3: SEKAMAR

1123 Words
Borne baru saja kembali dari apotek yang terdekat dengan hotel mereka membeli obat untuk Debby. Ia melepaskan handuk hangat yang tadi sempat ia letakkan di kening Debby. "Deb, ayo minum obat dulu." Borne membangunkannya dengan lembut. Netra Debby terbuka, Borne membantunya duduk dan memberikan dua buah tablet pada Debby. "Baju kamu basah banget Deb. Ganti dulu ya?" Borne segara membuka ranselnya, mengambil sebuah T-shirt berwarna biru tua. "Aku ga mungkin bongkar koper kamu. Dan kayanya kamu ga kuat juga bongkar koper. Jadi pakai ini dulu ya." Debby mengangguk lesu. "Aku ke kamar mandi dulu, kamu bisa ganti dengan nyaman." Borne beranjak dari tepi tempat tidur Debby, melangkah ke kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi terdengar terkunci, Debby segera mengganti bajunya, melepas dalamannya dan menggantinya dengan sepasang travel underwear dan short legging yang tadi sempat ia sisihkan di dalam handbag–nya, lalu mengenakan kaos yang Borne berikan. "Sudah Deb?" tanya Borne dari balik pintu kamar mandi. "Iya, sudah." Borne melangkah keluar dari kamar mandi, mendekati Debby, lalu menatap perempuan yang sudah memejamkan matanya lagi. Tetapi kali ini tangan perempuan itu menggenggam wet tissue yang ia gunakan untuk membersihkan wajahnya. Borne meletakkan baskom berisi air hangat yang ia bawa dari kamar mandi. Mengambil selembar handuk kecil yang tadi diberikan oleh petugas hotel. Ia mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat, kemudian memerasnya. "Sini, aku bantu bersihkan." Ujar Borne seraya duduk kembali di pinggir ranjang Debby. "Ga bersih Ne kalau cuma pakai air. Tadi aku udah coba ke kamar mandi, cuma bisa pee aja. Ga kuat berdiri lama–lama untuk cuci muka." "Oh, ngapain pake make up tebal begitu kalau ga bisa dihapus? Mau ngerusak muka kamu?" Debby terkekeh. "Kan aku belum sempat bersih-bersih sepulang tugas. Kamu mau tolong bukain koper aku? Di tumpukan paling atas ada pouch warna silver." Borne berdiri, membuka koper Debby. Mengambil benda yang Debby maksud. Debby lalu mengambil make up remover, membasahi kapas dengan cairan pembersih itu, lantas mengusapnya ke wajahnya. Masih dalam keadaan terbaring. "Sini aku aja." Ujar Borne. Ia mengambil kapas dari tangan Debby. Mengusap dan membersihkan make up di wajah Debby dengan lembut dan perlahan. "Kamu istirahat aja Ne." "Iya. Habis ini aku tidur." "Maaf ya bikin liburan kamu berantakan." Borne hanya menggelengkan kepalanya. "Tadi aku lihat ada map dokumen di kopermu. Kamu bawa surat penting?" "Iya. Takut disalah gunakan Aldo." Borne mengatupkan bibirnya, mengangguk pelan. "Ne, kamu pernah benar–benar jatuh cinta?" Tanya Debby. "Kayanya belum." Jawab Borne santai. "Tau begini, aku —" "Udah bersih! Stop talking! Sekarang waktunya tidur oke!" potong Borne. Ia menghangatkan kembali selembar handuk, meletakkannya di kening Debby. Debby justru memberengut. "Aku belum selesai ngomong." "Aku ga minat dengerin cerita tentang mantan kamu itu. Kalau masih mau ngomongin b******n itu aku lakban mulut kamu!" Kesal. Borne beranjak, melangkahkan kakinya kembali ke kamar mandi. Sekeluarnya dari kamar mandi, ia mengambil sajadah tipis, menggelarnya, dan melaksanakan kewajibannya. Semua yang Borne lakukan tak luput dari pandangan Debby. Selesai melaksanakan ibadah malam, Borne naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. "Kamu sholat, Ne?" tanya Debby. "Iya, Deb." "Aku juga harusnya gitu." "I see." "Daddy dulu sempat tinggal di Bali setelah perceraian dengan istri pertamanya. Ketemu Mommy yang kerja di sana. Mommy muslim yang taat. Daddy jadi mualaf dan mereka menikah di Bali." "I see. Mereka masih di Bali?" "Ngga. Mommy kena kanker darah waktu aku umur lima tahun. Kami kembali ke Soho karena Daddy pikir pengobatan di London lebih baik. Tapi Mommy meninggal setahun kemudian." "I'm sorry." "Don't be." "And your Dad?" "Di Soho. Sendiri..." lirih Debby. Borne terdiam. Merasa ada sesuatu yang disembunyikan Debby. "Harusnya aku lebih sering pulang." lirih Debby lagi. Borne masih memilih diam, enggan mengusik hal yang diterkanya begitu pribadi bagi Debby. "Kamu ga nyuruh aku sholat, Ne?" tanya Debby kemudian. Borne tersenyum simpul, menolehkan kepalanya menatap Debby. "Daddy kamu suka nyuruh kamu sholat?" "Setiap aku pulang dan setiap beliau menghubungi aku pasti beliau bilang jangan lupa sholat." "Dan?" "Rasanya udah lama banget aku ga sholat." Senyum semanis madu kembali terbit di wajah Borne. "Deb, coba kamu pikirin itu ...." "Pikirin apa?" "Kenapa kamu berharap aku menyuruh kamu shalat? Mungkin kamu rindu berkeluh kesah pada Dia." Kali ini Debby sontak terdiam. Perkataan Borne terasa begitu tepat sasaran. “Ini prinsip aku ya … ga tau kalau orang lain. Sebagian orang ada yang berpendapat lebih baik ga shalat tapi ga pernah maksiat. Tapi menurut aku, ibadah dan maksiat itu ga bisa di-compare, apalagi didampingin. Semua orang pasti pernah melakukan yang namanya maksiat, tapi ga lantas menghilangkan kewajibannya beribadah. Dan sebagian orang, ada yang beribadah biar ga dosa. Padahal, harusnya ibadah itu dilakukan karena kita butuh. Kita butuh Tuhan kita. Dan nyatanya, Dia ga pernah ninggalin kita Deb. Selalu kita yang menjauh. " “Iya ....” "Good night, Deb." "Hmm." *** Paginya Debby bangun dalam keadaan yang lebih baik. Tetapi ia tak mendapati Borne di sana. Debby melirik jam di atas nakas yang memisahkan kedua ranjang mereka. 'Masih jam delapan, pagi banget dia berangkatnya.' Debby beranjak dari kasurnya ketika mendengar ada orang yang mengetuk pintu kamar. Room service yang mengantarkan sarapan untuk mereka. "Permisi Nona, kekasih Anda meminta layanan kamar.” "Oh ok. Grazie." Pemuda Italia itu melangkah masuk, meletakkan dua paket sarapan di atas meja kecil di kamar mereka, lalu melangkah kembali, pergi meninggalkan Debby. Tak lama, pintu kamar terbuka kembali. Borne datang dengan peluh yang sudah membasahi tubuhnya. "Morning. Sudah baikan?" "Udah. Makasih ya, Ne." "You're welcome!" "Kamu jogging?" Borne mengangguk. "Udaranya enak banget Deb." Debby tak menjawab, hanya memberikan senyumnya pada Borne. Pria itu lantas melepaskan kaosnya yang sudah basah begitu saja di hadapan Debby. Debby terkesiap menatap tubuh Borne yang begitu bugar dan atletis. Tubuhnya yang ideal, kekar, berotot tetapi tidak berlebihan. Ditambah warna kulitnya yang eksotis dan sentuhan peluh yang membuat pria itu begitu sexy di mata Debby. Bahkan tubuh Aldo tidak ada seujung kuku dari indahnya pemandangan tepat di hadapannya saat ini. Debby segera memalingkan wajahnya ketika kedua pasang manik mata mereka bersirobok. Entah Borne sadar atau tidak, ada semu merah yang hadir di kedua pipi Debby. "Kamu sarapan dulu aja. Aku mau mandi dulu. Habis ini aku mau jalan. Kamu masih mau istirahat?" Debby menggeleng pelan. "Aku ikut." "Udah kuat?" “Iya. Kuat.” "Kita jalan di sekitar sini aja hari ini. Atau kamu suka museum?" Debby menggeleng kembali, kali ini denganw wajah mengernyit yang membuat Borne terkekeh. "Aku juga ga begitu tertarik dengan museum. Kita ke Piazza Tasso aja ya? Jalan–jalan di sekitarnya. Banyak yang menarik kok." Kali ini Debby mengangguk tegas. "You really are like a puppy!" gumam Borne seraya mengacak-acak surai di puncak kepala Debby. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, meninggalkan Debby yang membeku di tempatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD