Tanggung Jawab

1016 Words
"Bagaimana bisa Rumaisyah hamil?" Kevan masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Aku tidak pernah menyentuhnya, bahkan ciuman saja dia selalu menolakku!" Sarah dan Sultan saling pandang. Keduanya tak melihat kebohongan di sorot mata Kevan. "Kalau bukan kamu ayah bayinya, lalu siapa? Kamu pacarnya," ujar Sarah. Kevan menggeleng. "Demi Tuhan, aku tidak pernah menyentuhnya. Mana berani aku, ibuku saja tidak setuju dengan hubungan kami." Kevan lalu menatap pada Sultan. "Maaf Pak Sultan, selama ini Rumaisyah hanya dekat dengan Anda," ujarnya. Mata Sultan membulat. "Kau menuduhku?" Pria itu langsung mencengkeram kerah kemeja Sultan bersiap memukul salah satu manager di perusahaannya. "Sabar Mas," ucap Sarah, ia menahan tangan kekasihnya. "Maaf Pak, tapi bukan saya," kata Kevan. "Mas, sabar," tegur Sarah membuat Sultan menarik diri. "Maksudnya, selama ini Rumaisyah kan sekretaris Pak Sultan, barang kali Pak Sultan pernah melihat dia dekat dengan siapa, lagipula, 3 bulan terakhir saya kan sibuk di cabang Kalimantan, Pak," kata Kevan. Sultan pun terdiam, Kevan benar, 3 bulan terakhir, kekasih Rumaisyah itu ia tugaskan mengawasi kantor cabang baru di Kalimantan, bisa dibilang pulang ke Jakarta hanya 2 atau 3 kali semasa itu. "Saya tidak pernah memperhatikan Rumaisyah selain urusan pekerjaan," kata Sultan, ya, itu kenyataannya. Sarah pun mengangguk, ia percaya kekasihnya karena Rumaisyah selalu mengeluh tidak cocok dengan Sultan yang selalu bersikap arogan pada sahabatnya itu. Kevan merasa lemas, duduk di kursi tunggu. Memikirkan tentang kehamilan Rumaisyah yang benar-benar mengejutkan baginya. "Pantas dia meminta putus dariku, apa dia berselingkuh selama kami LDR?" gumam Kevan. "Rumaisyah bukan perempuan seperti itu," ucap Sarah membela. "Aku percaya padanya." "Kalau tidak selingkuh lalu bagaimana dia bisa hamil?" tanya Kevan, tangan pria berkacamata itu mengepal, ada rasa kecewa di hatinya, dia mencintai Rumaisyah, meski ibunya belum memberi restu, itu tidak menghilangkan rasa cintanya pada gadis itu. "Apa dia menjadi korban pelecehan?" gumam Kevan. Sarah langsung menatap pada Kevan. "Pelecehan?" Kevan mengangguk. "Ya, Rumaisyah tinggal sendiri, dia mungkin keluar malam, atau ... entahlah, yang jelas demi Tuhan aku tidak pernah menyentuhnya." Kevan terus berpikir, sejak kapan Rumaisyah berubah. "Dia berubah sejak kepulanganku dari Kalimantan waktu itu." Sarah mengernyitkan dahinya. "Kepulanganmu? Kapan?" Kevan berpikir. "Mungkin satu setengah bulan, atau kurang dari 2 bulan lalu. Dia sakit, pendiam, dan saat itu minta putus, dia juga mau resign dari kantor." Sarah pun mengingat hal itu, tepat setelah kepulangannya, Rumaisyah sakit waktu itu, tak lama dia ajukan resign. "Kita harus tanya Rumaisyah, siapa yang menghamilinya?" Kevan pun bangkit, ia berniat menghampiri Rumaisyah, dia benar-benar emosi, merasa di hianati. "Tunggu!" Sarah menahan tangan Kevan. "Rumaisyah sedang hilang ingatan, dia bahkan lupa pada kita." Kini, Sarah pun berpikir, jika beban kehamilannya itu yang membuat Rumaisyah stress dan memicu amnesia setelah kecelakaan itu. "Ya terus aku harus bagaimana? Pacarku hamil dengan pria lain, dia mengkhianatiku!" ujar Kevan menahan emosinya. Hatinya sesak, cintanya serasa hancur. Sultan sejak tadi hanya diam, mendengar semua yang Kevan dan Sarah bahas. Pria itu mencoba mengingat barang kali Rumaisyah ada dekat dengan pria lain, tapi ia rasa tidak ada. Sementara Kevan, ia melirik pada Sultan yang diam saja sejak tadi. Entah kenapa hatinya curiga pada bosnya itu. Bukankah hal yang banyak terjadi antara bos dan sekretaris bermain api? Namun, ia tak mungkin menuduh bosnya sembarangan, ia hapal karakter bosnya, bisa-bisa dia dipecat. Saat ini, dirinya tak boleh kehilangan pekerjaannya, hutangnya masih banyak, adik-adiknya masih harus kuliah. Kevan merasa tak berdaya, ia tak bisa memperjuangkan cintanya dan sekarang, ia dipaksa kehilangan cinta itu karena ada darah daging orang lain yang tumbuh dalam rahim orang yang dicintainya. "Demi Tuhan bukan aku ayah bayi itu!" ujar Kevan, ia lalu bangkit. "Maaf, demi Tuhan bukan aku!" Setelah mengatakan itu, Kevan pun pergi meninggalkan Sarah dan Sultan. "Kevan!" seru Sarah, tetapi Kevan terus berlari dari tempat itu. Sarah menghela napasnya, ia lalu menatap pada Sultan. "Sayang," ucapnya. Sultan sedikit terkejut. "Ya," jawabnya. Sarah mengernyitkan dahinya. "Kamu kenapa Mas?" tanyanya curiga. Sultan menggeleng. "Gak, a-aku cuma sedang memikirkan Rumaisyah, ya coba ingat-ingat apa dia ada dekat dengan seseorang akhir-akhir ini," jawabnya. Sarah menghela napasnya. "Masalah ini, mau tidak mau nunggu Rumaisyah ingat semuanya. Mungkin nanti saat balik Jakarta dia ingat semuanya," ujarnya. "Iya sayang." *** Akhirnya setelah dirawat 3 hari di rumah sakit di Bandung, Rumaisyah sudah diizinkan pulang, kondisinya dan juga kandungannya sudah benar-benar baik-baik saja. Mereka pun kembali ke Jakarta. "Apa, sudah diisi orang lain?" Sarah kecewa karena saat membawa Rumaisyah kembali ke kontrakan gadis itu, rupanya Rumaisyah sudah pamit pada pemilik rumah, jadilah sang pemilik rumah menyewakan rumah itu pada orang lain. Padahal tadinya, Sarah harap rumah itu bisa mempercepat Rumaisyah ingat kembali masa lalunya. "Ya sudah, kita bawa Rumaisyah ke rumahku aja Mas," kata Sarah. "Ya sayang." Rumaisyah yang sejak tadi masih duduk di dalam mobil, menatap sendu pada Sarah yang sejak kemarin terus menjaganya. 'Mau sampai kapan aku pura-pura seperti ini, maafkan aku Sarah, ini semua demi kebaikanmu,' ucap Rumaisyah dalam hati. Sesaat kemudian, Sultan dan Sarah kembali ke mobil. Rumaisyah segera berpura-pura tidur kembali. "Kasihan Rumaisyah," ucap Sarah begitu ia masuk ke dalam mobil. Mendengar itu, Rumaisyah merasa sesak di dadanya. Ia semakin merasa bersalah pada sahabatnya itu. Bagaimana jika Sarah sampai tahu kebenarannya nanti, sekecewa apa dia nanti? Rumaisyah ingin menangis, ia pun semakin menunduk agar Sarah tak melihat air matanya. Akhirnya, Sarah membawa Rumaisyah tinggal di rumahnya. Lagipula dia hanya tinggal seorang diri. Ayahnya masih tugas di Jerman. "Kamu pulang aja dulu Mas, istirahat," ucap Sarah pada Sultan. "Apa tidak apa?" tanya Sultan. Sarah tersenyum. "Iya, maaf ya karena liburan kita gagal," ucapnya. Sultan memaksakan senyumnya. "Tidak apa, ya sudah aku pulang dulu, istirahat dan mengurus beberapa pekerjaan yang tertunda, besok malam aku menemuimu," ujarnya. "Iya Mas." "Istirahat ya sayang," ucap Sultan yang kemudian mendaratkan kecupan lembut di bibir kekasihnya. Sarah tak membalas kecupan itu, ia sama sekali tak ada gairah untuk cintanya. Ia masih pusing memikirkan nasib Rumaisyah. "Aku pulang sayang," ucap Sultan pamit. Sarah mengangguk. "Hmm, hati-hati." Sarah menatap sendu kepergian kekasihnya. Entah kenapa, hatinya gelisah saat ini, serasa ada yang mengganjal di hatinya, tetapi ia tak mengerti, kegelisahan itu tertuju pada siapa dan pada hal apa. "Bagaimana caraku mencari keadilan buat Rumaisyah, siapa yang harus tanggung jawab?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD