"Udah mau jam delapan," gumam Sultan lirih. "Menu baru ini enak banget ya Mas." Sultan menoleh, kekasihnya duduk di depannya, tengah menyantap desert baru di cafe tempat dia sarapan bersama Sarah. "Iya sayang, kalau mau nambah aja lagi," kata Sultan. Sarah menggeleng. "Gak ah, nanti aku gendut," jawabnya. Gadis itu kemudian minum. "Oh ya," ujarnya kemudian. "Ya, kenapa?" Jantung Sultan berdebar cepat. Ia yakin, Sarah akan membahas soal kontrak pernikahan. "Em, gimana, Rumaisyah mau tanda tangan?" tanya Sarah penasaran. Sultan terdiam, ia lalu menggeleng dengan lesu. Sarah berdecak. "Sudah aku duga, dia pasti mau nikah seterusnya sama Mas. Mana ada istri yang mau dicerai, pasti anak yang akan jadi alasan dia egois, kan?" Sarah benar-benar kesal. Sultan menghela napasnya p

