, Bu Rina mendekat. "Naya, besok kamu bisa ambil shift malam? Yang biasa lembur. Tambahannya lumayan." Naya langsung mengangguk. "Bisa, Bu. Terima kasih." Bu Rina mengangguk puas. "Bagus. Kamu karyawan terbaik di sini. Jangan lupa istirahat." Pulang kerja, Naya langsung ke RS Harmoni Kharisma. Rumah sakit swasta itu megah dari luar—gedung putih tinggi dengan logo biru menyala—tapi bagi Naya, setiap masuk ke lobi terasa seperti masuk ke ruang tagihan hidup. Di loket administrasi, petugas wanita berusia tiga puluhan memandangnya dengan ekspresi datar. "Tagihan Pak Haris Larasati, Mbak?" "Iya. Ini... Naya anaknya. Mau tanya cicilan atau keringanan." Petugas membuka komputer. "Total tunggakan sekarang Rp 12.800.000. Termasuk CT scan, konsultasi, dan obat kemarin. Kalau nggak lunas minggu ini, pasien nggak bisa ambil obat rawat jalan lagi. Kemoterapi bulan depan juga tertunda." Naya merasa dunia berputar. "Bisa cicil nggak, Mbak? Naya bayar separuh dulu minggu ini, sisanya bulan depan?" Petugas menggeleng. "Maaf, kebijakan baru. Harus lunas minimal 70% untuk lanjut pengobatan. Kalau nggak, pasien disarankan pindah ke RSUD." RSUD—rumah sakit umum. Antrean panjang, fasilitas terbatas, dan Pak Haris pasti takut. Ia pernah bilang, "Ayah lebih baik mati di rumah daripada antre berjam-jam di RSUD." Naya menunduk. "Naya usahakan, Mbak. Terima kasih." Keluar dari loket, Naya duduk di kursi tunggu lobi. Air mata jatuh pelan. Ia hapus cepat sebelum ada yang lihat. Ponsel bergetar—pesan dari Pak Joko. "Malam ini jam 8 ke rumah. Bawa 15 juta. Kalau nggak, besok pagi preman datang. Jangan main-main." Naya mematikan ponsel, menatap lantai marmer rumah sakit yang mengkilap. Biaya RS Harmoni mahal, hutang rentenir mengancam, ayah semakin lemah. Semuanya terasa seperti dinding yang menutup rapat. Ia bangkit, berjalan keluar rumah sakit. Hujan mulai turun lagi. Naya tak bawa payung. Ia biarkan air hujan membasahi wajahnya, bercampur air mata. "Ya Tuhan... beri Naya jalan keluar. Demi Ayah." Di kejauhan, gedung-gedung tinggi Central Kharisma berkilau di balik gerimis. Kota yang indah, tapi tak pernah peduli pada orang kecil seperti Naya. Malam itu menanti, dan ancaman semakin dekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD